Deduksi
Jika sebelumnya kita membahas Sylogisme, yaitu penarikan kesimpulan secara deduktif, yaitu dari sesuatu yang umum menuju sesuatu yang khusus. Maka itulah definisi dari deduksi dimana menggantungkan kebenaran pada premis mayor. Tetapi tidak sesederhana itu, untuk deduksi sendiri mempunyai beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagaimana berikut yang akan kita bahas.
Pertama, Ponens, pada
kriteria ini syaratnya adalah antaseden haruslah di afirmasi. Contoh:
1.
Jika seseorang batal
wudlu’nya, maka ia berhadats kecil
2.
Saya wudlu’nya batal
(antaseden)
3.
Saya berhadats kecil (consequent)
Dalam contoh tersebut, hadats
kecil adalah akibat dari batalnya wudlu’. Antaseden di afirmasi dengan kondisi
yang terjadi pada consequent.
Kedua, Tollens, consequent
harus di ingkari, tidak boleh di afirmasi. Contoh:
1.
Jika saya mempunyai uang,
maka saya akan naik haji
2.
Saya tidak naik haji
(consequent)
3.
Saya tidak punya uang
(antaseden)
Dalam contoh tersebut, consequent
tidak terjadi, karena antaseden sebagai syarat tidak mendukung.
Ketiga, Hypotetic Sylogisme,
contoh:
Jika A maka B
Jika B maka C
Jika A maka C
Kesimpulan A maka C diambil dari
hubungan C dengan B. Sedangkan B mempunyai hubungan dengan A.
Keempat, Disjunctive Sylogisme
/ logika “atau”. Contoh:
A atau B
Bukan A
Maka B
Dalam cara berfikir ini, terjadi pilihan antara salah satu dari dua jika bukan satunya maka akan berada pada satu dari jenis yang lain.
Induksi
Jika
deduksi adalah cara berfikir dari umum ke khusus, maka induksi adalah
kebalikannya, yaitu dari khusus ke umum. Dengan demikian akan membutuhkan
banyak asumsi yang bersifat khusus, untuk kemudian ditarik kesimpulan secara
umum. Contoh: hari ini kita menyimpulkan bahwa besi apabila dipanaskan akan
meleleh, karena berkali-kali uji coba tersebut terjadi maka kita akan
menyimpulkan demikian. Seandainya suatu kali ia gagal meleleh maka kesimpulan
tersebut akan menjadi batal.
Istilah
lain yang dapat digunakan adalah generalisasi. Bagaimana kondisi kebenaran
dapat dimungkinkan apabila mendapatkan sample yang banyak, sehingga kemungkinan
untuk di ingkari juga akan gagal. Dalam konteks ini induksi akan menjadi batal
jika menemukan pengecualian, selama tidak, maka ia akan terus di anggap benar.
Sifat kebenaran dari model induksi bersifat spekulatif, karena kebenarannya
tidak permanen atau dapat berubah-ubah.
3.
Abduksi
Abduksi
atau dalam terminologi Aristoteles menyebutnya dengan apagoge. Penarikan
kesimpulan yang dilakukan dengan kondisi salah satu dari kedua premis masih
bersifat kemungkinan. Contoh:
Setiap jenggot yang panjang
berarti radikal (premis mayor)
Seorang petani berjenggot panjang (premis minor)
Petani itu radikal (konklusi)
Karena premis di bangun berdasarkan kemungkinan, maka konklusi pun tidak pati pula kebenarannya. Dalam contoh tersebut tidak bisa dikatakan bahwa petani itu radikal, berdasarkan jenggot panjang adalah seorang yang radikal. Karena tidak seluruhnya yang berjenggot panjang adalah orang radikal.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 28-06-2021

Post a Comment for " Belajar Logika Seputar Deduksi, Induksi Dan Abduksi"