Cerpen: Hukum Vs Keadilan

             

ditilang

            Desa Mugi Rahayu terletak sangat jauh dari pusat kota, harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan berkendara motor. Melewati medan yang tidak bisa dianggap remeh, jalanan tanah yang apabila dimusim hujan tiba maka banyak kubangan air, lubang-lubang tanah, lumpur-lumpur licin. Pengendara yang tidak biasa, dapat dimungkinkan akan terjerembab jatuh. Dari sekitar 4.000 an penduduk desa, barnagkali hanya ada 500 an yanng ahli dalam berkendara, maksudnya apabila mereka hendak menuju kota tidak pernah tergelincir. Sedangkan sisanya ada sekitar 2000 an pengendara yang bukan ahli, itu dikarenakan jarang melakukan perjalanan ke kota.

            Agus adalah bagian dari para ahli pengendara, kemampuan tersebut didapatkan dari kebiasaan nya ketika dulu berangkat kuliah, sebab seringnya sampai ia menjadi ahli melewati jalanan ribet. Sedangkan Sapto, teman terbaik agus, adalah bagian dari orang-orang yang tidak ahli melewati medan sulit. Jelas sebabnya, dikarenakan ia sendiri hidup nglutek hanya di desa saja bertani, memberi makan ternak, menyapa masyarakat. 

        Pada bulan-bulan ini Desa Mugi Rahayu, hampir setiap hari hujan turun terus. Setiap sore menjadi jadwal rutin, tetapi apabila tidak kunjung datang, itu berarti hujan terlambat datang, maka akan datang dimalam harinya, jika tidak kunjung datang pula, maka esok harinya mentari tidak muncul seluruh desa ditutupi oleh awan hitam, sekalipun tidak sehari penuh hujan turun tetapi rintik-rintiknya yang kecil dapat menghalau niat para petani untuk pergi ke sawah.

            Musim hujan mendatangkan kegembiraan bagi kambing, sapi, kelinci dan marmut. Bukan apa lagi? Akses untuk mendapatkan makanan begitu mudah, serta kualitas rumput memenuhi gizi yang dibutuhkan. Orang seperti Sapto, Pak Kadirun, Kang Sobary, Mbah Tukijan turut bergembira, hanya dengan waktu singkat sudah dapat membawa rumput pulang. Merumput menjadi pekerjaan sekejap mata, dapat disambung dengan pekerjaan lain yang berguna. Hujan hanya membebani ruang untuk keluar tetapi tidak untuk tumbuhnya kehidupan. 

        Bagi kebanyakan warga yang merasa tidak terhalang oleh basah tetes hujan, maka menganggap hujan tidak begitu bermasalah. Berbeda dengan para guru dan murid sekolah, hujan sangatlah mengganggu, bagaimana apabila seragam dan sepatu bahkan buku-buku sekolah akan basah sehingga tiak dapat digunakan? Oleh karena itu apabila hujan datang pagi hari dengan lebatnya. Seketika tanpa harus ada janjian sekolahan akan terlihat sepi. Hujan adalah bagian alam yang mempunyai banyak cara untuk dilihat, bisa menarik dan tidak, tergantung kebutuhan yang mencoba melihatnya.

            Sapto hari itu dirundung cemas, setelah mendongakkan dan memeriksa sekeliling langit tampak gelap. Tanda-tanda hujan akan turun. Jika biasanya cuaca semacam itu, ia tidak ambil peduli, tetapi pada pagi tersebut ia berniat untuk pergi ke kota, tepatnya ke Samsat untuk membayar pajak STNK. Hujan yang kemungkinan akan datang justru akan mengganggu perjalanannya, tambah lagi hujan kemarin-kemarinnya telah membuat jalanan berlumpur sehigga sulit untuk diterjang. 

    Untuk solusi jalanan jelek supaya tidak ribet, Sapto mengajak Agus untuk mengemudikan sepedahnya. Masalah pertama selesai, dengan dibonceng Agus maka Sapto adalah golongan 500 yang ahli berkendara dalam kondisi sulit yang amat berat. Tetapi hujan? Takdir saja yang akan mempertemukannya.

            “Alhamdulillah Gus, akhirnya sudah masuk kota, tinggal menghadapi jalanan mulus”. Perkataan Saptp tidak dipedulikan oleh Agus yang sedang sibuk dan fokus berkendara. Mereka tinggal melewati dua kecamatan sehingga dapat mencapai tujuan yang dimaksud. Mungkin sekitar satu jam-an lagi. Setelah tancap gas dari rumah Sapto tadi pagi, berangkat pukul sekitar jam 07.00 dan sekarang sudah menjadi jam 09.00. benar kiranya kebiasaan warga yang menghitung jam ke kota dengan menunjuk tiga jam perjalanan, karena memang perjalanan sangat menantang maka pun penuh kesan sehingga kenangan yang dihadapi termasuk jarak waktu yang ditempuh menjadi catatan dalam ingatan yang tertera seolah secara abadi. 

            Belum lagi jarak ruang, manakala melihat banyak gedung, rumah, pedagang pinggir jalan, sesama pengemudinya, warung-warung yang disinggahi, masjid-masjid tempat beribadah dan sebagainya banyak sekali cerita yang dibawa.

            Pada hari itu Sapto dan Agus akan membawa cerita pula, kejadiannya setelah menuggu lampu merah berubah menjadi hijau dan gas dapat ditancap. Setelah sepedah bergerak mencari celah dalam gerombolan lampu merah, di ujung jalan sejauh mata memandang tampak kelip-kelip baju hijau berdiri ditengah jalan mengayun-ayunkan tangannya seolah mempersilahkan masuk bagi seluruh pengemudi pada hari itu. Semakin mendekat menjadi jelas, bahwa ia adalah polisi lalu lintas yang sedang bertugas melakukan operasi. 

        Agus sebagai pengemudi dan berada didepan lebih mengetahui dulu, “To, ada polisi!”, sekejap saja seolah merinding bertemu dengan polisi, kenapa harus takut? Apabila memang tidak bersalah, “iya Gus, bagaimana ini STNK ku mati, karena itu mau tak hiupin lagi di samsat”, “Aduh To, payah, ya wes kalau gitu menyerah saja”. Percakapan berlanjut sepedah pun mendekat dan belok mengikuti arahan tangan polisi.

            Ketika setengah belok, Agus dan Sapto melihat ada seorang pengendara dengan nekatnya menembus polisi yang berjaga ditengah jalan, sehingga lolos dari operasi pada hari itu. Spontan mereka tergoda untuk melakukan hal tersebut, tetapi sudah terlanjur belok dan gas sudah dipelankan mana mungkin berbalik arah,  bukankah justru berakibat fatal? 

            Pelanggaran pada hari itu ternyata berekor panjang, Sapto dan Agus bukan satu-satunya, melainkan satu dari sekian banyak pengguna jalan. Antrian demi antrian berjalan terus, beriring muka masam dari kedua warga Mugi Rahayu dipertontonkan dihadapan pengguna jalan yang lain, sesama pelanggar merasa resah setelah berbuat salah. Sekkalipun mereka yang terciduk tidaklah bisa dikatakan salah secara serta merta. Beberapa orang telah lolos karena kelengkapan atribut sepedah dan surat-surat terpenuhi. Sebagian yang lain mesti menerima surat tilang yang nantinya akan digunakan untuk menebus SIM atau STNK dengan membayar denda.

            Pada giliran sepedahnya Sapto, ia menyerahkan STNK tanpa SIM, karena ia tidak memilikinya. Wajahnya mulai tertunduk lesu, pucat pasi seolah ada kabut yang menjadikan mukanya buram. “ini STNK mati berani-beraninya adik ke kota, tahu kan yang saya maksud? Bukankah sebagai warga negara adik harus taat untuk membayar pajak?” getak salah seorang petugas. “iya pak, justru kami datang kesini dikarenakan mau bayar pajak, eh ternyata ada bapak yang menghalangi kami pergi” apa yang ada dalam pikiran Sapto, ia berkata sedemikian polosnya seolah tak ada satu pun kesalahan yang sebenarnya dimaksud oleh Polisi dirasakannya. Wajah yang pucat ia tampilkan justru bukan karena merasa bersalah, tetapi disebabkan oleh adanya polisi, Sapto langsung pucat. Kenapa polisi menjadi begitu menakutkan dalam benak Sapto?.

            “Pak polisi” Agus mulai ikutan berbicara, posisinya berada didepan Sapto, sejak tadi ia tidak menjawab karena tahu sepedah tersebut bukan miliknya. Jadi membiarkan si pemilik lah yang berbicara terlebih dahulu, “hari ini adalah hari yang baik dan cerah, niat baik teman saya ini sudah dimeriahkan dengan dengan adanya mentari yang bersinar terang, bayangkan seandainya langit mendung, tidak lama kemudian turun hujan. Maka bukankah pajak sepedah yang akan dibayarkan teman saya ini akan tertunda? Oleh karena itu jika keterlambatan ini dianggap pelanggaran apakah niat baik tidak memberikannya kesempatan”. 

        Agus belum selesai bicara, polisi tersebut langsung memotongnya,” dek, jika memang punya niatan baik kenapa harus ditunda sampai.....” polisi membaca STNK untuk mengetahui berapa bulan Sapto terlambat,”......3 bulan, hari ini janganlah bicara niat baik, karena dengan ditundanya, kebaikan bisa menjadi basi, dan itu adalah sebuah pelanggaran”.

            Agus semakin bersemangat, wajahnya berapi-api untuk melanjutkan pembicaraan. “sejak tadi bapak tidak pernah bertanya, kenapa keterlambatan itu terjadi? Asal bapak tahu sebagai seorang warga negara yang mana hidupnya tidak pernah mendapatkan bayaran yang pasti sebagaimana bapak, kami apabila keringat belum menetes makan pun akan tertunda, sedangkan bapak hidup sudah dibiayai Negara, terlambat sedikit sudah dianggap pelanggaran, bagaimana mungkin hukum ditegak kan apabila kesejahteraan belum merata, keterlambatan teman saya ini dikarenakan ekonominya belum sejahtera, apabila bapak masih ngeyel, untuk menganggap ini pelanggaran, saya mau bertanya, apakah teman saya Sapto ini melanggar karena belum bayar pajak atau karena belum sejahtera? Lebih dahulu mana, kesejahteraan dan penegakan hukum? Seandainya kejadian ini menimpa saudara atau tetangga bapak dan memang sesuai kenyataan, apa yang bapak lakukan?”

            “bawa SIM gak?”, polisi tersebut tidak menjawab justru bertanya, Sapto dan Agus terdiam karena memang tidak bawa SIM sehingga kesalahannya diproses karena tidak bawa SIM, pertanyaan Agus sia-sia tidak pernah terjawab, entah sapai kapan dan siapa yang akan menjawabnya. Hari yang cerah pada waktu itu menjadi suram karena pancaran dua warga Mugi Rahayu.

 

ARIF PRASTYO HUZAERI

Tegalwangi, 01-02-2021      



Post a Comment for "Cerpen: Hukum Vs Keadilan"