Resensi Buku: “Asal-Usul” Karya Mahbub Djunaidi

 

buku asal usul

Resensi Buku

Judul buku                  : Asal-usul: catatan-catatan pilihan

Penulis                         : Mahbub Djunaidi

Penerbit                       : IRCiSoD

Cetakan pertama         : 1996

Tebal halaman             : 480

ISBN                           : 978-602-7696-33-4


GAYA TULISAN KHAS MAHBUB DJUNAIDI

            Buku ini berisi sejumlah 120 tulisan H. Mahbub Djunaidi yang sebenarnya seluruhya berjumlah sekitar 236 buah. Dengan beberapa pertimbangan kemudian dipilih lah beberapa saja dan tidak menerbitkan seluruhnya dalam bentuk buku. Tulisan-tulisan Mahbub awalnya beredar dalam kolom Kompas yang ia tulis selama hampir sembilan tahun penuh, yaitu sejak tanggal 23 November 1986 dan terakhir 8 Oktober 1995.

            Tulisan-tulisannya merupakan suatu kritik, sindiran mengenai peristiwa sosial yang penulis amati. Oleh karena itu mengandung berbagai tema, diantaranya seperti persoalan politik, maritim, fakir miskin, feodalisme, koperasi dan lain sebagainya. Dimana Mahbub mempunyai gaya tulisan yang khas, simpel, mudah difahami,  jenaka dan bersifat kritik sosial, bahkan kejenakaan atau humornya terkadang mengandung unsur ejekan terhadap yang hendak dimaksud, seperti contoh ejekannya:

            Mengejek nepotismenya Naro, yang anaknya juga calon anggota DPR. Hal itu dianggapnya tidak aneh sama sekali, dibanding Raja Henry VI yang membuka sidang parlemen inggris pada usia tiga tahun. (Pribadi, Kompas 01-11-1987).

Itu salah satu tulisan gaya khas Mahbub Djunaidi. Dari seluruh kolomnya Mahbub ketika membuat tajuk suatu judul hanya mencantumkan satu atau dua kata saja sebagai bentuk pokok pikiran yanng hendak di utarakan dari keseluruhan kolomnya. Seperti “puasa”, “tenang”, “resiko”. Sedangkan untuk yang menggunakan dua kata seperti “sang guru”, “maju mundur”. Ada juga yang menggunakan tiga kata “kalau masih hidup”, “Orwell akan tercengang”. Tetapi dari keseluruhan tulisannya Mahbub lebih banyak menggunakan satu kata saja dalam pembuatan tajuk judul. Sehingga berkesan kepada pembaca sulit untuk menangkap gagasan yang hendak difahami.    

Dapat dibandingkan dengan tulisan pada umumnya, untuk tajuk akan dibuatkan sepanjang hingga menjadi sejelas mungkin. Tetapi setelah selesai membaca satu pembahasan dapat dimunngkinkan seseorang akan ketagihan dan tidak ada rasa capek-capeknya sama sekali. Dikarenakan Mahbub Djunaidi menggunakan kata yang cukup ringan tidak berbelit-belit hingga mengerutkan dahi.

Kolom-Kolom “Burung Parkit Di Kandang Macan” Yang Menyenangkan

            Beliau lahir di Jakarta pada 22 Juli 1933, untuk menggambarkan kepribadiannya sebagai seorang wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus dan predikat lainnya. Penerbit bukunya pada halaman belakang menulis kalimat yang cukup menarik.

            Ia bukan pemikir layaknya Hegel atau Marx, yang pemikirannya mudah dijumpai dalam satu tulisan utuh. Tapi, keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran dan membela wong cilik tak perlu diragukan, sampai-sampai ia dijuluki si burung parkit di kandang macan.

Ia tidak sekedar intelektual tetapi juga sebagai aktivis. Tercatat organisasi yang pernah disinnggahi diantaranya, IPNU, HMI, PMII, GP Ansor dan PBNU. Disederet organisasi-organisai tersebut Mahbub bukanlah orang biasa-biasa tetapi ia termasuk salah satu yang pernah menjabat sebagai ketua dalam pucuk pimpinan. Sekalipun sebenarnya latar belakang pendidikannya berasal dari Pesantren tetapi Mahbub juga menguasai pengetahuan-pengetahuan umum modern.

            Sebagai pembaca buku Asal-usul, saya memang tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Mahbub Djunaidi. Tetapi perjumpaan tersebut terjadi setelah mencoba memahami tulisannya. Sebagai seseoran g yang mencoba mengenal dan memahami maka kiranya akan kurang afdhol apabila hidup tidak semasa dan berjumpa (muasharah dan liqa’, terminologi ilmu hadits). Sedikit untuk memberikan komentar atas tulisannya, seluruh orang akan berpendapat bahwa tulisan tersebut ringan untuk dibaca penuh humor, jenaka dan berani. Untuk kata sifat yang terakhir disebut bisa dikatakan demikian karena kritik Mahbub Djunaidi sangat tajam tetapi pembaca akan dibuat sangat santai. Hal ini yang disebutkan oleh Goenawan Mohammad , “bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertawa padahal isinya cukup serius?”. Hal itulah yang dibicarakan dimana-mana setiap orang berkomentar tentangnya. Seolah tidak ada komentar lain yang hendak disampaikan.

            Tulisan Mahbub Djunaidi tampak menarik manakala dibaca tidak pada waktu senggang dan pikiran fresh. Melainkan pada waktu suntuk dan tegang. Jika tulisan-tulisan lainnya akan membutuhkan kondisi dan waktu yang nyaman, karena memang persiapan pikiran untuk tegang ketika membaca, justru Mahbub sebaliknya dan ini tidak berlaku pada buku “Asal-usul” tetapi juga yang lainnya seperti “kolom demi kolom”. Beberapa teman mencoba untuk mengikuti gaya Mahbub dalam menulis, tetapi teman lain yang membaca merasa bahwa tulisan tersebut tidak layak untuk disebut mirip tulisan Mahbub Djunaidi.

            Mahbub sebagai politikus dan organisatoris, tanpa sengaja lewat gaya tulisannya dengan berbagai konten isinya, seolah menyiratkan bahwa kehidupan tidak perlu serius-serius cukup santai saja banyak tertawa tetapi mengandung makna dibalik itu semua.    

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 23-06-2021

 

Post a Comment for "Resensi Buku: “Asal-Usul” Karya Mahbub Djunaidi"