PERGESERAN MAKNA “JAYA” DALAM KEBUDAYAAN JAWA

 


PERGESERAN MAKNA “JAYA” DALAM KEBUDAYAAN JAWA 

Ada satu fenomena yang khas didalam sistem tanda yang digunakan oleh masyarakat Jawa era sekarang. Bila kita perhatikan secara seksama masyarakat pedesaan yang memiliki toko sembako, pupuk, bahan bangunan dengan bangunan permanen didepan rumah atau di pasar. Secara mayoritas akan memberikan nama pada tokonya tersebut dengan cara adanya gabungan opsi antara nama pemilik, do’a dan di akhiri dengan kata “jaya”. Contoh Slamet Jaya Awet Jaya untuk toko bangunan, Barokah Jaya untuk toko sembako, Makmur Jaya untuk toko pertanian, elektrik jaya untuk toko peralatan listrik. Sekalipun tidak seluruhnya nama toko berakhiran “jaya” tetapi kebanyakan menggunakan kata tersebut sebagai akhiran.

Dalam penggunaan nama apapun, entah untuk anak ataupun usaha, dari kebanyakan orang akan menggunakan kalimat yang berupa permintaan agar terwujudnya cita-cita. Sebagaimana contoh yang telah tersebut diatas, ambil satu, Slamet Jaya semisal, dapat diperkirakan bahwa pemilik toko tersebut menginginkan bahwa seluruh kehidupannya diliputi dengan keselamatan tidak hanya sekedar mata pencahariannya saja, melainkan juga terhadap segala ikhtiar yang dilakukan termasuk pula hasil yang dicapai dan diberikan untuk menafkahi anak-anaknya.

Didalam penamaan tersebut menggunakan dua kata, yang pertama sebagai bentuk do’a kemudian di akhiri dengan jaya. Terdapat pengaruh yang telah masuk lantas muncul dalam bentuk pembahasaan sehari-hari. Diantaranya adalah pengaruh agama islam sehingga muncul kata “barokah” karena dalam kebudayaan jawa sebelum islam datang kata tersebut jelas tidak dipergunakan. Secara makna diartikan dengan: bertambahnya kebaikan dengan kebaikan.

Kemudian sebenarnya apa arti dari “jaya” sendiri? Secara ringkas artinya adalah “menang”. Ketika dalam perlombaan lari karung pada peringatan HUT RI anak dari pak Budi memenangkan juara pertama. Artinya anak dari pak budi sedang berjaya lomba lari karung. Begitu pemaknaan dari kata tersebut. Tetapi hari-hari ini kata “jaya” tidak banyak dipergunakan untuk percakapan sehari-hari. Bahkan sebagaimana kita temukan, hanya digunakan untuk memberi identitas terhadap nama bangunan toko saja. Anak-anak di Jawa, sedikit, entah ada atau tidak diberi nama dengan ada kata “jaya”-nya, sepertinya yang saya jumpai hampir tidak ada.

Berbeda dengan era sebelumnya, yaitu pada zaman Majapahit ke belakang. Para raja-raja jawa pasti mendapat gelar dengan nama yang menggunakan kata jaya, semisal: Prabu Wijaya sebagai pendiri Majapahit, Jayakatwang raja di Daha Kediri, para Brawijaya sebagai sebutan dari keturunan yang memangku kekuasaan di kerajaan Majapahit. Mulai dari Brawijaya ke-1  dan seterusnya.

Tida sekedar penamaan saja, melainkan terdapat pemaknaan yang menunjukkan adanya suatu ciri khas dari kebudayaan Jawa pada wakktu itu. Dimana orang Jawa senantiasa dikenal berwatak keras, tidak bisa direndahkkan sedikitpun. Apabila orang Jawa bertemu dengan etnis lain, selain Jawa, di suatu lorong jalan, lantas ia berada lebih tinggi dari posisi si Jawa tersebut. Maka akan ditantangnya berkelahi mati-matian.

Sudah masyhur cerita tentang duta Cina yang menghadap raja Singosari Kertonegoro yang dipotong kedua telinga dan hidungnya. Ini menunjukkan tabiat asli dari orang Jawa yang dikenal keras. Menyiksa seorang utusan berarti harus siap menerima resiko berhadapan dengan negara tersebut. Oleh karena itu banyak adagium dalam bentuk nasihat dalam bahasa Jawa yang digunakkan untuk mengikis watak semacam itu, seperti “ojo dumeh” artinya jadi orang janganlah sombong. Jelasnya mulai muncul petuah seperti itu dimasa islam sudah berkembang pesat dan pengaruhnya lebih dominan ditandai dengan didirikannya kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Sehingga memungkinkkan adanya pergeseran.

Karena pada sebelumnya orang Jawa hanya mengenal kejayaan atau kemenangan. Dalam bahasa setempat tidak dikenal terminologi “ngalah”. Ungkapan tersebut baru dikenal setelah era Islam. Sesuai penggunaan tata bahasa Jawa berimbuhan awal dengan “ng” diartikan sebagai menuju. Sama halnya dengan kata “ngidul” artinya menuju ke kidul atau selatan. “ngaku” artinya menuju ke aku, yaitu ketika seseorang menunjuk dirinya akan suatu rahasia. “Ngajar” artinya menuju ke ajar, yaitu melakukan suatu ajar atau pengajaran.

Sedangkan “ngalah” artinya menuju ke Allah, artinya tawakkal. Setelah seluruh daya upaya, tenaga dan pikiran dikerahkkan secara totalitas tidaklah seseorang harus menerima kemenangan atau kejayaan saja, apabila tidak menggapainya kemudian tersinggung dengan kondisi yang terjadi. Tetapi juga harus menyerahkannya kepada Allah dan menerima kemungkinan-kemungkinan yang ditentukan antara keberhasilan dan kegagalan. Ikhtiar pribadi hanyalah media atau jalan saja untuk menuju kepada suatu yang akan terjadi dimasa mendatang dan bukan penentu atas masa depan.

Toko-toko yang diberi nama oleh pemiliknya dengan menampilkan atau memberi akhiran kata “jaya” seperti yang telah disebut berbagai puspa ragamnya. Sudah kehilangan atau mengalami pergeseran yang banyak daripada penggunaannya dengan mengacu kepada makna aslinya. Dimana dulu tidak bisa tidak harus menang atau berhasil. Tetapi sekarang sekalipun tetap digunakan, orang Jawa akan senantiasa bertawakkal atau “ngalah”, yaitu memasrahkkan segala urusannya kepada Allah SWT.

 

Tegalwangi, 28-12-2020

Arif Prasetyo Huzaeri                        

Post a Comment for "PERGESERAN MAKNA “JAYA” DALAM KEBUDAYAAN JAWA "