DENGAR-DENGAR
Sebagai
anak dari seorang yang terpandang di kampungnya, Agus Santoso harus mempunyai
tatapan yang jauh ke masa depan. Ia harus mengkhayal, sebagai motivasi, untuk
menjadi layaknya The King of Viking Ragnar Lothbrok dengan keyakinannya tentang
suatu tempat yang ia sebut to the west. Karena dirinya mampu menjadi earl
kemudian king bermula dari kayakinannya sendiri untuk mencari kehidupan
ditempat lain, dimana sedikit yang mengikutinya sampai kemudian ia membuktikan
kepada orang-orang yang sedikit tersebut. Mereka pun bercerita kepada yang lain
sehingga mashurlah namanya di desanya. Agus cukup mempunyai keyakinan yang sama
terhadap dirinya sendiri untuk menjalankan segala impiannya.
Setelah lulus dari universitasnya dengan menyandang gelar sarjana ekonomi, ia tidak mau memalukan orang tuanya, apabila dikemudian hari orang-orang kampung melihatnya sebagai pengangguran walaupun sarjana. Untuk itu pertama kali yang ia lakukan adalah berfikir menemukan ide untuk dijalankan. Karena di kampung, masyarakat tidak akan pernah menanyakan persoalan-persoalan yang apabila berada di kampus dianggap sangat penting.
Semisal IPK, predikat kelulusan, mata kuliah yang
telah ditempuh dan nilai-nilainya. Setidak-tidaknya yang akan ditanyakan
barangkali hanya, jurusan apa? Kalau dijawab pendidikan pasti tanggapannya “oh,
jadi guru ya?”, kalau hukum “oh, jadi pengacara ya? Hakim?”, kalau ekonomi “oh,
jadi pengusaha?” daftar ini bisa dilanjutkan sendiri dengan sebanyak program
studi yang ada di universitas-universitas seluruh Indonesia.
Modal pertama setelah bergelar S.E adalah yakin terhadap diri sendiri dan mantap. Karena memang nasib tidak bisa diatur begitu pula dengan bibir tetangga sulit untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan. Agus pergi lagi ke sekitar kehidupan perkuliahan untuk berfikir mau melakukan usaha apa dan menjauhi sorotan mata tetangga.
Sehingga dengan begitu nama baik bapaknya tidak
akan tercoreng karena melihat anaknya sebagai seorang pengangguran sekalipun
sarjana. Menurut Agus tetangganya tidak masuk akal dalam arti kalau sudah
berpendidikan tinggi harus mudah mendapatkan peluang kerja. Padahal keduanya
adalah dimensi yang berbeda. Seandainya yang satu sudah terlewati maka tidak
otomatis satunya akan tersertai, tetapi harus dilakukan secara sendiri-sendiri.
Pagi-pagi yang buta, setelah menginap beberapa hari dikontrakan temannya. Agus jalan-jalan terus menapaki lorong berpaving. Ia berhenti setelah mencapai langkah yang cukup panjang. Disana lah ia berjumpa dengan seorang lelaki yang tidak cukup tua untuk usianya tetapi memiliki wejangan yang berarti.
Menyatakan ke-tua-an berdasarkan usia merupakan suatu tindakan yang kurang
bijak, tetapi haruslah berdasarkan dari penggunaan akal pikirannya terhadap
realitas kemudian ia mengambilnya sebagai pelajaran. Hari itu ia beruntung
sekali bertemu dengan orang tersebut.
Setelah
basa-basi sana-sini mulai dari memperkenalkan identitas masing-masing sampai
pada menjelaskan masalah yang dihadapi. Tibalah Agus menceritakan tentang
masalah yang duhadapi dirinya, yaitu berkenaan pekerjaan, nama baik bapaknya,
tidak tanggung-tanggung ia menyampaikan bahwa sebenarnya dirinya berada disini
pada hakikatnya sedang minggat dengan sebab yang telah disebutkan
sebelumnya.
“begini
mas”, nama orang tersebut adalah Satria, “memang seorang sebenarnya harus
menghadapi seluruh kejadian yang ada dimukanya jangan pernah sekali-kali untuk
pergi, untuk sampeyan ini bukan meninggalkan masalah melainkan mencari
jawaban atas masalah. Jika tidak maka saya tidak segan-segan menyebut sebagai
pecundang. Seluruh peristiwa ini mempunyai logikanya sendiri-sendiri, masalah
sekaligus solusi dan proses”.
Sambil menghela nafas ia melanjutkan, “jika masalahnya mengenai pekerjaan, maka pertama yang harus mas Agus lakukan adalah membaca potensi dari diri sendiri lanjut membaca kepada lingkungan sekitar yang sampeyan ingin tempati untuk usaha semisal desa tempat tinggal, apakah sesuai dengan potensi yang dipunyai.
Jika ada yang cocok dicoba aja, kemudian silih berganti masalah akan
datang menerpa jangan putus asa, terus cari cara untuk mengatasinya. Pokoknya
pikiran masih cerah berjalan terus jangan menoleh ke belakang, atau sambil
tanya-tanya, konsultasi dengan siapapu orangnya yang telah berpengalaman.
Dicoba terus jika tidak begini pasti begini, jika tidak begitu pasti tidak
begitu, terus saja ikuti prosesnya dengan penuh kesabaran dan mental yang
kuat”.
Setelah perjumpaan tersebut, Agus lantas cepat-cepat pulang. Sesampainya dirumah ia kemudian meminjam uang kepada seluruh saudaranya dari bapak dan ibunya. Sedikit-sedikit sampai banyak. Ia putuskan untuk ternak lele. Dalam pembudidayaannya ia belajar kepada peternak lain yang telah mahir.
Sekalipun
belum ketahuan suksesnya, setidaknya Agus telah berani menampakkan muka dengan
berseri-seri dan penuh keyakinan seolah ia adalah Ragnar Lothbrok. Tidak tahu
suksenya yang penting bekerja setelah bersarjana, sejak detik itu tetangganya
tutup mulut. Pak Santoso, bapaknya tidak perlu malu-malu lagi mempunyai anak
seperti Agus Santoso.
Sebenarnya dulu saat mendengar wejangan dari pak Satria, Agus dengan penuh khidmat ia seperti sungguh-sungguh mendengarkan. Tetapi dalam hatinya biasa-bisa saja, karena menurutnya ia sudah tahu kalau sebenarnya tindakan-tindakan semacam itu yang seharusnya dilakukan. Tetapi kenyataannya ia sendiri tidak dapat menggunakan kebenaran yang ada dalam dirinya. Masih membutuhkan pencahayaan dari orang lain sehingga ia mayakini kebenaran yang ada dalam dirinya.
Seandainya dulu ia sudah mempercayai apa yang ada dalam dirinya, setidaknya
kemajuannnya lebih cepat satu minggu, karena dalam tempo satu minggu ia telah
membuang-buang usianya dikosan denga segal jadwal kehidupan yang tidak jelas.
Seandainnya lagi suatu waktu ia mendapatkan kebuntuan semacam hari itu dan
melakukan hal yang sama, maka dapat dimungkinkan ia akan mendapatkan pilihan
untuk membuang-buang usia dengan cara menunggu wejangan dari seorang yang tidak
jelas kedatangannya kapan atau seketika mendengarkan suara sejati yang muncul
dalam dirinya sendiri.
ARIF
PRASTYO HUZAERI
Tegalwangi,
03-01-2021

Post a Comment for "CERPEN: DENGAR-DENGAR"