CERPEN: TAK KIRA MAU MAKAR, TERNYATA MAKARYO

BERUSAHA

TAK KIRA MAU MAKAR, TERNYATA MAKARYO

            Tanpa di duga-duga hari itu bukan hanya sekadar senen biasa bagi Agus. Hari dimana setelah terjadi hari minggu atau hari libur biasanya di isi dengan penuh semangat dan dedikasi yang full. Sebab hari sebelumnya telah digunakan untuk merefresh beberapa tegangan-tegangan yang ada dalam batin dan pikiran. Terkhusus untuk hari itu tidak, karena ketegangan langsung hadir bahkan pagi sebelum jam-jam kerja dan sekolah berlangsung. Sekitar pukul 06.15 sambil mengaduk-aduk teh panas sembari meratanya warna khas dari minuman tersebut. 

            Tangan kanan menggenggam telepon pintar membuka obrolan yang berada di whatsapp, tiba-tiba sudah masuk sebuah pesan berada dalam list lumayan berada dibawah, sehingga belum terjamah, dari seorang bernama Angga. Bunyi pesan yang ia sampaikan adalah:”bos hari ini saya mau makar yo, untuk itu secara pribadi aku mohon do’anya semoga lancar”.

            “Apa dia mau makar terhadap pemerintah yang sah....?”. Muncul kekhawatiran yang terbesit dalam pikiran Agus Santoso. Pertama, seorang teman mau makar kepada pemerintah yang sah. Tanpa mengetahui ia bergabung dengan aliansi atau komunitas untuk menjalankan misinya tersebut, jelas itu bukan perkara yang sepele dan darurat bahaya. Dari banyak pertimbangan, apabila dia makar berarti ia mempunyai kemantapan diri dalam berfikir, bertindak, dan berniat untuk menjalankan apa yang sebenarnya di impikan. 

            Sebagai seorang teman, saya cukup kasihan apabila ia benar-benar melaksanakannya. Jika sukses berarti ia akan menjadi penjahat nasional dikejar-kejar oleh aparat pemerintah. Lantas ia kemudian mau lari kemana?. Selain daripada itu, saya sendiri mengetahui kondisi ekonominya sehari-hari. Kok tiba-tiba mau makar, bukankah lebih baik untuk menata ekonominya saja kemudian ia bisa hidup sejahtera.

            Hal lain yang terbesit dalam pikiran, kedua adalah sebenarnya pengetahuan apa yang ia konsumsi selama ini, dimana saya sebagai temannya tidak mengetahui, padahal saya adalah teman yang baik dan setia, otomatis mengetahui segala perilaku teman saya satu ini. Pasti terdapat suatu hal yang sedari dulu ia sembunyikan, sampai pada titik tertentu setelah mencapai saatnya kemudian ia tampakkan. 

                Saya mengenalnya sejak sekolah dibangku MI, ia adalah pembaca UUD 1945 ketika upacara selama tiga tahun, yaitu mulai dari kelas 4aya mengenalnya sejak sekolah dibangku MI, ia adalah pembaca UUD 1945 ketika upacara selama tiga tahun, yaitu mulai dari kelas 4. Kemudian MTS sampai MA ia berada di pesantren, selama 6 tahun. Boyong dari pesantren kemudian kuliah, bahkan ketika ia kuliah hanya sekedar kuliah saja tidak pernah ikut-ikutan organisasi apapun bahkan terbilang mempunyai teman yang tidak begitu banyak. Karena kepribadiannya yang cukup lugu tidak suka main-main sampai kelewat waktu, nongkrong di kedai-kedai kopi.

            Lantas mana yang membuatnya kemudian mengambil jalan untuk makar. Sementara ia dalam hidupnya sejak kecil dilingkupi dengan segala macam kegiatan-kegiatan yang justru membuatnya diproteksi untuk tidak makar, kemudian tiba-tiba minta do’a untuk makar. Bahkan ia sendiri menyebut dengan jelas kata “makar” tersebut agar di do’akan, ini kan suatu hal yang tidak masuk akal sebenarnya. Kata ”makar” sendiri kan berkonotasi negatif, bagaimana mungkin teman saya itu seolah meminta izin untuk melakukan suatu hal yang tidak baik, bukankah seharusnya hal yang tidak baik apabila memang benar hendak di inisiasi orang-orang kebanyakan akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. 

            Jika tindakannya makar bukankah sebaiknya penggunaan katanya tidak secara terang-terangan, semisal bisa menggunakan kata jihad, revolusi, unjuk rasa, menjemput keadilan atau sebagainya. Kebanyakan orang memang tidak mengetahu antara kesadaran tindakan dan kesadaran kata. Kata yang biasanya digunakan dalam makna yang baik tetapi kadang digunakan dalam tindakan yang tidak baik karena konteks berbeda, sedangkan kata sendiri juga ikut menyejarah sepanjang zaman sedangkan kondisi realita dan segala variabel yang menyertai juga berbeda-beda dan berubah-ubah terus menerus.

            Pagi itu saya cukup dibuat pusing oleh teman satu ini, sudah berapa menit waktu yang telah saya lewatkan akibat membaca pesan tersebut kemudian berfikir mencari sebab darimana ia akan melakukan perbuatan yang begitu besar dan keberanian darimana yang ia curi, bukankah ia adalah orang yang lugu. Atau mungkin keluguan itu yang justru menjadikannya gampang dipengaruhi. Akhir-akhirnya saya putuskan untuk bertanya langsung akan maksudnya. 

            “Bro benar kamu mau makar? Hati-hati bro, itu tindakan yang....ya katakan kurang etis. Bisa-bisa makar mu gagal kamu di ciduk oleh polisi sebagai penjahat?”. Beberapa detik kemudian chatan tersebut di balas.”hahahaha (mengirim emoticon tertawa terpingkal-pingkal) nggak bos, bukan makar yo.....tetapi makaryo. Bacanya gak pakai spasi langsung nyambung”. Dalam batin sya berbicara sendiri sambil senyum-senyum, “owalah makaryo bukan makar yo.....”. kemudian saya balas WA nya,”oke bos, semoga sukses”.

Arif Prasetyo Huzaeri

              Tegalwangi, 16-12-2020

Post a Comment for "CERPEN: TAK KIRA MAU MAKAR, TERNYATA MAKARYO"