PERKATAAN GUS DUR UNTUK BANSER
Dalam cerita
tutur yang populer,
tatkala Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenannya secara
inkonstitusional, sebab tuduhan bahwa beliau tersandung kasus bullogate dan bruniagate
tidak pernah terbukti. Tetapi MPR terus melaksanakan sidang istimewa tanpa
kehadiran sang Presiden, akhirnya beliau dilengserkan dari kursi
kepresidenannya.
Sontak hal
tersebut menimbulkan huru-hara dari simpatisan dan para pecintanya lebih-lebih
dari kalangan Nahdliyin. Dari berbagai kota mereka memenuhi Ibu kota demi
membela presiden Wahid itu. Mereka yang tergabung dalam pasukan berani mati
dibawah komando Gus Nuril. Tetapi pada akhirnya merekapun dapat diredam untuk
tidak membela Gus Dur mati-matian.
Sosok Kiai
besar putra dari seorang yang terhormat dan cucu dari seorang kharismatik dalam
sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia dilengserkan dengan cara menyedihkan
dan dinilai kurang ajar, cukup menjadi alasan untuk membelanya. Kiai yang sangat
dikagumi oleh kalangan muda era 80-90 an akan menjadi panggilan jiwa untuk
mereka dengan membelanya sekalipun nyawa taruhannya. Seperti itu suasana
psikologis pasukan yang rela mati. Gus Dur yang hendak dibela justru enggan
dibela, malahan menolak untuk dibela dan menyatakan kalau melihat Banser bisa
makan saja sudah membuatnya senang.
Begitu guyonan
beliau kepada Barisan Ansor Serbaguna (BANSER). Entah dimulai kapan kemudian
muncul istilah “berani mati, takut lapar”. Kalimat tersebut menarik untuk
didengar. Perihalnya terdapat pada keberanian Banser untuk menghadapi kematian
tetapi dibuat tidak berdaya dengan persoalan perut yang sedang mengalami
keroncongan, secara bahasa begitulah penafsirannya. Tetapi tidak bisa diartikan
bahwa Banser akan mudah digerakkan oleh siapapun dengan iming-iming
kebutuhan perut saja dipenuhi. Melainkan akan tetap satu komando untuk membela
agama dan bangsa, sebagai bentuk pengabdian.
Semboyan
tersebut menjadi unik dan lucu manakala diucapkan dalam kondisi apapun, bahkan
mereka yang bukan anggota pun ikut-ikutan untuk mengucapkannya manakala bertemu
dengan salah satu Banser, entah pada waktu nge-pam, bertemu dijalan, atau
ketika jagongan santai. “ini loh, pasukan berani mati takut lapar”,
sembari menyeruput kopi dan lanjut mengangkat pisang goreng yang disediakan.
Siapapun yang hadir akan diramaikan dengan gelak tawa. Setiap kali ada diklat
dalam bentuk apapun sang komandan dalam sebuah kesempatan bernyanyi-nyanyi,
sorak-sorak, juga akan nyeletuk, “pasukan berani mati, takut.....” kalimat
selanjutnya ia biarkan kosong supaya para peserta diklatlah yang meneruskan
“lapar” pekik seluruh peserta. Biasanya semboyan itu disampaikan setelah masuk
waktu ishoma dan konsumsi akan segera dibagikan.
Sungguh memang benar-benar anugrah, ketika Banser mengadakan acara apapun. Dapat dipastikan akan ada konsumsi yang begitu berlebih. Sehingga satu orang bisa membawa dua bahkan ada yang tiga sekali makan. Bahkan sebagian, setelah acara usai, ada yang membawa pulang sebagai berkat untuk keluarga dirumah. begitulah serba-serbi sahabat-sahabat Banser, barangkali ucapan Gus Dur adalah do’a yang istijabah, dengan begitu tidak pernah ada acara kemudian ada anggota Banser yang lapar.
Tegalwangi, 30-11-2020
Arif Prasetyo Huzaeri
Post a Comment for "Perkataan Gus Dur Untuk Banser"