Haji dan Perang Dagang Internasional

 

haji

HAJI DAN PERANG DAGANG INTERNASIONAL

        Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menerangkan bahwa Xiaomi melakukan perlawanan dengan menolak tuduhan dari Amerika Serikat yang menyatakan kalau perusahaannya tidak terafiliasi oleh militer China, sehingga ia ingin keluar dari daftar hitam (black list) investasi karena jelas hal tersebut tidak menguntungkan bisnisnya. Karena 75% dari hak suara perusahaan dipegang oleh pendiri mereka, Lin Bin dan Lei Jun tanpa keterkaitan militer China. Xiaomi juga mengatakan bahwa sebagian besar pemegang sahamnya adalah warga Amerika.

Menarik untuk kita lihat, kewaspadaan Amerika agar rivalnya tidak terlalu mengepakkan sayapnya terlalu jauh berhasil mencurigai Xiaomi. Pertanyaan selanjutnya apakah benar atau tidak? Tidak begitu berguna untuk kita perhatikan jawaban yang paling valid sesuai dengan kenyataannya. Tetapi yang perlu membuat ketertarikan kita adalah sering kali persaingan dagang antara dua bangsa tersebut selalu dimenangkan oleh China dan menggetarkan Amerika, lebih-lebih di Indonesia. Sekalipun Cina mendapatkan label negatif, mulai dari produknya yang tidak bagus sampai ideologi komunis yanng di usung untuk memberikan citra buruk kepada negara tersebut.

Meskipun produknya berkualitas rendah, dalam dunia bisnis yang terpenting bagaimana prouk laku terjual dalam kuantitas yang banyak. Nyatanya kerap sekali produk China mengejar untuk mengikuti gaya pasar dan terkejar, hari-hari ini dapat kita lihat dari Xiaomi. Jika produk China mendapatkan ruang yang banyak di Indonesia daripada produk Amerika maka ini dapat menjadi tanda bahwa Indonesia dalam peta politik internasional berada dalam barisan China. Sampai disini saya menjadi teringat perkataan Bung Karno,”Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”. Kata tersebut jelas bukanlah sekedar kata-kata melainkan bentuk perlawanan sesuai dengan konteks zamannya, tetapi jangan tergesa-gesa untuk memberikan penilaian sebagai bentuk keberpihakan.

  Ketegangan dari dua bangsa tersebut juga berimbas kepada negara-negara dalam barisan keduanya, termasuk Indonesia. Tersebar berita yang cukup banyak, berkaitan dengan haji. Mulai dari lonjakan covid-19, dana haji dibuat untuk membiayai infrastruktur, utang yang belum terbayarkan atau barangkali hal-hal lain yang dapat diteruskan. Terdapat sebuah analisis yang cukup unik akibat adanya perang dagang yang kemudian menjurus kepada persoalan haji di Indonesia. Meskipun tidak dapat dijadikan pegangan dan acuan dalam penilaian, tetapi menempati wilayah yang masuk akal, bisa kita simak berikut.

Indonesia sebagai negara yang dikenal dekat dengan China sedangkan dalam tatanan politik internasional, China dan Amerika, saling berhadap-hadapan dalam pentas persaingan dagang. Tetapi Amerika mendapatkan sikap keberpihakan dari negara Saudi Arabia, dimana negara tersebut sebagai pusat dari negara-negara Islam seluruh dunia, pasalnya hanya di sanalah dapat ditunaikannya rukun Islam yang ke lima, yaitu Haji, tepatnya di kota Mekkah Al-Mukarromah. Sebagai tuan rumah umat islam sedunia maka mempunyai wewenang untuk menerapkan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan pelaksanaan haji.

Karena ia dalam kendali Amerika, bahkan diistilahkan dengan boneka terbesarnya, maka negara adidaya tersebut mampu mengintervensi Arab untuk menerapkan kebijakan mana yang dianggapnya menguntungkan dan menjatuhkan lawannya. Indonesia masuk dalam golongan yang tidak menaruh keberpihakannya kepada Amerika, oleh karena itu, maka persoalan haji untuk jamaah dari Indonesia tidak memperoleh kuota atau dengan kuota yang kecil, tetapi tidak dengan menggunakan alasan tersebut, jelas itu adalah bumbu dapur yang tidak sembarang bisa dibuka didepan publik, maka dicarikan alasan yang rasional, seperti halnya adanya lonjakan covid-19, dengan demikian haruslah mengutamakan keselamatan, tidak mungkin akan mengambil alasan dengan mengatakan bahwa Indonesia tidak pro dengan Amerika atau jangan sampai ketahuan rahasia adanya intervensi tersebut, bukankah tidak akan dikutuk oleh umat Islam sedunia.

Rahasia harus menjadi rahasia, artinya jangan sampai terbuka secuil pun. Ketika seluruh bukti telah di amankan maka sebuah analisis hanya tinggal menjadi bayang-bayang yang kurang jelas bentuknya. Di atas hanya merupakan sebuah analisis yang kurang mempunyai bukti kuat untuk memperoleh pembenaran, sehingga bersifat konspiratif. Tetapi ada baiknya untuk kita mempelajari dan mencermati hubungan ekonomi-politik dunia dengan kebijakan-kebijakan domestik yang diterapkan sekedar sebagai bahan ajaran dan pegangan untuk tidak tergesa-gesa mengikuti sebuah pendapat yang hanya bersumber sepihak. Karena terkadang, seperti yang sudah disebutkan, mempunyai alasan untuk dianggap masuk akal.

Terakhir sekedar sebagai pertanyaan jika dalam perang dagang (seperti kasus Xiaomi dan lain-lain) seolah memberikan pembenaran kepada uraian dari analisis perihal haji, maka kira-kira apakah seandainnya perang dagang tersebut tidak terjadi, maka apakah realita akan tetap sama dalam kondisi covid-19atau tidak adanya dalam masalah kuota haji?

 

Arif Prasetyo Huzaeri

   Tegalwangi, 12-06-2021

Post a Comment for "Haji dan Perang Dagang Internasional"