CERPEN: BERSALAMAN

                                                                

CERITA

BERSALAMAN

            Sebagai seorang mahasiswa yang baik dan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, Agus Santoso selalu mengindahkan tata krama, sopan santun, unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Lebih-lebih apabila ternyata ia adalah seorang yang mendapatkan kewajiban untuk di hormati, karena statusnya yang menyediakan jasa kepada orang lain dalam bentuk pengetahuan. 

            Oleh karena itu Agus sangatlah menghormati seluruh dosen, kaprodi, dekan fakultasnya. Susah dan langka untuk mendapatkan orang seperti ini, merendahkan sayapnya untuk memberikan tempat yang tinggi kepada orang lain. Salah satu bentuk penghormatan yang ia lakukan adalah dengan cara menjabat tangan dosen-dosennya lantas menciumnya. Sekalipun tidak bolak-balik setidaknya itu menunjukkan bahwa ia bersikap ta’dzim.

            Sebagai seorang Mahasiswa, perlakuan seperti ini sudah jarang dilakukan, mayoritas dari mahasiswa berfikir karena seorang dosen hanya sekedar menemani mahasiswa belajar, bukan menunjukkan pengetahuan, kalau memang begitu, itu hanya sedikit dari waktu pembelajaran. Dosen memberikan penjelasan dengan segenap pengetahuan yang ia miliki untuk meluruskan diskusi. Selebihnya waktu dimilki oleh mahasiswa berdiskusi ngalor-ngidul. Oleh karena itu ia bertugas seolah layaknya fasilitator yang menyiapkan tema dalam silabus yang telah disusun semalaman dan dibagikan keesokan harinya untuk perkuliahan selama satu semester. 

                Beberapa mahasiswa yang lain memberikan rasa hormatnya dibatasi hanya untuk dosen yang mengampu mata kuliah keagamaan saja. Untuk pengampu mata kuliah umum, mereka bersikap sekedarnya saja, bermanis-manis bibir dimuka.

            Berbeda sekali dengan Agus Santoso, sebagai seorang mahasiwa ekonomi, ia tidak memberikan adanya perbedaan antara dosen yang mengampu mata kuliah umum dengan dosen yang mengampu mata kuliah agama. Seluruhnya ia jabat dan cium tangannya dengan penuh rasa hormat. Kepribadian dari Agus semacam itu bisa jadi terbentuk karena dulunya ia adalah seorang santri di sebuah pesantren. Dimana sebagai santri di ajarkan tidak hanya untuk mendalami ilmu pengetahuan tetapi juga mewujudkan ilmunya dalam amal perbuatan. 

              Dalam dunia pesantren tidak ada fanatisme terhadap pengetahuan apalagi terhadap nilai ujian, melainkan kepada buahnya yaitu amal kesehariannya, yang akan menunjukkan sejauh mana ilmunya. Selain itu tidak ada pembedaan antara guru agama dan umu. Pokonya siapapun yang mengajarkan satu huruf saja adalah guru. Seperti itu kerangka berfikir yang ada dalam kepala Agus. Barangkali di kampus tempat ia kuliah orang seperti dirinya tidak hanya dia saja tetapi cukup langka untuk mencarinya sekitar dua ratus banding satu.

            Agus menjalani hari-harinya dikampus dengan senantiasa berjabat tangan dan mencium tangan dosen-dosennya, sampai beberapa semester telah di lalui, telah banyak mata kuliah sudah ditempuh dengan baik. Karena memang sudah berlama-lama hidup dalam tradisi kampus mencullah penngetahuan baru, paradigma baru, sudut pandang baru, dan segala yang baru-baru. Kemampuan berfikirnya sudah bertambah luas dan detail terhadap segala persoalan. 

        Pantas saja karena dirinya adalah seorang yang getol membaca buku. Mulai dari buku-buku tentang ekonomi semisal marketing, ekonomi islam, sejarah ekonomi, pengantar ekonomi, tokoh-tokoh peletak dasar ekonomi, bahkan buku-buku beratpun kerap bersanding dengannya digandeng ditangan kanannya. Pernah suatu hari ia membawa bukunya Adam Smith yang berjudul the Wealth of Nation. Dihari yang lain ia juga membawa buku super tebal yang pas kiranya untuk dijadikan bantal, yaitu buku Das kapital tulisan Karl Marx. Pokokny Agus adalah mahasiswa yang jempolan.

            Suatu hari ia pernah merasakan hal yang aneh dan terus singgah dalam pikirannya. Tatkala berjabat tangan dengan seorang dosen yang sudah sering bahkan beberapa semester mengajarnya berulang kali dengan mata kuliah yang berbeda. Dosen tersebutlah yang mengenalkannya dengan nama-nama besar seperti Marx, Tan Malaka, Mao Zedong, David Ricardo, Adam Smith, Hatta, Sumitro dan banyak lagi yang lainnya. Keanehan tersebut hinggap tidak hanya sehari melainkan berhari-hari. Lebih seminggu kiranya, sampai kemudian Agus memberi sebuah kesimpulan tentang rasa yang ia hadapi.

            Pertama, ia berfikir jelasnya ilmu ekonomi tidak sekedar untuk membaca gerak sirkulasi kapital secara mikro maupun makro, juga tidak untuk mengetahui sosial sekitar tentang peluang apa yang dapat diisi oleh kesempatan pribadi untuk menunjang ekonominya, terakhir ilmu ekonomi juga dapat digunakan untuk membaca kemungkinan-kemungkinan dari realitas di masa yang akan datang perihal terjadinya ketimpangan sosial akibat tidak adanya regulasi yang benar dalam pengelolaan sistem. Oleh karena itu sebagai mahasiswa ekonomi dituntut tidak hanya sekedar membaca tapi juga bisa mengatur stabilitas perekonomian.

            Kedua, keanehan berlangsung ketika merasakan tangan dosennya tersebut begitu halus, tidak ada kasar-kasarnya sedikitpun. Maka timbul dalam pikiran bahwa tangan tersebut hanya digunakan untuk menulis, membuka lembaran-lembaran buku, mengangkat dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tidak ikut langsung terjun di pasar-pasar, pinggiran jalan, terkena sengat matahari hingga menyebabkan tangan tersebut tidak lagi menarik. Justru tangan tersebut terlihat elegan dan mempesona.

            Dari kedua asumsi tersebut. Agus mulai meragukan seluruh ilmu yang dimilikinya. Hal tersebut dikarenakan, bagaimana mungkin seorang dapat dikatakan berpengetahuan yang otentik apabila pengetahuan tersebut tidak didapat dari catatan kaki yang ada di lingkungan sekitar melainkan hanya dari buku saja. Padahal zaman mengalami perubahan terus-menerus teori hari kemarin bisa saja akan menjadi usang dalam sedetik sesudah ditemukan atau harus mengalami rekonstruksi. Dosennya pun pernah bercerita tentang bermacam-macam bisnis yang sukses dan strategi-strateginya, tetapi kemudia ia mengetahui bahwa pengajarnya tersebut tidak mempunyai usaha apapun. 

        Kehidupannya ditunjang dari jabatannya sebagai seorang PNS. Seandainya ia bercerita dan mengajar tentang pengajaran ilmu ekonomi termasuk strategi-strateginya supaya mahasiswa faham betul, maka Agus akan percaya karena ucapan dan tindakan adalah satu entitas. Tetapi tidak begitu kenyataannya, akhirnya ia mengalami keraguan yang hebat pada dirinya sendiri. Apakah kemudian ia memutuskan untuk berhenti kuliah atau mencari solusi lain? Entahlah, semoga saja ia mendapatkan solusi dengan apa yang dihadapinya.


                                                                                                                         Arif Prasetyo Huzaeri

                  Tegalwangi, 03-01-2021      

Post a Comment for "CERPEN: BERSALAMAN"