Belajar Logika Seputar
Sylogisme
Hal
yang menonjol dari manusia adalah berfikir dan inilah yang membedakannya dengan
hewan dan tumbuhan. Untuk sisi yang lainnya antara hewan dan manusia mempunyai
banyak persamaan, seperti halnya yang berkaitan dengan tubuh biologis. Dengan daya
akal yang manusia miliki maka akan menjauhkannya dari kesamaan dengan hewan.
Akal
manusia mempunyai alur atau iramanya sendiri dalam mengolah suatu pengatahuan.
Terdapat kaidah-kaidah yang harus diperhatikan, sehingga segala bentuk ekspresi
manusia bisa dinilai berakal atau waras apabila melalui mekanisme tersebut.
Meskipun secara spontan akal sehat akan bergerak melalui jalurnya secara
alamiah, tetapi ada suatu metode ilmiah dimana menempatkan diri sebagai aturan
khusus untuk berfikir.
Untuk kali ini akan dibahas berkaitan dengan sylogisme. Syarat darinya adalah harus ada tiga proposisi: premis mayor, premis minor dan konklusi. Cara berfikir sylogisme adalah secara sintetik, yaitu menggabungkan antara dua premis untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan. Cara ini disebut sebagai cara berfikir inferensial. Contoh:
Semua manusia butuh makan (premis
mayor)
Jarwo adalah manusia (premis minor)
Jarwo butuh makan (konklusi)
Pada
contoh tersebut dapat dijelaskan bahwa, premis mayor akan mencakup seluruh
keumuman dari premis minor, yaitu manusia sedangkan Jarwo adalah bagian dari
golongan manusia. Oleh karena itu sesuatu yang dibebankan pada hal yang umum
(manusia) maka akan mengenai pada yang khusus (Jarwo). Dengan menggunakan kata
lain, premis mayor berposisi sebagai predikat sedangkan premis minor berposisi
sebagai subjek dalam penarikan kesimpulan. Dari kedua premis tersebut haruslah
saling berkaitan, sesuai contoh identitas Jarwo sebagai manusia, tidak boleh
ada penyimpangan, semisal Jarwo ternyata bukan manusia melainkan kucing.
Sehingga premis minornya Jarwo adalah kucing. Maka konklusinya tidak dapat
terjadi dengan valid. Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah
kebenaran dari premis mayor. Kesalahan yang terletak pada premisnya maka akan
berakibat salah pada konklusinya.
Terdapat beberapa
aturan yang harus ditaati dan pantangan yang harus dihindari dalam penyusunan
sylogisme sehingga bisa menghasilkan konklusi yang logis, diantaranya adalah
sebagai berikut:
Termasuk dari cara inferensial atau penarikan kesimpulan, bahwa kesimpulan akan menyebut makna yang tercakup pada dua premis. Contoh:
Semua manusia butuh makan (premis mayor)
Kambing menyukai daun nangka (premis minor)
Konklusi.........?
Pada contoh tersebut tidak
terjadi hubungan dikarenakan premis mayor dan minor sama-sama berbicara sesuatu
yang lain. Jadi kesalahan hingga akhirnya tidak dapat menarik sebuah kesimpulan
terletak pada premis-premis yang tersebar.
Apabila salah satu premis universal dan lainnya partikular maka konklusi harus bersifat partikular (sebagaimana contoh pertama, Jarwo butuh makan karena ia adalah manusia). Contoh yang salah (menggunakan contoh yang sama agar mudah mengingat aturan-aturannya):
Semua manusia butuh makan (premis
mayor)
Jarwo adalah manusia (premis minor)
Manusia butuh makan (konklusi)
Contoh tersebut salah karena
seharusnya beranjak dari umum (Manusia) kepada yang khusus (Jarwo), apabila
kesimpulan tetap berkutat pada yang umum maka tidak akan terjadi kesimpulan,
hanya pengulangan dari premis mayor saja.
Apabila terdapat dua premis universal maka konklusinya harus universal juga. Contoh:
Semua manusia butuh makan (premis mayor)
Semua pendemo adalah manusia (premis minor)
Semua pendemo butuh makan (konklusi)
Apabila terdapat premis positif dan premis negatif antara mayor dan minor, maka konklusinya harus negatif. Contoh:
Semua kucing tidak makan daun (premis mayor)
Anggora adalah jenis kucing (premis minor)
Anggora tidak makan daun (konklusi)
Apabila
dua premis berbentuk sama-sama negatif, maka tidak dapat ditarik kesimpulan.
Contoh:
Semua pegawai tidak datang kesiangan (premis mayor)
Joko tidak datang kesiangan (premis minor)
Joko adalah pegawai (konklusi.....?)
Tidak logis karena belum tentu
joko adalah pegawai.
Apabila dua premis adalah sama-sama partikular maka tidak dapat ditarik sebuah kesimpulan. Contoh:
Hari senin masuk sekolah (premis minor)
Hari senin cuacanya berawan (premis minor)
Cuaca berawan menjadikan sekolah
masuk (konklusi.....?)
Tidak logis karena setiap cuaca berawan tidak menjadi sebab sekolah masuk.
Itulah beberapa contoh sylogisme, yaitu penarikan kesimpulan secara deduktif beserta kaidah-kaidahnya yang menentukan suatu kesimpulan bisa dinilai logis atau tidak. Untuk selanjutnya akan dibahas deduksi dan bentuk-bentuknya,
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 28-06-2021

Post a Comment for "Belajar Logika Seputar Sylogisme"