ORANG PALING BAIK SE-DESA
Sambil
mengendarai sepedah Unta yang telah dipenuhi dengan karat hampir diseluruh body-nya,
Sapto membawa satu karung rerumputan dari berbagai macam jenis. Itu adalah
karung kedua, karena karung pertamanya telah dibawa pulang sejak tadi pagi.
Jadi ia sehari merumput sebanyak dua periode. Seluruhnya ia gunakan untuk
memberi makan dan gizi kepada ternaknya, berupa dua ekor sapi dan dua ekor
kambing. Ternak tersebut bukanlah milik Sapto sendiri, melainkan milik Pak
Lurah yang dititipkannya. Seandainya Pak Lurah dari desa sebelah juga
menitipkan ternak ke Sapto maka ia harus mencari rumput lebih banyak lagi.
Sapto
bisa dikatakan orang baik juga orang lugu, bagaimana tidak? Tetangganya yang
bernama Bu. Ningsih seperti tiap hari meminta rumput, meskipun sedikit tetapi
setiap hari untuk anaknya yang memelihara marmut. Inilah yang menjadi jengkel Agus,
sebagai teman baik ia menasehati temannya itu yang baik pula. “To, kalau Bu
Ning meminta rumput jangan dikasih, setiap hari lagi, iya sekali-kali boleh,
tetapi ini kamu sendiri dimintai terus sudah beberapa tahun. Aku sendiri yang
menasehatimu seperti ini aja sudah setahun, kamu tetap aja”. Jadi Agus sudah
selama satu tahun menyuruh Sapto agar tidak memberikan rumputnya kepada
Bu.Ning. Sapto tetap bandel dengan memberinya terus.
Awalnya Sapto hanya sekedar menjawab “gak apa-apa”. Agus juga menasehati terus, akhirnya Sapto pun menjawab,”begini gus, saya tidak hanya bertanggung jawab terhadap sapi dan kambingnya pak lurah, tetapi saya juga bertanggung jawab terhadap kebaikan yang harus saya terima, dengan memberi rumput saya menerima kebaikan, selain itu saya juga telah mempertimbangkan jumlah rumput yang saya berikan, kecukupan makan sapi dan kambing akan saya utamakan, setelah itu baru saya berikan ke Bu. Ning”. “iya Sapto Hadiningrat, saya juga faham, perbuatan baik tidak mesti dengan cara memberikan kesempatan kepada orang-orang yang melihat kejadian ini menganggapmu sebagai orang gampangan, kehormatanmu dipandang rendah oleh mereka, bagaimana mungkin kebaikan bisa disebut kebaikan jika pelakunya menjadi mahar atas kelakuannya, justru seharusnya ia harus menumbuhkan tanpa mengurangi sedikitpun”.
Tanggapan Agus dijawab pula oleh
Sapto,”kebaikan begitu mudah untuk dilakukan, tetapi teramat sulit dan berat
untuk mewujud dalam bentuk sejatinya, bisa jadi suatu tindakan di nilai baik
oleh masyarakat tetapi sebenarnya itu adalah bentuk lain dari kepalsuan dan
basa-basi, oleh karena itu jika kebohongan diucapkan berkali-kali akan menjadi
kebenaran, sedangkan kejahatan yang dilakukan berkali-kali tidak akan menjadi
kebaikan, tetapi untuk kebaikan yang dilakukan berkali-kali akan mencapai
bentuknya yang paling sejati, meskipun di awal adalah nama lain dari kejahatan,
gus, saya ini hanya seorang pelatih kebaikan untuk diri saya sendiri”.
Perdebatan
keras sekalipun, tidak pernah membuat dua sahabat itu surut sehingga sampai
tidak tegur sapa. Semua itu hanyalah hiasan dalam bersahabat, karena Sapto
telah mengenal Agus, begitu pula dengan sebaliknya.
Memang
di Desa tersebut salah satu kebaikan bernama Sapto hadiningrat, seorang pemuda
dengan tubuh tegap, berotot sempurna, six pack. Postur tubuh itu
tidaklah didapat dari olahraga yang rutin dan juga tidak dari nge-gym,
melainkan dari kebaikan yang ia tanam dimasyarakat. Manakala ada warga yang
membutuhkan bantuan, tidak segan-segan Sapto ikut nimbrung mengulurkan
tenaganya. Tidak ada hasrat lain dalam prosesnya berbuat baik, semuanya murni.
Hal tersebut disimpulkan setelah orang yang dibantu oleh Sapto membalasnya
dengan air tuba, tidak sedikitpun bergeser niat baiknya berubah menjadi
kekecewaan.
Jelas ada unsur keluguan dalam diri Sapto. Tanpa sifat lugu, seseorang akan merasa kewalahan untuk menjalani hidup dengan kebaikan. Karena orang tanpa sifat lugu akan memberikan pertimbangan kebaikan dan kebenaran untuk dirinya, selama itu berlangsung proses kebaikan dapat membatalkan dirinya sendiri. Sebenarnya orang macam Sapto bukanlah orang baik, tetapi dalam dirinyaa juga terdapat kejahatan, hanya saja ia telah berhasil menon-aktifkannya, jangan sampai ada suatu peristiwa dalam hidupnya yang membuat jiwanya tergoncang lantas kejahatan secara tidak langsung dapat aktif, sehingga akan merusak seluruh program kebaikannya.
Selain daripada itu, ia harus belajar kebenaran pula sekalipun perlahan-lahan sekiranya tidak sampai merusak kebaikan yang telah ada, supaya kebaikan yang telah ia tanam tidak berguna untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang disekitarnya juga. Karena hanya dengan begitu ia mampu meningkatkan kebaikannya menjadi lebih berkualitas dan siap untuk diterjang sebuah petaka yang tiba-tiba datang.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 07-01-2021

Post a Comment for "CERPEN: ORANG PALING BAIK SE-DESA"