CERPEN: MISI

 

cerpen

MISI

            Mentari yang semakin meninggi, menjadikan bayang-bayang hampir terlelap menyatu bersamaan dengan bendanya. Panas menjadi maksimal, angin berbisik-bisik dibalik celah antar daun dan ranting. Terusirnya hawa dingin oleh sinar mentari itulah asal muasal angin, yang saat ini menyapa seluruh jagat dengan meminjam sapaan para daun yang bergoyang-goyang. Musim kemarau yang menarik bagi orang-orang yang telah memberikan harinya untuk suatu rencana. Debu dibuat mondar-mandir tidak jelas arah dan tujuannya.

 telolet....telolet.....telolet berisik Bus jurusan Surabaya-Malang, kombinasi teriakan kondekturnya, menjadi khas bahwa ada sebuah perjalanan, tujuan, pencapaian, bahkan rindu pun sedang dibungkus menjadi satu oleh benda besi yang menyemburkan asap menyebalkan dari kenalpotnya.

“kiri pak”, salah seorang penumpang telah mengambil keputusannya untuk suatu takdir yang sedang menantinya. “kiri kiri”, dalam volume yang lebih tinggi, tidak lain dari suara kondektur. Bus pun berjuang untuk berhenti dengan mengurangi gas dan menekan rem. Dengan bersepatu hitam, celana borju, kaos hitam dengan jaket levis abu-abu, bergerak menuju arah pintu yang ditunggu oleh sang kondektur.

“tadi yang bilang kiri?”,

“iya pak”, jawab Darso, nama laki-laki tersebut. Ia berhenti untuk tujuan Malang.

“ awas dek, kiri itu komunis, tadi adek ini bilang kiri, tapi apa betul memang adek penggemar sayap kiri”. Terbit senyuman dimulut Darso mendengar anekdot pak kondektur.

“saya non blok pak, bukan kiri juga tidak kanan, mengenai sayap kiri yang tadi disebutkan, benar kalau itu saya penggemar sayap kiri, bisa ayam, puyuh, burung dara dan segala jenis unggas yang bersayap, apalagi dikasih tepung crispy, bahkan yang kanan pun juga saya harapkan pak”.

“hahahaha......” tawa keras konndektur dilepas dengan spontan. “ayo.....”, sambil mengkode sopir untuk bergerak maju, karena penumpang telah mendarat, “ingat dek, revolusi bisa gagal apabila tanpa wanita”.

Bus melaju dengan perlahan lantas berubah cepat meninggalkan Darso dengan segala tujuannya, karena bus tersebut harus mengantarkan takdir para penumpangnya.

Darso berpikir sambil berjalan dan melihat-lihat sekelilingnya, seakan-akan mencari orang yang sedang menunggunya. Bagaimana mungkin bisa kondektur berkata seperti itu, apa mungkin ia dulunya adalah seorang mahasiswa jurusan pariwisata, dan saat ini menjalani profesinya sebagai kondektur. Tetapi bisa juga ia adalah aktivis, karena gandrung membaca buku-buku kiri, sampai-sampai pengetahuannya pun mengendap dalam alam pikirannya, suatu kondisi akan mengajaknya untuk menjadikan ide-ide kiri nya terekspresikan sebagai anekdot, seperti barusan.

Banyak hal yang menyelimuti pikiran Darso, dalam bentuk imajinasi, hal semacam itu adalah suatu yang biasa-biasa saja. Akan menjadi yang tidak biasa apabila imajinasi tidak muncul. Setelah berimajinasi dengan leluasa tentang konndektur, imajinasinya mengarah kepada kecemasan karena orang yang harusnya menunggunya ternyata tidak ada, sedangkan telepon pintarnya sedang mati, low battery.

Seandainya Darso tidak memberikan harapannya kepada kecanggihan teknologi seperti itu barangkali ia tidak akan mengalami kekecewaan dan kecemasan yang begitu nyata. Kondisi yang sedang ia alami terjadi karena adanya harapan. Pada akhirnya ia tidak bisa bergantung kepada benda yang mampu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh semacam itu.

Satu menit telah berputar, setengah jam telah berlalu, satu jam sudah sempurna, memasuki perhitungan jam kedua dalam penantiannya dan berselang dua menit hampir ketiga.

“woy.....Darso.....”, seseorang bercelana pendek diatas lutut berteriak dengan begitu semangatnya, yang diteriaki telah lemas lunglai dimakan panas, dilahap aroma bus kota, di koyak-koyak dalam penantian yang menutunya tidak jelas dan tidak akan menemukan suatu keajaiban. Darso sudah hampir menyerah, jiwanya telah berada di ujung paling puncak keputus-asaan. Tetapi seluruhnya, akhirnya telah di obati dalam dua kata teriakan “woy Darso”.

Seseorang dengan mata penuh cahaya dan gerakan penuh masa depan, wajah bersinar terang seterang hari itu menghampiri seseorang yang sedang meleleh.

“so, mana kok gak ada whatsapp, sudah saya tunggu pesan darimu, terakhir bercakap-cakap ucapanmu menunjukkan kalau dirimu sudah naik bus dari Surabaya, setelah itu aku pun kirim pesan berulang kali tetapi hanya centang satu, apa HP mu mati?”, pertanyaan Sugeng telah sampai ditelinga Darso, yang kemudian ia hanya menjawab dengan satu patah kata, yaitu “iya” kekusutan dalam penantiannya tergambar jelas dalam jawaban yang begitu padat tanpa gairah sedikitpun.

Sugeng adalah teman Darso yang sedang hidup di Malang, ia termasuk perantauan yang sedang menghampiri sedikit demi sedikit jati dirinya dengan mempunyai banyak status disini. Sekalipun pertama kali niat yang dituju adalah menjadi mahasiswa, kemudian karena situasi menjadikannya bertambah sebagai tukang kebun kampus, untuk memenuhi pembayaran UKT nya, dimana dengan tugasnya seperti itu biaya pendidikannya telah disubsidi seratus persen. Selain itu ia berstatus sebagai marbot masjid, dengan tugasnya yang satu ini ia mendapatkan tunjangan makan gratis sehari-hari, yang didapatkan dari ulur tangan warga sekitar sebagai ucapan terimakasih. Apabila disebutkan semua statusnya beraneka ragam, seperti aktivis mahasiswa, warga indonesia karena ia mempunyai KTP, warga komunitas keagamaan karena ia masuk sebagai anggotanya dibuktikan dengan kartu anggota.

“bagaimana Malang menurutmu? Menarik bukan?”,

“iya bisa jadi, akan aku jawab besok setelah mengetahui seluruhnya, tetapi menunggu barusan di Malang sama sekali menyebalkan”.

 “salah siapa coba? HP mu atau aku yang tidak mendapat kabar?”. Darso tidak menanggapi ucapan Sugeng untuk yang terakhir. Keduanya berjalan ke arah mentari terbenam dimana sudah bergeser banyak sekali ke arah barat. Sehingga bayang-bayang dari dua orang tersebut tampak memanjang dari timur sesuai dengan kecondongan sinar ke barat.

Beberapa waktu berlalu, setelah dari pemberhentian bus, akhirnya mereka telah sampai pada kontrakan yang ditinggali oleh Sugeng. Hampir memakan waktu dua puluh menitan. Sedikit merebahkan lelah dan resah akibat perjalanan yang hampir gagal sampai ke tujuannya. Mengatur nafas dan pikiran agar dapat seirama tanpa melibatkan kecemasan apapun atas peristiwa yanng telah dan akan terjadi di ruang dan waktu yang akan disinggahi.

Setelah itu semua, Darso baru mengucapkan kata pertamanya kepada Sugeng berkaitan dengan arah yang ia tempuh untuk pergi ke Malang sembari melihatnya mengaduk-aduk kopi yang telah larut didalam gelas berisi air mendidih dan gula.

“geng....”, ujar Darso,”apa hal yang paling menarik di Malang ini?”, jelas itu bukan inti dari pertanyaan Darso, tetapi sekedar pancingan, agar bisa memasuki apa yang ia inginkan dengan jalan Sugeng sendiri yang menjelaskan.

“ya banyak, semisal wisata, kerumunan pengendara, kedai-kedai kopi, malam yang gelap dan dingin, siang yang panas, dan......apa lagi ya?”. Sejenak percakapan dari dua orang tersebut berhenti, karena Sugeng kehabisan kata-kata untuk menjawab.

“bagaimana dengan, ya semacam nilai lebih dari kota ini?”.

“tidak ada yang lebih mungkin ya, apabila dibandingkan dengan Surabaya milikmu, dalam kondisi dingin para laki-laki dan wanita tumbuh seiring dengan kondisi cuaca tersebut menghasilkan kulit putih, rambut hitam sehat, sebagian wanitanya akan terlihat tergerai lurus”.

“ menarik itu, untuk yang rambut hitam tergerai lurus panjang, apakah mereka menggunakan skincare demi perawatan kecantikan dan juga pemutih kulit?” Darso langsung memberikan tanggapannya.

 “sekarang mana ada wanita alami tumbuh secara natural, membawa bentuk sejatinya dari dalam kandungan, hampir seratus persen memoles, meng-edit untuk tampil menawan menurut zaman, jadi skincare adalah tuntutan zaman bukan tuntutan kecantikan dan keindahan, ya situasi seperti itu telah menggeser bentuk-bentuk keindahan yang ada, dan seperti ini bukan terjadi di Malang aja Darso, jelas di tempatmu tinggal juga marak budaya meng-edit diri sendiri, bahkan diseluruh belahan dunia”. Panjang pula keresahan Sugeng, segera Darso lanjut menimpalinya.

 “benar sekali, sekarang kita tidak hanya menghadapi krisis keadilan tetapi juga krisis keindahan, dengan simbol wanita-wanita lebih gemar tidak mempercayai keindahan yang menjadi asal kejadiannya, putih kan tidak selamanya menarik dan indah, sawo matang pun juga berhak untuk mendappatkan predikat keindahan, ya geng aku mengira ini akibat keseringan nonton drama korea, soalnya wanita-wanita dan laki-laki korea berkulit putih, jika memang benar begitu orang seperti dirimu yang berkulit sawo matang tua tidak mempunyai harapan untuk mendapatkan nilai keindahan di mata mereka”. dengan begitu percaya dirinya Darso tidak segan-segan mengejek Sugeng dengan sebuah kenyataan yang ia miliki, “wah....bahaya, bagaimana kalau kita buat misi so, untuk menyadarkan para wanita agar mereka segera bertaubat dan mengakui segara kesalahannya, bahwa selama ini mereka telah terjerumus kedalam jurang keindahan yag salah, karena selalu menginginkan keindahan dari luar bukan dari dalam dirinya, selain itu mengingat kulit yang kamu miliki tidak mempunyai potensi ketertarikan mereka, sekalipun lebih cerah dari milik ku”.

“oke sepakat geng, kapan bisa kita mulai dan darimana, tidak mungkin kalau hendak memblokir situs-situs yang menayangkan film korea, karena permasalahannya bukan ada pada yang mereka tonton melainkan pola pikirnnya untuk tidak percaya kepada dirinya, kan begitu?”.

“iya....iya.....seperti itu memang, aku akan cuti dulu dalam pekerjaan untuk melakukan misi baik ini, mungkin satu minggu kalau kiranya tidak cukup akan aku tambah satu minggu lagi dan terus begitu sampai sukses, langsung kita adakan rapat besok pagi, untuk membahas rencana, strategi dan pola gerakan, sekarang sebaiknya istirahat supaya besok sama cerahnya dengan pagi hari”.

“oke sepakat”.

Mereka berdua pun bersepakat dengan berjabat tangan untuk menyelesaikan misi tersebut, demi keindahan sejati yang tidak boleh digeser dengan adanya keindahan dari luar yang lain. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan tidur lebih dahulu untuk menghadapi hari esok supaya lebih cerah. Meskipun tujuan dari Darso yang sebenarnya ke Malang adalah untuk berwisata, pada akhirnya, setelah mengalami perbincangan dengan Sugeng tanpa sengaja ia menemukan sebuah  misi yang harus diselesaikan.    

 

Tegalwangi, 29-03-2021

 Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "CERPEN: MISI"