Kita
sama-sama tahu bahwa seorang Nabi akan disertakan dalam misi dakwahnya sebuah
kemampuan adimanusiawi sesuatu yang diluar nalar manusia tidak dapat terjadi
tetapi disisi seorang Nabi hal tersebut terjadi. Sehingga memberikan
pertunjukan kepada umat dimasanya untuk merasa takjub dan menimbulkan
pertanyaan dalam pikirannya masing-masing, bagaimana hal tersebut terjadi.
Dikarenakan tidaklah mungkin untuk terjadi sesuai hukum pikiran manusia. Pasti
orang yang dianugrahi kemampuan tersebut bukanlah orang biasa melainkan
seseorang yang telah sengaja dikirim oleh Dzat yang maha segalanya. Barulah
disitu mulai muncul bibit-bibit keimanan. Itulah yang disebut sebagai mu’jizat.
Mu’jizat
yang dianugrahkan oleh Allah kepada Nabinya selalu sesuai dengan kondisi
sosial-budaya masyarakat setempat yang merupakan objek dakwah. Kita ambil
contoh, semisal mu’jizat Nabi Musa as. Beliau mampu merubah tongkat menjadi
ular, yang kemudian menunjukkan kekalahan para ahli sihir yang diundang oleh
fir’aun. Dimana tali dan tongkat para penyihir tersebut mampu diubahnya menjadi
ular yang kemudian dilawankan dengan ular milik Nabi Musa as. Para ahli sihir
tersebut yang memang mengerti dan memahami betul tentang ilmu sihir melihat
bahwa kemampuan yang dimiliki Nabi Musa bukanlah trik-trik sihir
semata, melainkan sebuah kelebihan luar biasa yang tidak dimiliki oleh manusia
biasa. Terdapat suatu kekuatan maha hebat yang menyertainya. Dari sinilah
mereka kemudian tertunduk dan mendapatkan hidayah, maka iman singgah didalam
hatinya. Akibatnya mereka mendapatkan hukuman oleh fir’aun.
Begitu
juga dengan Nabi-nabi yang lain, Nabi Muhammad SAW dengan mu’jizat Al-Qur’annya
telah menjadikan syair-syair Arab menjadi takluk, tetapi Al-Qur’an sendiri
bukanlah syair dan Nabi bukanlah penyair. Dalam hal ini salah satu kesimpulan
yang dapat ditarik adalah suatu kelebihan atau kehebatan yang dianugrahkan Allah
kepada para Nabinya akan senantiasa menyesuaikan terhadap kondisi masyarakat
pada zamannya. Hal tersebut berlangsung disebabkan untuk memberikan kemudahan
jalan dakwah dan mu’jizat sendiri sebagai bentuk komunikasi sang Nabi dengan
umatnya sehingga ia dapat diterima dengan mudah dan penuh penghargaan sebagai
manusia biasa yang disisinya terdapat Tuhan yang maha luar biasa.
Begitu
juga dengan hari ini sangat penting kiranya untuk melakukan pembacaan secara
terus menerus dan berulang-ulang kepada kondisi sekitar untuk melihat peluang.
Kepakaran apa yang semestinya dimiliki dan mengidap kekurangan apa, sehingga
dapat mengalami keterasingan. Terdapat empat modal yang semestinya dikembangkan
dan dirawat oleh setiap manusia, yaitu: intelektual, mental, spiritual dan
fisik sebagai manusia biasa bukan Nabi yang disisinya terdapat mu’jizat. Dari
keempat hal tersebut sebenarnya dalam menjalani kehidupan salinglah berkaitan
dan aktif seluruhnya. Hanya saja terdapat satu atau dua yang kemudian menjadi
dominan dari yang lainnya. Itu terjadi karena kebiasaan sehari-hari yang lebih
mengoperasikan salah satunya saja dan mengabaikan yang lain.
Ada
baiknya setelah mengetahui psikologi publik dan peta sosial hari ini untuk
menggunakan salah satu dari keempatnya dengan memilih mana yang sesuai dengan
konteks zaman. Apabila dulu dalam babakan sejarah indonesia dikenal dan
dikenang mempunyai nenek moyang yang super tangguh dengan ilmu kanuragannya,
dimana mendominasi dari keampuhan lainnya. Hal tersebut dikarenakan kondisi
zaman menuntut untuk demikian mulai sistem pemerintahan, konstelasi politik,
sosio-kultural dan ketertarikan individu yang mengarah kesana.
Tetapi
hari ini zaman telah berubah seluruh tatanan sosial berubah dan berbeda sama
sekali dari kondisi terdahulu. Bukan berarti ada perubahan untuk memilih
kepakaran secara total dengan meninggalkan segi kehebatan dan keampuhan dulu
yang pernah dicapai. Tidak begitu, melainkan upaya yang harus dikerjakan tiak
lain adalah mengaktifkan modal yang sesuai dengan konteks sosial. Hari ini
zaman menuntut seseorang untuk mampu mengatasi problem sosial, dulu sebenarnya
juga begitu tetapi sekali lagi kondisinya berbeda. Maka cara mengatasinya pun
berbeda pula, kepakaran yang digunakan juga berbeda. Kalau dulu bahaya-bahaya
yang bersifat supranatural bisa terjadi kapan pun dan dimanapun maka seseorang
haruslah dilengkapi dengan perangkat atau sistem kekebalan tubuh yang berdaya
untuk menolak serangan lawan atau bahkan menyerang lawan. Tetapi hari ini minat
dan kegemaran orang akan kegiatan tersebut telah berkurang maka kepakaran yang
dimiliki tidak begitu diperlukan.
Saat-saat ini hal yang cukup mengganggu dunia sosial kita adalah wacana tesebarnya berita palsu, politik adu domba dan fanatisme golongan belaka. Oleh karena itu diperlukan perangkat lain yang mampu digunakan untuk membaca dan menganalisa kondisi sosial. Selain itu perangkat atau pengetahuan tersebut layaknya dimiliki oleh masing-masing individu dan diperhatikan oleh komunitas-komunitas, lebih-lebih komunitas keagamaan yang mempunyai dan mempersiapkan kader-kadernya untuk menyongsong masa depan.
Perangkat-perangkat tersebut dapat berupa
pengetahuan tentang dinamika perkembangan kegamaan, sejarah ke-Indonesia-an,
peta politik gerakan masa di Indonesia, kemampuan menganalisis sosial dan
wacana yang tersebar di medsos dan berita, sehingga dapat dibedakan mana yang
bersifat hoax dengan tujuan adu domba dan memecah persatuan bangsa dan agama.
Bukan berarti kemapuan masa lalu ditinggalkan sepenuhnya, tidak. Melainkan ada
atantangan terbaru yang juga harus digeluti. Memang manusia merupakan makhluk
yang cukup bahkan sangat kompleks sehingga seolah dituntut akan segalanya. Maka
haruslah dimiliki kepakaran yang sesuai zamannya tanpa meninggalkan kepakaran
yang dulu pernah diraih. Sebagaimana para Nabi yang dianugrahi mu’jizat atau
kepakaran yang disesuaikan dengan kondisi umatnya.
Tegalwangi, 26-11-2020
Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Menjalani Hidup yang Selalu Berubah"