Kata pada
dasarnya adalah replika dan representasi dari makna. Oleh karena itu seseorang
yang berkata, artinya mengirimkan sebuah makna untuk difahami lawan bicara,
menggunakan kata yang telah disepakati maknanya. Seperti kata “rumah” mempunyai
makna tempat tinggal atau kediaman dari seseorang, begitu pula orang inggris
maknanya sama tetapi kata yang digunakan berbeda, yaitu “house”. Kerap kali
seseorang yang sedang mengutarakan makna dengan bantuan kata yang terucap tidak
mencapai apa yang sedang dimaksud, tidak mengalami kesepahaman. Padahal kata
yang digunakan sudah benar menurut adat dan tata bahasa. Ambil contoh manakala
ditanya lewat telepon, “ada dimana? Ada di rumah”. Kemudian si penanya
berkunjung karena yang dituju ada diruma. Tetapi tidak didapati, sedangkan
orang yang dituju berada di kebun belakang rumah.
Maksud dari orang yang dikunjungi atas makna rumah ialah dia tidak kemana-mana, sayangnya kata rumah difahami harus ada didalam bangunan yang disebut rumah. Ini adalah contoh bahwa sebuah kata ternyata gagal mewakili makna. Didalam kajian bahasa sebuah kata akan dipilah-pilah sesuai dengan penggunaannya agar dapat tersusun dengan benar tatkala berbarengan dengan kata-kata yang lain. Semakin banyak kata yang tersusun maka kemungkinan kesetakfahaman akan semakin banyak pula. Salah satu bagian dari spesifikasi atau kedudukan kata ditengah-tengah kalimat bisa berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, kata depan, kata seru, kata ganti, kata sambung, kata keterangan dsb.
Dalam
hal ini apabila kita befikir lebih njlimet untuk kata “cinta” dalam
pengamalan sehari-hari seseorang sebenarnya menggunakannya dalam suatu makna
berdasarkan kata apa? Jelas dari seluruh jenis kata di atas apabila ditelusuri
lebih lanjut akan medapatkan posisi dalam penggunaan kata “cinta” sebagai
pengamalan sehari-hari. Tetapi kali ini, berdasarkan kebermaknaannya, kata “cinta”
akan tampak bermakna jika ditelusuri dari tiga jenis kata saja, yaitu kata
kerja, kata sifat dan kata benda. Meskipun sebenarnya kata “cinta” sebagaimana
menurut Candra Malik dalam unggahan di akun Twitternya bahwa,
“mencintai
itu kata kerja
dicintai itu kata sifat
tapi cinta bukan kata benda
cinta itu kata hati”.
Kalau dipukul seperti itu jelas
jawabannya. Ada butuhnya untuk mengungkap kepalsuan dari modus kata cinta dalam
keseharian. Untuk itu perlu uraian makna cinta menurut tiga jenis kata tersebut
sebagai suatu konsep.
Pertama,
kata benda, apabila cinta dimaksudkan menurut kata benda, maka seseorang seperti
sedang menemukan setangkai mawar merah indah dan segar yang masih menancap
didalam tanah. Kemudian ia bermaksud untuk mengambil alih keindahan tersebut
agar menjadi miliknya yaitu dengan cara memetik. Bunga mawar yang hidup
ditanah, apabila telah dipetik maka kelopaknya satu persatu akan berguguran,
hingga akhirnya tiada. Begitu pula dengan orang yang mencintai dalam pengamalan
kata “cinta” tersebut berdasarkan kata benda ia memiliki cinta tersebut lantas
menjadikannya sirna perlahan demi perlahan seiring bergulirnya waktu. Tidak ada
pembaharuan cinta yang telah usang agar kembali menyala. Memang ia adalah
seseorang yang dulunya mencintai tetapi sekarang tidak lagi. Hal tersebut
dikarenakan “cinta” yang digunakan sehari-hari adalah kata benda yang tidak
mempunyai dimensi waktu, sebagaimana kata kerja. Apabila didapati hubungan
tetap berlangsung maka dapat dimungkinkan ada faktor lain yang menjadi alasan. Pada
hakikatnya tidak terdapat cinta yang nyata.
Kedua,
kata kerja, cinta berdasarkan kata kerja memiliki nilai yang lebih dari kata
benda. Karena apabila seseorang mengungkapkan cinta berdasarkan kata kerja,
maka orang tersebut tiap harinya sebenarnya sedang menghidupkan cinta yang
telah lalu dengan terus terciptanya rasa rindu sebagai akibat dari cinta itu
sendiri. Kata kerja bisa mengandung kadar waktu masa lampau, masa sekarang dan
masa depan. Dengan demikian jika dulunya sudah mencintai maka sekarang ia tetap
mencintai dan untuk masa depan yang tidak terbatas maka akan senantiasa
mencintai, tidak akan ada layu-layunya. Konsep cinta berdasarkan kata kerja
akan membutuhkan objek, seseorang diniscayakan untuk mendapatkan sesuatu atau
seseorang diluar dirinya untuk dicintai, apabila tidak ia dapatkan maka dapat
dimungkinkan cintanya tidak ada atau gagal untuk berada.
Ketiga,
kata sifat, menurut konsep ini cinta itu adalah sesuatu yang tidak dapat
dipisahkan dari personnya. Sebagaimana sifat akan sesuatu tidak mungkin
terlepas dari subtansinya, semisal kayu yang keras. Tatkala sifat keras
tersebut hilang atau berubah menjadi lunak, maka buka berarti kayu telah
kehilangan sifatnya melainkan kayu sedang mengalami perubahan sifat. Jadi jenis
sifat tersebut berubah tetapi kayu masih mempunyai sifat, yaitu lunak. Pada kategori
ini cinta adalah bagian yang tak terpisahkan dari pecinta sekalipun tiada objek
yang dicintai. Selama pecinta itu ada maka cinta pun akan terus ada, lebih dari
itu cinta sebagai kata sifat tidak akan tebang pilih terhadap objeknya semuanya
akan ia cintai dan tidak berubah dengan bergulirnya waktu.
Dari ketiga jenis kata tersebut diatas sudah jelas mana cinta sebagai kata hati. Oleh karena itu makna cinta tidak bisa dianggap selesai hanya melalui kata-kata. Tetapi harus ada penanda atau pembuktian sebagai pembahasaan untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 26-06-2021

Post a Comment for "Hakikat Cinta Dari Jenis Kata"