Kebanyakan penikmat film yang di adaptasi dari sebuah novel akan merasakan kecewa dengan apa yang telah ditonton berdasarkan apa yang telah dibaca. Seperti halnya menonton tenggelamnya kapal Vanderwick, refrain, laskar pelangi, 5 CM, dilan 1990, 3600 detik, surga yang tak dirindukan, sang pemimpi perahu kertas, sabtu bersama bapak, remember when dan lain sebagainya setelah membaca novelnya. Hal tersebut terjadi dikarenakan imajinasi penonton akan dibatasi dengan kemampuan sutradara untuk menampilkan cerita.
Menggambarkan isi
pikiran yang dituangkan kedalam tulisan bukanlah suatu yang mudah, karena
sutradara harus pandai-pandai mengatur plot dan menjaga imajinasi tulisan dapat
terulang kembali dalam karakter para aktor. Apabila tidak demikian maka seorang
sutradara akan cenderung mereduksi isi cerita didalam novel. Tambah lagi, yang
tidak kalah pentingnya sinematografi, apabila lagi-lagi gambar yang disusun
tidak mewakili ide dan cerita maka jelas menjadi sesuatu yang mengecewakan.
Tetapi kecewa
dan penyesalan itu semua hanyalah milik mereka yang telah membaca novel atau
cerita tulisnya. Sebab, sebagaimana yang telah disebutkan, ada pembatasan
terhadap imajinasi dikarenakan kemampuan sutradara untuk menghidupkan fiksi
tidak memadai. Berbicara mengenai suatu imajinasi, mirip halnya sifat keliaran.
Karena suatu imajinasi tidak akan mengharapkan apapun dengan dunia nyata
meskipun ia berdasarkan kenyataan. Seluruh bahan yang digunakan seorang
imajiner berasal dari apapun yang diserap oleh panca indra. Kemudian diproduksi
oleh pikiran dengan menggunakan modal yang berasal dari dunia nyata pula,
setiap serapan akan menjadi modal untuk memproduksi pengetauan dari panca indra
yang masuk. Oleh karena itu semakin banyak pengalaman seseorang maka daya imajinasinya
pun akan banyak pula.
Faktor lain
yang menjadi kekecewaan penonton adalah berkaitan dengan adanya segmen dalam
film yang ternyata tidak dicantumkan. Bisa dalam arti kesengajaan untuk tidak
menampilkan sebuah segmen cerita, lantas dipotong dengan dilanjutkan oleh
cerita selanjutnya. Pembaca akan jelas
menemukannya, karena kriteria dari membaca adalah ketelitian, sekali lengah
atau tidak fokus maka konten yang ia akses tidak akan tertangkap. Berbeda sekali
dengan kriteria menonton yang mana kurang teliti. Sifat dari seorang pembaca
adalah mengakses seluruh kata dimana makna nya akan membentuk sebuah jejaraing.
Sedangkan sifat dari seorang penonton akan memfokuskan pada inti dari alur cerita,
bisa dari percakapan atau gerak suatu kajadian. Dari sini kita dapat menyadari
kenapa membaca begitu melelahkan.
Ada lagi
kekecewaan itu berasal dari sifat subjektif penonton, yaitu manakala ia tidak
menyukai akto yang dipilih untuk berperan. Bukan dikarenakan kemampuan
aktingnya yang jelek, terkadang lebih kepada tidak sukanya apabila aktor atau
aktris tersebut mengambil peran dalam penokohan cerita. Sebab penonton
mendahului dengan imajinasi seorang aktor yang di atas rata-rata dunia nyata. Sekali
lagi hal ini persoalan imajinasi yang keliarannya tidak dapat ditampung dalam
kenyataan. Tetapi ada pula yang memang dikarenakan pemeran dalam film tidak
sesuai dengan pemeran dalam novel, semisal ketika novel menceritakan dengan
tokoh yang garang dan sinis tetapi malahan dalam film diperankan oleh seorang
yang berwajah melankolis.
Kekecewaan terhadap
novel yang difilmkan jelas banyak terjadi, tetapi untuk sebaliknya apabila
seseorang menonton film duluan lantas beralih dengan membaca novel sepertinya
kegiatan semacam ini sedikit dan jarang atau bahkan tidak dilakukan. Alasannya jelas
karena malas, menonton tayangan yang bergerak dengan sendirinya lebih mudah
daripada menangkap dan berfokus untuk menghayati dari satu teks ke teks
lainnya. Disamping efektifitas waktu juga tenaga yang dibutuhkan pun cukup
minimalis. Tetapi seandainya hal
tersebut dilakukan, maka pembaca yang telah menonton akan menemukan surplus
makna yang sedikit demi sedikit merasuki imajinasinya, sehingga apa yang ia
dapat dalam film akan lebih kompleks. Masalahnya adakah kegiatan seperti ini
dilakukan? Kalau ada pasti jarang, kebanyakan orang akan mencukupkan untuk
mendapatkan imajinasi dengan cara yang mudah daripada harus bersusah-susah
sekalipun hasilnya minimalis.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 21-06-2021

Post a Comment for "Kesan Menonton Film dan Membaca Novelnya"