Belajar Logika Seputar Sebab Dan Akibat
Salah satu
kinerja dari akal manusia adalah mendeteksi suatu peristiwa karena adanyanya
peristiwa yang lain. Berbeda dengan hewan, Jostein Garder dalam novel Dunia
Shophie memberikan contoh yang menarik untuk persoalan ini. Apabila kita
melemparka bola kepada seekor kucing, maka seketika hewan tersebut akan lari
mengejarnya tanpa memperdulikan darimana bola tersebut berasal. Sedangkan
manusia akan lebih dahulu meninjau darimana bola tersebut berasal, bukan secara
spontan akan mengejarnya. Inilah yang merupakan watak dari akal manusia, yaitu
mengandung prinsip kerja sebab-akibat (cause and effect).
Dalam
pembahasan sebab-akibat terdapat bentuk yang menjadi model didalam hukum akal
pikiran manusia.
Pertama, dari sebab ke akibat. Contoh:
Saya membanting gelas (sebab)
Sehingga gelas tersebut pecah (akibat)
Pecahnya gelas merupakan akibat dari kegiatan saya
membantingnya. Jadi seandainya tanpa ada kegiatan “membanting” maka gelas
tersebut tidak akan dapat pecah dengan sendirinya. Sebab tersebut dalam kondisi
diketahui lantas menimbulkan suatu akibat.
Kedua, dari akibat ke sebab. Contoh:
Pagi itu sepedah saya mogok (akibat)
Kemudian saya membawanya ke bengkel (sebab)
Mogoknya sepedah merupakan akibat dari permasalahan mekanik
yang tidak diketahui, sehingga menyebabkan saya untuk membawanya ke bengkel.
Contoh kedua ini mempunyai titik pembeda dari yang pertama, yaitu terletak pada
sebab yang tidak diketahui sehingga mencoba untuk mencarinya, sedangkan untuk
yang pertama sebab tersebut telah diketahui.
Ketiga, dari akibat ke akibat. Contoh:
Karena saya lupa makan (akibat)
Akhirnya saya sakit (akibat)
Lupa makan menjadi akibat dari suatu sebab, semisal sibuk
bekerja sampai lupa makan, kemudian akibat lupa makan menimbulkan akibat pula
yaitu sakit. Sedangkan sebab pertama yang menimbulkan akibat secara beruntun
tidak disebutkan.
Suatu hal
dapat di kategorikan sebab apabila ia berpotensi untuk menimbulkan akibat.
Dengan suatu pertimbangan bahwa ia harus lah berkecukupan untuk mempunyai
syarat dalam menimbulkan akibat, dapat dipastikan tidak ada sesuatu yang
menghalanginya untuk menjadi sebab dan tidak ada sebab lain yang memungkinkan
untuk menggantikannya. Dari persyaratan sebab apabila telah teridentifikasi
dengan jelas, maka sesuatu dapat dikategorikan sebagai sebab.
Sekalipun
begitu sebab-akibat ternyata juga mempunyai kemungkinan untuk terjadi suatu kekeliruan. Terdapat dua
istilah untuk menyebut kesalahan yang terjadi pada hukkum sebab akibat.
Pertama, post hoc, ego propter hoc: sesudah ini maka karena ini. Contoh:
sesudah datangnya abdul, HP nya Jono yang rusak menyala. Dalam contoh ini jelas
kedatangan abdul yang seloah diposisikan sebagai sebab menyalanya HP Jono
adalah keliru, karena tidak ada keterkaitan antara keduanya. Kedua, Cum hoc
ergo propter hoc: bersama itu maka oleh karena itu. Bersama dengan
datangnya banjir, maka buaya di rawa berkeliaran di pemukiman. Kasus yang kedua
dapat dimungkinkan salah, apabila ternyata buaya tersebut telah datang lebih
dahulu sebelum adanya banjir, jadi bukan banjir yang menyebabkan buaya tersebut
datang. Oleh karena itu agar tidak terjadi salah dalam identifikasi sebab maka
membutuhkan ketelitian dan kejernihan dalam melihat sesuatu.
Dalam sejarah
pemikiran tercatat nama-nama akademisi besar yang mengambil posisi dalam
pemikirannya untuk menolak adanya hukum sebab akibat. Didalam khazanah keilmuan
timur nama Imam Al-Ghazali mengutarakan bantahannya berkaitan dengan sebab
akibat berdasarkan basis keimanan. Sedangkan didunia barat muncul nama David
Hume yang juga menolak adanya hukum sebab akibat, ia mendasarkan penolakannya
tersebut dengan dalil rasional, sebagai hasil dari pemikiran filosofisnya yang
mendalam.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 28-06-2021

Post a Comment for "Belajar Logika Seputar Sebab Dan Akibat"