Mengisolasi Diri Pada Masa Pandemi Covid-19 Dengan Cara Menulis
Sudah memasuki tahun yang kedua pandemi covid-19 tidak kunjung reda dan statistik penularan pun belum juga menurun. Dari sekian banyak yang sembuh, banyak pula yang sedang terpapar virus ini. Di satu sisi masyarakat untuk memenuhi kehidupannya diharuskan untuk tetap bekerja mencari nafkah, sehingga mereka secara tidak langsung haruslah mengalami kontak dan hubungan langsung dengan orang lain. Karena memang sumber mata pencaharian tidak bisa ditunggu dirumah saja, sedangkan keamanan agar penyebaran virus terputus bisa dilakukan dengan cara mengambil jarak atas hubungan sosial. Mau bagaimana lagi, akhirnya menjadi dilema.
Berbeda
dengan mereka yang kerjaannya adalah sebagai PNS atau pegawai kantoran dengan
sistem gaji sudah ditentukan per-bulannya. Pekerjaannya pun dapat dilakukan
secara online, sehingga mereka bisa memutus kontak dengan kerumunan orang
banyak. Masalahnya kebanyakan warga yang berpenghasilan seperti ini sangatlah
sedikit. Dengan demikian akan menjadi niscaya jika yang keluar rumah banyak
pula. bagi mereka yang harus bekerja di luar, dalam konteks gak kerja gak makan, maka sangat sulit untuk memetahi instruksi pemerintah tentang work from home (WFH).
Lain lagi bagi
sebagian orang yang telah biasa untuk keluar rumah, entah bekerja atau tidak, akan merasa bosan apabila
harus berada didalam rumah. Karena sudah menjadi kebiasaan, melakukan sesuatu
diluar kebiasaan merupakan pekerjaan yang sukar, bahkan akan merasa sedih. Jadi apabila seseorang telah
bekerja untuk menyambung hidup dengan cara berada diluar rumah, mereka akan
tetap saja menginginkan keluar rumah dengan kepentingan yang bermacam-macam
untuk menghilangkan jenuh, seperti berbelanja, menjalani hoby, sekedar
jalan-jalan dan lain-lain.
Sesuatu
kegiatan yang bisa dinilai produktif untuk pribadi sendiri atau demi
kemaslahatan hidup memang didapatkan kebanyakan dari luar rumah. Karena akses
yang didapat pun cukup beragam dan luas. Tetapi dalam situasi pandemi seperti
ini mengharuskan seseorang untuk tetap stay at home. Jika begitu
bagaimana mereka bisa produktif?
Perlu
kiranya kita mengambil pelajaran dari kejadian pada tahun1665, saat itu inggris
sedang menghadapi the great plague of london. Sebuah enyakit yang
diidentifikasi sebagai penyakit pes. Suatu penyakit yang ditularkan oleh kutu
lewat bakteri yang dinamai yersinia pestis. Angka kematian warga Inggris ada
waktu itu sekitar 100.000. sama dengan kondisi hari ini, mengharuskan untuk
mengisolasi diri dan tidak mengurangi kontak dengan dunia sosial (social
distancing).
Pada
zaman tersebut, hiduplah seorang ilmuwan kenamaan dalam bidang fisika ialah Isac Newton. Ketika wabah melanda ia sedang dalam status sebagai mahasiswa di
Cambridge. Kebijakan kampus menginginkan supaya para mahasiswa untuk belajar di
rumah saja. Begitu juga dengan Newton ia menghabiskan hari-harinya sambil
menunggu redanya wabah dengan belajar dirumah. tetapi justru dengan belajar
dirumah itulah ia semakin produktif. Temuan-temuannya seperti kalkulus, teori
optik, dan gaya gravitasi yang membawa namanya kepada ketenaran hingga hari
ini, ternyata didapatkan dalam situasi
yang sangat sempit. Padahal sebagai seorang ilmuwan mesti melakukan observasi
terhadap banyak sample sampai kemudian menghasilkan konklusi yang tidak
mempunyai potensi untuk dibantah.
Mengambil
ibrah atau pelajaran dari Isac Newton, maka dapat disimpulkan bahwa kita masih
bisa tetap produktif sekalipun akses keluar terbatas. Bahkan pada zaman Newton
sendiri kala itu tidak terdapat internet. Sehingga referensi atau wawasan yang
dibutuhkan pun terbatas tetapi nyatanya ia telah membuktikan keberhasilannya
untuk melakukan kegiatan yang produktif.
Salah
satu dari sekian upaya produktif dan tidak keluar rumah adalah kegiatan tulis
menulis. Kegiatan ini tidak hanya dimiliki oleh mereka dari kalangan akademisi
dan terpelajar saja, seperti Newton. Siapapun akan berpotensi dalam kegiatan
tersebut. Dikarenakan konten dalam sebuah tulisan bukan hanya sesuatu yang
biasa dipelajari di bangku-bangku sekolah saja. Melainkan juga segala jenis
pengalaman kita sehari-hari butuh untuk dibagikan kepada siapa pun.
Meskipun
akses dunia nyata kita dibatasi, tetapi akses dunia maya tetap berlangsung
bahkan lebih lincah. Karena kita tidak perlu kemana-mana tetapi sudah berada
dimana-mana. Hanya dengan bantuan telepon pintar yang terhubung dengan internet
kita bisa merambah sela-sela dunia. Untuk itu ide-ide unik dan menarik perlu
kita wujudkan dalam tulisan agar dapat di baca oleh orang lain sehingga
menginspirasi mereka, sebab terbatasnya akses sharing pengalaman tidak mungkin
bisa berjalan secara luas dan optimal tetapi juga tidak bisa ditinggalkan pada masa pandemi covid-19. Maka
cara jitu yaitu dengan menulisnya dan dibagikan di sosial media.
Pengalaman
yang kita tulis tidaklah perlu ribet-ribet. Cukup ide-ide sederhana dari suatu
sudut pandang tentang sebuah hobby itu sudah menarik. Disatu sisi menulis
merupakan upaya untuk melatih keterampilan otak kita, seseorang akan dapat
berfikir secara sistematis dan runtut tatkala ia melatihnya, salah satu caranya
adalah dengan menulis. Jadi menulis termasuk kegiatan yang meningkatkan kinerja
otak. Sehingga otak akan lebih fresh apabila sering digunakan.
Untuk
tulisan yang hendak dibagikan di sosial media, maka hal yang perlu kkita
waspadai adalah menjauhi berita bohong dalam tulisan. Diharuskan seorang
penulis untuk tetap menjaga keakuratan dan kejernihan iinformasi. Konskuensi bohong
atau hoaks dalam tulisan, lebih-lebih yang berkaitan dengan kondisi sosial akan
berdampak buruk bagi kestabilan masyarakat. Cara yang ditempuh agar menjauhi
hoaks adalah dengan tidak mengutip pendapat sembarangan dari internet tanpa
menguji validitasnya.
Untung-untung apabila tulisan kita memenuhi persyaratan dalam suatu media tertentu, kita dapat mengirimkannya. Apabila diterima maka akan mendapatkan royalti dan tulisan kita akan dibaca oleh mereka yang hendak mengambil manfaat. Tetapi apabila tidak, maka kita pun cukup berbagi manfaat lewat tulisan sebagai hasil pengalaman kita dengan membaginya lewat akun sosial media, itu pun juga memberi manfaat. Pastinya isi tulisan juga mengandung manfaat, tidak sekedar ocehan tanpa guna. Oleh karena itu tanpa harus menjadi seperti Isac Newton pun kita juga melakukan kegiatan produktif secara sederhana tanpa harus kemana-mana yaitu dengan menulis pengalaman-pengalaman pribadi atau ide-ide bermutu lainnya.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 30-06-2021

Post a Comment for "Mengisolasi Diri Pada Masa Pandemi Covid-19 Dengan Cara Menulis"