MENGENANG YON KOES PLUS DAN NASIB GENERASI BANGSA

pendidikan

MENGENANG YON KOES PLUS DAN NASIB GENERASI BANGSA

“pengaruh pengajaran itu pada umumnya memerdekakan manusia atas hidup nya lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan. Manusia merdeka itu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar pada kekuatan sendiri” (Ki Hadjar Dewantara)

 

Dampak teknologi yang membuat manusia menjadi serba cepat. Bicara cepat, ngomong cepat, kerja cepat tetapi berpikir semakin lambat. Dikarenakan kecepatan berpikir beralih kepada perkakas yang membantu dan mempermudah persoalan yang dihadapinya. Sebenarnya dalam hal ini yang perlu disadari bukan lah kelambatan dalam berpikir, melainkan kemalasan untuk berpikir dengan artian berkreasi mencipta suatu yang baru, sebuah inovasi. 

Kegiatan memperbarui daripada apa yang ada tentunya harus mengetahui apa yang telah ada dimasa dahulu. Mungkin ini salah satu kelemahan pendidikan indonesia, kurang menghargai sejarah. Sikap memuja barat dan abai terhadap kekayaan bangsa mengingatkan kepada sebuah petikan bait puisi rendra,”kita sedang dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain dan menjadi asing ditanah leluhur sendiri”.

            Di zaman now ini yang sudah keblinger dengan penggunaan teknologi, menjadi salah satu daya kuat sebagai perantara yang mempermudah mengakses informasi. Langsung membidik kepada sisi negatif dari maraknya kemajuan perkakas ditengah himpitan kebutuhan ekonomi, popularitas, serta eksistensi didunia sosial. Menyebabkan para putra bangsa terlena dengan pengaruh luar dan melupakan sebuah sejarah yang menyimpul diri dan bangsanya. Dalam tulisan ini saya ingin berbicara tentang salah satu benang perajut sejarah musik, ialah band legendaris lintas zaman yang pernah menggores tinta di Indonesia, Koes Plus.

            Menariknya untuk membicarakan Koes Plus, sebab kemarin tanggal 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo menutup mata untuk selamanya. Meninggalkan seluruh karya nya untuk Indonesia yang sudah ia gunakan tanah nya untuk berpijak dan air nya untuk diminum. Berbicara mengenai sebuah arti kematian, barangkali perlu diketengahkan dua hal, pertama seseorang yang mati tetapi ia selalu berada di sekeliling mereka yang masih hidup, karena namanya senantiasa disebut-sebut. Dalam hal ini bisa kita contoh kan dengan para Nabi dan orang-orang besar yang ikut meluangkan usia nya membangun peradaban. Kedua, orang hidup tetapi ia sebenarnya mati atau dikehendaki mati, tidak dalam artian sempit, tidak lain hidup nya menjadi parasit. 

            Tetapi yang paling tragis ketika seseorang yang memang mati secara jasad, dengan keluarnya nyawa, mempunyai potensi untuk hidup dihati dan pikiran masyarakat justru hendak dibunuh atau dimatikan untuk yang kedua kalinya. Maka seorang Yon Koeswoyo dalam kematian nya beberapa hari lalu mempunyai peluang untuk dibunuh kembali, pelaku yang berkesempatan adalah mereka yang saat ini masih hidup.

            Yon dalam perjalanan karir nya mengarungi bahtera permusikan di indonesia melewati tiga era, orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Hal paling menonjol tentang lika-liku hidup seorang Yon, yang menjadi sebuah tragedi anak manusia. Adalah bentuk kepercayaan diri dan ketetapan hati untuk tidak beralih kelain jalur menjadi vokalis yang tak tergantikan. Dimulai dengan Koes bersaudara, Yon, Toni, John, Yok, Nomo sama-sama berakhiran Koeswoyo dan berambut gondrong, dimana pada zaman sekarang fashion seperti ini mendapat stigma, membentuk grup band Koes bersaudara. Sampai kemudian saudara Yon yang lain meninggalkan band kebersaudaraan mereka tanpa melepas persaudaraan. 

        Diawali oleh John, Koes bersaudara sisa berempat, berlanjut dengan Yok dan Nomo. Pada akhirnya Koes bersaudara melakukan bongkar pasang personil yang terus berlanjut dengan keluar masuk nya Toni dan Yok. Pada akhir nya Yon Koeswoyo harus sendiri, tanpa saudara-saudara Koeswoyo nya yang lain pada tahun 2004. Sedangkan nama Koes Plus diproklamirkan sebagai pengganti Koes Bersaudara pada tahun 1969. Terdapat simbiosis mutualisme antara Yon dan Koes Plus dengan Musik di tanah air. Bagi Koes Plus musik telah telah memberi udara segar bagi kehidupan mereka sebagai orang merdeka, sedangkan bagi musik ditanah air sendiri Koes Plus, khususnya Yon, telah memberi bentuk dan lahan untuk bercengkerama didalam sanubari masyarakat akar rumput.

Sebagai seorang yang produktif Yon telah menghasilkan berbagai jenis lagu yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, semisal lagu anak-anak tul jaenak dan  puk ami-ami yang dinyanyikan oleh mayoritas orang-orang untuk mengajak gurau anak nya yang masih balita. Ada juga lagu bujangan, lirik nya sebagai berikut: Begini nasib jadi bujangan, kemana-mana asalkan suka tiada orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang. Bunga ditepi jalan, sebuah lagu yang puitis dinyanyikan oleh Duta Sheila On 7 atau lagu yang berjudul andai engkau datang kembali dinyanyikan oleh  Ruth Sahanaya, Kisah sedih dihari minggu yang dinyanyikan oleh Marshanda. Semua lagu tersebut dirilis oleh grup band nya Yon Koeswoyo, Koes Plus.

Peralihan zaman menjadikan pergeseran pemikiran dan pemaknaan terhadap suatu realita, semisal lagu. Sebuah lagu sebenarnya menunjuk kan dari hasil interpretasi seorang musisi terhadap keadaan serta kondisi zaman nya. sebut saja semisal Sunan Kalijaga yang mengarang lagu lir-ilir dengan makna yang mendalam, sebagai pendekatan dakwah nya secara kultural dikalangan masyarakat. Kata-kata yang dipilih dikehendaki memuat makna alegoris. Ada juga Iwan Fals, lagu-lagu yang ia karang kebanyakan bernada populis, sebut saja: sarjana muda, bento, galang lambu anarki. 

Daripada itu sebuah lagu ternyata sangat mempunyai potensi untuk membangun pendidikan karakter anak bangsa. Tetapi permasalahan yang dihadapi ketika terdapat pergeseran paradigma dari lagu sebagai penggugah jiwa, perangsang kecerdasan, dan membangun kesadaran diri berpindah kepada lagu sebagai pemuas kesenangan dengan nuansa hedonitas. Di zaman ini ternyata pergeseran lebih gawat lagi, bukan hanya sebagaimana diatas, dari nilai seni menuju konsumerisme, proyek besar bagi kapitalisme. Inilah yang membuat Theodor Ludwig Wiesengrund Adorno seorang musikolog sekaligus filsuf yang berafiliasi di Mazhab Frankfurt  marah-marah dan kritik yang ia tujukan terhadap masyarakat modern sebagai bentuk penindasan terhadap manusia.

Semakin banyak PR yang dipunyai oleh bangsa Indonesia ini disamping juga, sebagaimana dalam UUD 45, mencerdaskan kehidupan bangsa sepertinya sedang merengsek menjadi khayalan tingkat tinggi. Karena pada kenyataan nya pemerintah hanya mampu menciptakan media pendidikan, seperti sekolah, yang punya eksistensi saja tanpa esensi yang mencukupi dan sistem yang seharusnya membuat manusia sebagai tujuan, meminjam terminologi nya Kant, malahan menjadi pembunuh karakter paling kejam dan berbahaya. 

Cacat kesadaran yang terus berkembang adalah sistem, yang nantinya membentuk kerangka berfikir, tidak faham betul antara arti tidak tahu dan kebodohan. Betrand Russel pernah menyatakan bahwa, manusia terlahir dalam keadaan tidak tahu bukan bodoh, sedangkan pendidikan lah yang menjadikan nya bodoh. Seseorang yang pernah menempuh pendidikan seolah-olah dia tidak bodoh, padahal belum tentu ia tahu dengan sebuah ketidaktahuan. Institusi-institusi pendidikan dengan segala keruwetan teknisnya sebenarnya membuat topeng paling handal. 

Model pendidikan Indonesia yang lebih menciptakan kelas pekerja, hal itulah ternyata yang di idam-idamkan. Maka sosok seperti Yon akan segera dibunuh untuk kedua kalinya, asumsi yang sangat jelas adalah dikarenakan mengetahui seorang Yon tiadalah berguna ditinjau dari segi finansial. Kecuali seorang pelajar tersebut kreatif mampu meng-uang-kan pengetahuan nya tentang Yon dan Koes Plus maka akan digemari sebagai komoditi bukan sebagai seorang maestro yang semestinya dihargai.

Arif Prasetyo Huzaeri

Jember, 2018

Post a Comment for "MENGENANG YON KOES PLUS DAN NASIB GENERASI BANGSA"