Menjalani Hidup yang Selalu Berubah

KEHIDUPAN

            Kita sama-sama tahu bahwa seorang Nabi akan disertakan dalam misi dakwahnya sebuah kemampuan adimanusiawi sesuatu yang diluar nalar manusia tidak dapat terjadi tetapi disisi seorang Nabi hal tersebut terjadi. Sehingga memberikan pertunjukan kepada umat dimasanya untuk merasa takjub dan menimbulkan pertanyaan dalam pikirannya masing-masing, bagaimana hal tersebut terjadi. Dikarenakan tidaklah mungkin untuk terjadi sesuai hukum pikiran manusia. Pasti orang yang dianugrahi kemampuan tersebut bukanlah orang biasa melainkan seseorang yang telah sengaja dikirim oleh Dzat yang maha segalanya. Barulah disitu mulai muncul bibit-bibit keimanan. Itulah yang disebut sebagai mu’jizat.

            Mu’jizat yang dianugrahkan oleh Allah kepada Nabinya selalu sesuai dengan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat yang merupakan objek dakwah. Kita ambil contoh, semisal mu’jizat Nabi Musa as. Beliau mampu merubah tongkat menjadi ular, yang kemudian menunjukkan kekalahan para ahli sihir yang diundang oleh fir’aun. Dimana tali dan tongkat para penyihir tersebut mampu diubahnya menjadi ular yang kemudian dilawankan dengan ular milik Nabi Musa as. Para ahli sihir tersebut yang memang mengerti dan memahami betul tentang ilmu sihir melihat bahwa kemampuan yang dimiliki Nabi Musa bukanlah trik-trik sihir semata, melainkan sebuah kelebihan luar biasa yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Terdapat suatu kekuatan maha hebat yang menyertainya. Dari sinilah mereka kemudian tertunduk dan mendapatkan hidayah, maka iman singgah didalam hatinya. Akibatnya mereka mendapatkan hukuman oleh fir’aun.

            Begitu juga dengan Nabi-nabi yang lain, Nabi Muhammad SAW dengan mu’jizat Al-Qur’annya telah menjadikan syair-syair Arab menjadi takluk, tetapi Al-Qur’an sendiri bukanlah syair dan Nabi bukanlah penyair. Dalam hal ini salah satu kesimpulan yang dapat ditarik adalah suatu kelebihan atau kehebatan yang dianugrahkan Allah kepada para Nabinya akan senantiasa menyesuaikan terhadap kondisi masyarakat pada zamannya. Hal tersebut berlangsung disebabkan untuk memberikan kemudahan jalan dakwah dan mu’jizat sendiri sebagai bentuk komunikasi sang Nabi dengan umatnya sehingga ia dapat diterima dengan mudah dan penuh penghargaan sebagai manusia biasa yang disisinya terdapat Tuhan yang maha luar biasa.

            Begitu juga dengan hari ini sangat penting kiranya untuk melakukan pembacaan secara terus menerus dan berulang-ulang kepada kondisi sekitar untuk melihat peluang. Kepakaran apa yang semestinya dimiliki dan mengidap kekurangan apa, sehingga dapat mengalami keterasingan. Terdapat empat modal yang semestinya dikembangkan dan dirawat oleh setiap manusia, yaitu: intelektual, mental, spiritual dan fisik sebagai manusia biasa bukan Nabi yang disisinya terdapat mu’jizat. Dari keempat hal tersebut sebenarnya dalam menjalani kehidupan salinglah berkaitan dan aktif seluruhnya. Hanya saja terdapat satu atau dua yang kemudian menjadi dominan dari yang lainnya. Itu terjadi karena kebiasaan sehari-hari yang lebih mengoperasikan salah satunya saja dan mengabaikan yang lain.

            Ada baiknya setelah mengetahui psikologi publik dan peta sosial hari ini untuk menggunakan salah satu dari keempatnya dengan memilih mana yang sesuai dengan konteks zaman. Apabila dulu dalam babakan sejarah indonesia dikenal dan dikenang mempunyai nenek moyang yang super tangguh dengan ilmu kanuragannya, dimana mendominasi dari keampuhan lainnya. Hal tersebut dikarenakan kondisi zaman menuntut untuk demikian mulai sistem pemerintahan, konstelasi politik, sosio-kultural dan ketertarikan individu yang mengarah kesana.

            Tetapi hari ini zaman telah berubah seluruh tatanan sosial berubah dan berbeda sama sekali dari kondisi terdahulu. Bukan berarti ada perubahan untuk memilih kepakaran secara total dengan meninggalkan segi kehebatan dan keampuhan dulu yang pernah dicapai. Tidak begitu, melainkan upaya yang harus dikerjakan tiak lain adalah mengaktifkan modal yang sesuai dengan konteks sosial. Hari ini zaman menuntut seseorang untuk mampu mengatasi problem sosial, dulu sebenarnya juga begitu tetapi sekali lagi kondisinya berbeda. Maka cara mengatasinya pun berbeda pula, kepakaran yang digunakan juga berbeda. Kalau dulu bahaya-bahaya yang bersifat supranatural bisa terjadi kapan pun dan dimanapun maka seseorang haruslah dilengkapi dengan perangkat atau sistem kekebalan tubuh yang berdaya untuk menolak serangan lawan atau bahkan menyerang lawan. Tetapi hari ini minat dan kegemaran orang akan kegiatan tersebut telah berkurang maka kepakaran yang dimiliki tidak begitu diperlukan.

            Saat-saat ini hal yang cukup mengganggu dunia sosial kita adalah wacana tesebarnya berita palsu, politik adu domba dan fanatisme golongan belaka. Oleh karena itu diperlukan perangkat lain yang mampu digunakan untuk membaca dan menganalisa kondisi sosial. Selain itu perangkat atau pengetahuan tersebut layaknya dimiliki oleh masing-masing individu dan diperhatikan oleh komunitas-komunitas, lebih-lebih komunitas keagamaan yang mempunyai dan mempersiapkan kader-kadernya untuk menyongsong masa depan. 

        Perangkat-perangkat tersebut dapat berupa pengetahuan tentang dinamika perkembangan kegamaan, sejarah ke-Indonesia-an, peta politik gerakan masa di Indonesia, kemampuan menganalisis sosial dan wacana yang tersebar di medsos dan berita, sehingga dapat dibedakan mana yang bersifat hoax dengan tujuan adu domba dan memecah persatuan bangsa dan agama. Bukan berarti kemapuan masa lalu ditinggalkan sepenuhnya, tidak. Melainkan ada atantangan terbaru yang juga harus digeluti. Memang manusia merupakan makhluk yang cukup bahkan sangat kompleks sehingga seolah dituntut akan segalanya. Maka haruslah dimiliki kepakaran yang sesuai zamannya tanpa meninggalkan kepakaran yang dulu pernah diraih. Sebagaimana para Nabi yang dianugrahi mu’jizat atau kepakaran yang disesuaikan dengan kondisi umatnya.      

 

Tegalwangi, 26-11-2020

Arif Prasetyo Huzaeri      

Post a Comment for "Menjalani Hidup yang Selalu Berubah"