TETES MATA
aku adalah air dari sebuah mata indah
berupa jelmaan dari seluruh macam derita
kelopak matanya telah merawatku agar tidak tumpah
hingga musim hujan tiba
agar tak seorang pun mengetahuinya
karena lewat tetesan hujan pula
aku akan dilepas untuk menetes
menyatu dengan hujan yang membawaku ke arah lebih rendah
menelusuri selokan demi selokan
hingga mengantarkanku ke sungai yang mengarah ke laut
sampai suatu ketika petani garam mendapatkanku
membuatku menjadi kristal-kristal untuk dijual
memberikan label sebagai garam beryodium
padahal aku adalah tetes mata
dilumat menjadi satu dalam makanan untuk mendukung kecerdasan
tetapi kenapa kecerdasan-kecerdasan tersebut tidak merasakan
bahwa ada derita yang mereka kunyah memanggil untuk dibebaskan
para ahli pikir tidak pernah tergugah bahwa garam itu adalah air mata
sehingga mereka hanya berpikir akan kebahagiaan
bagaimana mungkin kebahagiaan dapat terjadi tanpa berdampingan dengan penderitaan
Prarifase
Jubung, 12-06-2021

Post a Comment for "SAJAK: TETES MATA"