Untuk sebuah performa yang maksimal. Maka sebuah acara haruslah dipersiapkan dengan begitu matang, dipikirkan secara mendalam dan teliti, mengoptimalkan dari seluruh tenaga yang ada, disamping tenaga fisik juga tenaga finansial. Sekalipun meriah tidak harus dengan banyak biaya, tetapi kemampuan untuk menggunakannya secara proposional. Jika tidak begitu maka yang akan terjadi hanyalah hura-hura saja, banyak sensasi tapi tidak sarat dengan makna dan esensi.
Setelah
sang ketua telah terpilih, dilanjutkan dengan penyusunan struktur keanggotaan
mulai dari sekretaris, bendahara dan selanjutnya sampai selesai oleh ketua
terpilih dibantu dengan tim formatur. Jika semuanya telah selesai, hal yang
perlu dilakukan sebelum menjelang masa pengabdian adalah pelantikan. Karena
dari sana lah, segalanya dimulai. Pelantikan secara ringkas berisi janji atau
sumpah setia untuk menjalankan amanah yang dibebankan dalam organisasi.
Tetapi
ternyata tidak ujug-ujug kemudian tinggal pelantikan saja melainkan terdapat
perkara yang harus dipersiapkan dalam acara tersebut. Mengingat kondisi masih
hangat-hangatnya serta semangat membara didalam dada, terkadang atau kebanyakan
para aktivis dan organisatoris, tidak hanya di NU dan Banom-banomnya juga
dilingkungan pemerintahan, akan berfikir secara detail membahas bagaimana acara
pelantikan bisa berlangsung dengan khidmat dan penuh kesyahduan.
Dari
tingkat pengurus besar sampai ranting akan banyak melakukan hal-hal berikut,
yang dipersiapkan dan dibahas berkaitan dengan atribut yang dibawa dan
ditampilkan pada prosesi pelantikan. Pertama kali akan dibahas tentang pakaian
yang dikenakan. Seragam mana yang dipakai? Jika tidak ada pakaian yang
berseragam, maka bagaimana upayanya untuk diseragamkan? Soalnya tidak mungkin
khusyu’ dalam mengucapkan sumpah setia jikalau ada pemandangan yang mengganggu.
Lantas akan dicarikan solusi yaitu bisa dengan memesan seragam sebanyak jajaran
keanggotaan. Hal itu adalah salah satu dari topik pembahasan.
Lebih
dari itu, supaya dapat diakses masyarakat luas maka perlulah untuk dipublikasi,
sehingga butuh fasilitas seperti wartawan, beberapa sosial media online seperti
Facebook dan Instagram. Tidak kalah penting berkaitan dengan seremonial,
susunan acara yang hendak dicantumkan apa saja? Mulai dari pembawa acara,
pembacaan ayat al-qur’an, sholawat, sambutan-sambutan, do’a atau mungkin hendak
diselingi dengan tausiyah. Dari kesemuanya itu, merupakan opsi-opsi yang
bisa dipilih dan sebagian adalah kesemestian untuk dipilih. Karena tidak
seluruhnya wajib, melainkan hanya sebagian sehingga kiranya bisa dilihat memang
sebagai benar-benar acara pelantikan.
Masih
termasuk dari hal yang signifikan adalah tentang tema. Biasanya tema tersebut
akan dipasang di banner sebagai background, para undangan akan membaca
dan memahami bahkan menerka maksud dari pengurus yang hendak dilantik. Biasanya
dan pada umumnya tema itu dibentuk dari semangat awal kepengurusan akan sebuah
cita-cita di masa depan yang dengannya organisasi dibawa untuk menyongsongnya.
Tema secara konseptual dibentuk dari hubungan komunikasi timbal balik antara
cita-cita luhur Nahdlatul Ulama dan GP Ansor secara khusus dengan ide, gagasan,
pengamatan dan pandangan dari pengurus pada zamannya. Semisal cita-cita
mengawal islam ahlussunnah wa al-jama’ah, menjaga NKRI, atau pada
intinya “bela agama, bangsa, negeri” (kutipan mars GP Ansor). Dari sinilah kata
demi kata akan mulai disusun. Makna demi makna akan terlihat sesuai dengan
maksud atau cita-cita pengurus yang diharapkan.
Juga
dalam kategori penting adalah pemilihan tempat atau lokasi acara. Tidak sekedar
pokok pilih dan kemudian berjalan selesai dengan meriah, melainkan harus
mempertimbangkannya dengan matang. Secara geografis lokasi berada di arena yang
menarik, secara susunan ke-alam-an harus dimungkinkan tidak ada gangguan dari
cuaca dan lingkungan. Tidak mungkin memilih tempat yang disekitarnya berada
peternakan sapi, ayam dan bebek. Karena jelas akan mengganggu sirkulasi
pernafasan seluruh undangan dan pengurus dan kerabat yang bekerja. Juga tidak
mungkin berada dilokasi yang tergenang air akibat curah hujan yang tinggi.
Secara sosiologis tempat harus dan mudah diakses oleh orang secara umum, karena
acara seremonial seperti pelantikan, pengajian, sholawatan dan sebagainya
adalah bentuk dari adanya keberadaan diri. Jadi jika kemudian berlokasi di
daerah yang sepi penduduk dan susah di akses, dapat memberi kesimpulan bahwa
sebenarnya keberadaannya adalah tidak eksis. GP Ansor sebagai banom NU yang
memposisikan diri sebagai komunitas keagamaan juga lembaga keagamaan dan
kemasyarakatan, maka kiranya penting jika menampilkan keberadaan adalah bentuk
dari upaya syiar islam itu sendiri, yang dilakukan secara institusional.
Pada umumnya terdapat dua kategori dalam memilih lokasi, pertama berada ditempat-tempat umum, seperti mall, swalayan, hotel, tempat wisata, rumah makan. Kedua berada di kandang sendiri, seperti kantor NU, kantor GP Ansor atau kantor-kantor yang lain, juga bisa di Pesantren-pesantren. Dimana lembaga pendidikan tersebut merupakan basis terkuat dalam kaderisasi. Hampir seluruh Pesantren se-Indonesia berafiliasi dengan NU, sekalipun tidak seluruhnya dari jajaran Kyai-nya adalah bagian dari NU secara struktural, kendati demikian tidak diragukan lagi adalah bagian dari NU secara kultural. Dari kedua tempat tersebut mempunyai beberapa alasan yang bisa digunakan untuk menyetujui sekaligus tidak menyetujuinya. Melihat kepada kondisi sosial-historis dari sebuah zaman maka perlu menggunakan prinsip yang ketiga, yaitu dalam tinjauan strategi.
Hari-hari ini
NU dan seluruh banom, lajnah, dan lembaganya mendapatkan posisi sebagai mitra
daripada pemerintah, yaitu untuk mengawal NKRI, demi tercapainya baldatun
thoyyibatun wa rabbun ghafur. Berbeda di masa orde baru, NU mendapat
tekanan yang hebat dari pemerintah. Sehingga aksesnya didunia sosial sangat
terbatas. Bahkan menurut cerita dari beberapa senior yang pernah menjabat di
era tersebut, ketika mengadakan acara sekalipun hanya untuk rapat harus secara
sembunyi-sembunyi. Jika tidak maka bisa dibawa ke koramil dengan alasan tidak
ada izin atau apapun yang tidak masuk akal.
Sedangkan pada era sekarang NU mendapat tempat yang leluasa dan akses kepada masyarakat tanpa ada sekat. Kondisi yang sangat memungkinkan untuk memperteguh islam ahlussunnah wa al-jama’ah sudah terbuka lebar. Dengan untuk suatu pemilihan lokasi ada baiknya jika dilakukan secara terang-terangan atau ditempat umum. NU dan seluruh anak-anaknya sudah waktunya untuk keluar dari kandang-nya, yaitu kantor dan pesantren.
Sebagai suatu catatan sejarah, dakwah nabi ketika masih
belum mempunyai kekuatan masa yang memadai, beliau melakukannya secara
sembunyi-sembunyi. Tetapi setelah mempunyai kekuatan belaiau berdakwah secara
terang-terangan. Begitu juga dengan NU, dakwah atau syiar islam yang dilakukan
adalah dengan mengawal, memperkuat islam ahlussunnah wa aljama’ah an-nahdliyah
dimasyarakat dan menjaga dari rongrongan faham yang tidak dibenarkan dari
aliran-aliran lain. Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan bahwa NU
adalah bagian dari masyarakat, bangsa dan negara. disimbolkan adanya suatu
acara seremonial ditempat-tempat umum.
Tegalwangi,
19-01-2021
Arif
Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Persiapan Pelantikan GP Ansor"