Mewaspadai Kejahatan Korupsi dan Terorisme

 


            Mulai hari ini dimana pun berada, marilah kita sama-sama untuk tidak lagi mencemaskan beberapa perilaku yang dianggap meresahkan dunia nyata maupun dunia maya. Berupa tindak kriminal kecil-kecilan, seperti pencopetan, maling ayam, ghasab sandal, ujaran kebencian di sosial media. Ya, jelasnya tetap harus ada penegakan hukum tetapi tidak perlu menjadi topik hangat, yang mana setiap penjuru kampung membahasnya seolah mereka, bagi yang memahami kasusnya, adalah narasumber dalam sebuah seminar tentang kejahatan. Biarkan saja polisi yang menggarap, masyarakat sekedar tahu saja tanpa memahami lebih dalam sampai pada tingkat membangun sebuah teori untuk membedah kejadian.

            Terkhusus untuk pengawalan narkoba, berbeda dengan kasus-kasus yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk hal yang satu ini kiranya, masyarakat sendiri lah harus mengawal beredarnya obat-obat terlarang. Bukan apa lagi? Masa depan bangsa bisa amburadul ketika obat-obatan ini dijadikan lauk pauk setiap harinya. Bunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa” hanya bisa menjadi slogan keren saja tidak berdaya apa-apa selain cita-cita luhur yang tidak akan pernah terwujud. Tetapi ya tidak perlu serius-serius amat mendalami topik ini sekedar tahu saja. Karena yang penting hanya ada pada tindakannya untuk mencegah.

            Perbincangan yang sudah layak untuk dibahas oleh masyarakat dan pantas, sekaligus menjadi pertanda adanya kecerdasan kehidupan bangsa berkaitan dengan tindak kejahatan adalah persoalan korupsi dan terorisme. Karena keduanya merupakan sisi yang cukup licin untuk di kaji. Bagaimana tidak?

Pertama, korupsi, mekanisme pelaksanaan membutuhkan ketekunan dan wawasan yang luas dilakukan oleh para ahli dengan penguasaan terhadap medan, beberapa aturan administrasi, kepiawaian dalam beretorika, mampu melakukan akting layaknya bintang film papan atas, mengetahui titik-titik keamanan, berani tanpa sedikitpun ragu-ragu. Oleh karena itu dapat dipastikan mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi. Berbeda dengan copet, semisal, jarang ditemukan pencopet yang sarjana, apabila ada dapat dipastikan ia sedang kepepet bukan untuk membangun masa depan dengan pekerjaannya itu. Kalau sedikit pintar mungkin waktu demi waktu akan mendirikan aliansi atau komunitas pencopet dengan melakukan pengkaderan.

Kedua, terorisme, tidak hanya diartkan sebagai kelompok yang nge-bom sana sini tetapi juga mereka yang bikin gaduh. Antara bikin gaduh dan nge-bom adalah sesuatu yang beda tingkatannya saja. untuk mendalami kasus ini membutuhkan kejelian yang luar biasa. Sebab apabila hanya melihat sekedarnya dari apa yang tampak saja, maka bisa dikatakan itu tidak melakukan teror, tetapi bisa jihad lah bahasanya. Karena mereka sebagai aktivis, menyengaja dengan menggunakan simbol-simbol agama sebagai kedoknya. Apabila ada unsur kesengajaan dalam menggunakan agama sebagai tameng, berarti ada kemungkinan lain yang hendak dicapai dan terorisme hanya sebatas pengalihan isu. Bisa ekonomi atau jabatan politik. Karena masyarakat gampang terbakar ubun-ubunnya apabila diseret pada topik agama. Perilaku seperti ini dilakukan oleh para pembesar, pentolan. Sulit dipastikan motif utamanya apa? Terus, apakah ada yang mendalangi dari belakang?.

Bagi yang tidak menyengaja sebagai simpatisan atau sekedar ikut-ikutan karena terdapat tanda kutip agama yang diusung, maka seolah ia terpanggil untuk membela dengan berbagai cara. Tidak sadar apabila hanya menjadi boneka. Menjadi pendukung fanatik kepada para pentolan-pentolan tersebut. Lebih licin lagi ketika masalah berkembang sehingga wacanapun berkembang, sulit untuk menangkap kebenaran pada bentuk sejatinya.

Seandainya masyarakat dikedai-kedai kopi, pematang sawah, emperan rumah membincangkan dua kejahatan tersebut, itu berarti IQ nasional sudah menanjak. Dengan garis bawah pembicaraan tidak menggunakan data yang dipaparkan lewat kanal media. Tetapi ada kemampuan untuk mencurigai kemungkinan-kemungkina dari beberapa peristiwa yang terjadi yang saling berhubungan satu sama lain. Semisal ada pejabat negara yang melakukan korupsi, berita tersebut ditayangkan lewat media, seluruh pelosok mendengar dan memahami kasusnya. Tidak lama berselang terjadi pengeboman disuatu tempat keramaian umum, maka pertanyaannya, dalam nada kecurigaan, apakah mungkin korupsi dan teror dilakukan oleh satu orang yang sama sebagai bentuk pengelabuan terhadapa massa agar cepat melupakan kasus korupsi?. Bisa juga apabila ada aksi massa dalam platform agama yang unjuk rasa kepada pemerintah, sejurus kemudian masyarakat menyuduti masalah tersebut dalam sebagai topik hangat negara, tetapi juga harus waspada terhadap lonjakan-lonjakan kebutuhan pokok. Karena masyarakat sedang terfokus kepada permasalahan, tiba-tiba bensin dinaik kan. Hal semacam inilah yang mesti sekiranya untuk diwaspadai.

Mereka bukan orang-orang biasa. Karena orang biasa hanya akan melakukan tindakan yang biasa-biasa saja dalam hal kebaikan atau pun kejahatan. Sebagaimana contoh sebelumnya tentang pencopet. Tetapi orang luar biasa akan melakukan hal-hal yang spektakuler, membuat seluruh isi negara bingung tiada ampun. Mereka lah para penjahat terbaik yang sebenarnya juga mendapatkan pendidikan terbaik pula. Jadi hentikan meng-ghibah maling ayam, pencopet karena mereka juga tidak akan di rekut jadi kader koruptor atau teroris. Karena sudah ada kader-kadernya yang di didik oleh pendidikan yang cukup tinggi. 

 

Tegalwangi, 18-12-2020

Arif Prasetyo Huzaeri      

Post a Comment for "Mewaspadai Kejahatan Korupsi dan Terorisme"