”Pagar baja
gerakan kita,
bangkitlah
bangkit putera pertiwi,
bela agama
bangsa negeri”.
Mars GP Ansor
Secara umum, apabila kita cermati dengan baik, sebenarnya hanya terdapat tiga jabatan didunia ini. Sekalipun terdapat berbagai ragam jenis identitas dari perwuudan jabatan itu sendiri. Semisal polisi, guru, tentara, presiden, ketua RT, kepala dinas, gubernur, wali kota, tukang cukur, tukang bakso, petani, pedagang, mafia dan sebagainya daftar-daftar tersebut bisa dilanjutkan sendiri untuk diperpanjang. Tetapi dari sekian banyak identitas, pada hakikatnya mengarah untuk berpusat pada tiga jabatan, yaitu: kekayaan, kehormatan dan pengabdian.
Mulai dari yang pertama, yaitu kekayaan, bisa jadi
seluruh identitas dari pekerjaan manusia yang ada, mempunyai arah untuk menuju
kesana. Tidak hanya pedagang yang ingin meraup laba atau petani yang menunggu
hasil panennya, bahkan guru ngaji pun mempunyai kemungkinan untuk mengarah
kesana, yaitu kepada jabatan kekayaan sekalipun kondisinya menempati pada
wilayah orang-orang yang mencerahkan dan tercerahkan. Tidak hanya guru ngaji bahkan
selain itu juga. Jadi jabatan kekayaan itu adalah sesuatu yang memungkinkan
seseorang hanya untuk menghimpun harta bendawi saja, dengan beragam cara yang
berbentuk pada identitas masing masing individu.
Kedua, kehormatan, sudah lumrah kiranya seseorang akan
mendambakan kehormatan dari sesamanya. Begitu pula ketia ia memilih satu hal
pasti ada pertimbangan bagaimana kedudukan nya dimata orang-orang. Bahkan untuk
memilih merk HP saja akan mengambil dari golongan yang mewah, setidaknya
menengah ke atas. Hal tersebut dikarenakan didalam hati seseorang pasti
terdapat benih keinginan untuk dihargai atau dihormati. Begitu pula dengan
pekerjaan pasti terdapat pertimbangan pekerjaan apa yang terhormat dan disegani
dikalangan manusia. Seorang polisi apabila berbicara ia ingin selalu
didengarkan tidak ingin ada yang memotong apalagi membantah pembicaraannya.
Tidak hanya polisi tetapi apapun segala jenis pekerjaan nya, bahkan tukang
cukur pun bisa mengarah kesana, apabila ada rasa untuk tampil dihormati
dihadapan manusia dengan caranya masing-masing.
Ketiga, pengabdian, jelasnya seseorang akan mendapatkan
jabatan seorang pengabdi sejati apabila sudah tidak ada pertimbangan jabatan
kekayaan dan kehormatan. Karena yang terisi dalam benak seorang pengabdi adalah
‘anfa’uhum lin nas, memberikan manfaat kepada orang lain. Kondisi
tersebut terjadi ketika arah tujuannya kepada kebaikan, kebenaran dan keindahan
bersama dalam kehidupan. Tidak mempunyai arah terhadap individu. Hal tersebut
cukup sulit karena godaannya pun besar. Berupa keinginan akan kekayaan dan
kehormatan.
Seorang
pedagang (juga untuk selain pedagang) bisa jadi akan tergoda untuk mengumpulkan
harta sebanyak mungkin bahkan dengan cara apa pun. Setelah harta terkumpul
banyak ia bisa tampak terhormat dikerenakan telah mampu mengentaskan
permasalahan ekonominya sendiri sehingga ada peluang untuk membantu ekonimi
orang lain. Tetapi dari itu semua pedagang tersebut akan mendapatkan pilihan
akan jabatan nya. Apakah ia akan tetap menjabat untuk mencari kekayaan saja atau
beralih untuk mendapatkan kehormatan, dengan mencalonkan diri untuk nyaleg
misalnya, karena hartanya sudah cukup banyak untuk modal ataukah ia akan
mendermakan sebagian dari hartanya untuk di zakatkan dan di sedekahkan,
membantu memecahkan persoalan ekonomi masyarakat dengan modal pengalamannya
sebagai pedagang, membantu menyelesaikan pembangunan fasilitas umum seperti
masjid, jalan, dan jembatan. Itu semua adalah pilihan bebas, bisa memilih untuk
mendapat jabatan kekayaan, kehormatan atau pengabdian dan jenis pekerjaan
hanyalah caranya saja karena jabatan tersebut muncul dari dalam sanubari
seseorang bukan dari pakaiannya.
Dari kalangan Nahdlatul Ulama’, masyarakat umum akan lebih mengenal Banser NU daripada Ansor NU. Kaitannya ini kiranya saya tidak perlu menjelaskan perbedaan dari keduanya dalam tulisan ini barangkali dilain waktu saja, tetapi yang ingin saya kemukakan adalah kenapa masyarakat lebih mengenal Banser dari pada Ansor. Jelasnya diumpamakan dengan seorang anak yang memelihara rajawali yang tiap harinya ia berjalan keliling indoesia untuk memantau keadaan. Maka dapat diartikan bahwa anak tersebut adalah Ansor nya, rajawali tersebut adalah Bansernya yang terbang untuk mengawasi NKRI dan pastinya anak tersebut mempunyai orang tua yang mana adalah NU. Jadi Banser akan lebih dikenal karena ia sering terjun untuk terbang dikalangan masyarakat mulai menjaga/ngepam pengajian mengawal Kyai sampai berkolaborasi dengan polisi dan tentara untuk mengawal keutuhan NKRI. Kemasyhuran tersebut karena memang ia sering tersorot oleh media massa banyak atau oleh ormas-ormas yang lain. Jadi wajar saja apabila menjadi terkenal dan banyak diperbincangkan, mulai dari golongan yang sepaham maupun tidak mau mencoba memahaminya. Tetapi hal tersebut bukan masalah, karena memang sejak awal telah diniatkan untuk mengabdi, menghibahkan diri demi terciptanya negara yang aman sentosa.
Selain daripada itu seluruh atribut ke-banser-an adalah hasil jerih payah anggota atau setidak-tidaknya adalah hasil usaha lembaga untuk membelinya. Mulai dari sepatu, seragam, ikat pinggang, kabaret, kaos. Semua nya tidak ada subsidi dari negara, karena sebuah pengabdian layaknya menanam pohon. Maka mulai dari tanah, bibit serta perawatan haruslah diupayakan secara mandiri. Karena upaya tersebut adalah bentuk dari pengabdian. Sebagaimana dalam mars GP Ansor dikutip karya H.Mahbub Djunaedi,”Pagar baja gerakan kita, bangkitlah bangkit putera pertiwi, bela agama bangsa negeri”.
Hal yang perlu untuk diwaspadai oleh kalangan Banser, selain kepada sesuatu yang menjadi sebab untuk merongrong keutuhan NKRI, adalah sesuatu yang mencoba untuk merongrong keutuhan niat pengabdian kepada agama dan negara. yaitu hal-hal yang menggeser niat dari pengabdian menjadi niat akan kekayaan dan sesuatu yang berkaitan dengannya persoalan bendawi. Bisa juga menggeser niat hati akan pengabdian menjadi niat akan kehormatan, sehingga menjadikan Ansor dan Banser sebagai batu loncatan untuk mencapai derajat lain yang tinggi secara sengaja. Inilah yang mesti diwaspadai. Toh, sebenarnya jabatan menjadi Banser adalah jabatan tertinggi dengan syarat sebagai bentuk pengabdian murni.
Tegalwangi,
24-11-2020
Arif
Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Banser dan Amanah Pengabdian"