Bedah Film Mariposa: Memperjuangkan Kesadaran Mencintai

film mariposa

Bedah Film Mariposa: Memperjuangkan Kesadaran Mencintai

Judul film: Mariposa

Tahun rilis: 12 Maret 2020

Sutradara: Fajar Bustomi

Produser: Falcon Pictures dan Kharisma Starvision Plus

Genre: drama komedi romantis

Pemain: Adhisty Zara, Angga Yunanda, Abun Sungkar, Dannia Salsabila, Syakir Daulay dll.

        Mariposa adalah sebuah film yang di adaptasi dari novel karya Luluk HF. Secara bahasa berarti kupu-kupu, diambil dari kosa kata spanyol. Pemilihan nama tersebut memang hendak menyesuaikan pada alur cerita dimana filosofi dari kupu-kupu sebagaimana yang dituturkan oleh pengarang novel “kalau semakin dikejar, ia semakin menjauh, namun jika dibiarkan ia tampak memikat”. Ungkapan tersebut mewakili jalannya peristiwa didalam pergolakan kesadaran Adhisty Zara yang berperan sebaga Acha atau Nathasa Kaylovic untuk memperoleh sebuah ruang dihati Angga Yunanda dalam perannyaa sebagai Iqbal.

           Cerita ini di awali dari mutasi sekolahnya Acha ke SMA Arwana. Alasannya adalah dikarenakan sekolah tersebut memiliki olimpiade sains yang bagus. Tetapi ditengah perjalanan ia mulai mengubah niat, tidak sekedar ingin mengisi nutrisi otak melainkan juga memperhatikan nutrisi untuk hati. Tetapi sahabatnya, Amanda, berusaha untuk mencegah kemauan Acha. Bukan karena apa? Melainkan karena ia takut Acha akan kecewa dan sakit hati. Tetapi Acha tetap keras kepala untuk mendekati Iqbal dimulai dari berkenalan dan meminta nomer teleponnya.

Iqbal adalah seseorang siswa dengan karakter yang cukup dingin, berkali-kali sia-sia usaha Acha dalam mendekati Iqbal. keduanya tergolong siswa yang pintar, hanya saja di bidang yang berbeda, apabila Acha lebih menguasai pada mata pelajaran kimia maka Iqbal pada mata pelajaran Fisika. dengan karakter Acha sebagai anak yang manja, ceria dan mempunyai tekad yang kuat. Maka tiada henti-hentinya ia berjuanng untuk memperoleh apa yang ia yakini adalah bagiannya. Dimana kali ini adalah Iqbal itu sendiri.

Kegagalan berkali-kali, mulai dari nomer telepon dan ungkapan cintanya kepada Iqbal yang tidak digubris. Di lain  kesempatan Acha tetap berusaha untuk mengejarnya tetapi kali ini dengan cara menjauh, yaitu bersikap cuek kepada Iqbal. Dengan harapan menghadapi sikap cuek dengan cuek pula akan menghasilkan respon, hal tersebut rencananya akan dilakukan selama tujuh hari. Inisiatornya adalah Amanda. Tetapi hanya bertahan selama lima hari saja, itu pun karena Acha sendirilah yang menggagalkan, hasilnya pun untuk menarik dan merubah sikap Iqbal tetap nihil. Sampai kemudian seluruh jerih payah Acha dalam memperjuangkan rasa yang ia miliki dinilai oleh Iqbal sebagai “murahan” bukan “perjuangan”. Acha sendiri mulai kendor dalam memastikan tekad hatinya, sehingga seluruh perhatian yang ia buat untuk memikat Iqbal secara total ia tarik

 Sampai kemudian dipertemukannya Acha, Iqbal dan Juna dalam satu tim olimpiade Sains. Untuk nama yang terakhir disebut ia membidangi mata pelajaran matematika. Maka sikap Acha sudah biasa-biasa saja, bahkan cenderung menolak perhatian yang datang dari Iqbal, sebagai anggota timnya lebih-lebih sebagai harapannya dulu, karena kini telah pupus. Cerita berlanjut dengan kemenangan tim SMA Arwana dalam kejuaraan olimpiade Sains.

Kesadaran Iqbal mulai berubah, setelah ia memahami perasaannya sendiri sebagai tipikal anak yang sebenarnya tidak suka Sains. Jika ia disebut menguasai fisika, itu karena ia sedang dikejar-kejar oleh kemauan ayahnya untuk menggapai prestasi dalam mata pelajaran tersebut. Hingga ia menolak untuk kuliah di luar negeri, jelas ini pilihan yang mengagetkan karena kejadian tersebut berlangsung setelah Iqbal menang sebagai anggota tim. Di malam yang sama, sebenarnya terdapat pesta ulang tahun Acha, Iqbal tidak mendapatkan undangan karena memang undangan tersebut tidak sampai, sengaja tidak diberikan oleh Amanda. Sempat terjadi keributan, tetapi selesai setelah Iqbal yang tidak di undang ternyata datang dengan membawa boneka sapi, sebagai hadiah untuk Acha. Sebagaimana permintaannya dulu ketika berhenti di lampu merah. Akhirnya cerita tersebut ditutup dengan tergapainya apa yang dulu dikejar.   

Tragedi sebuah Kesadaran dan Penyesalan atas Sebuah Ketidaksadaran

            Cerita tersebut, bagi pembaca novelnya dan penonton filmnya akan menemukan sebuah cerita cinta sederhana (sebagaimana soundtrack film Mariposa). Yaitu seseorang yang hatinya ditumbuhi benih-benih cinta lantas mencari cara untuk mengucapkannya dengan perantara berbagai simbol, seperti bahasa, sikap gerak tubuh, mimik wajah dan tingkah-tingkah aneh yang lain. Karena bahasa hati lebih sukar dan berat untuk diucapkan daripada bahasa pikiran, apalagi untuk difahami.

            Kesederhanaan hanyalah milik penonton, tidak untuk seorang yang dirundung gelisah akan sebuah cinta, semakin hebat apabila seseorang tidak mampu mengucapkan sehingga hanya menjadi tumpukan didalam dada yang lantas menggunung. Acha dalam film Mariposa menjadi contoh seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, ia mampu menjawab pertanyaan aku ini? Aku sedang? Aku harus? Jawaban Acha adalah Iqbal. Ia memiliki kesadaran yang ada dalam dirinya sendiri tanpa harus didikte oleh sesuatu diluar dirinya. Ini merupakan sebuah bentuk kebebasan, dimana seseorang menguasai akan dirinya sendiri dan lebih dalam lagi minat jiwanya lebih dominan daripada kebutuhan tubuhnya.

            Tubuh akan menjadi penyambung dunia luar dengan jiwa (dualisme cartesian), tetapi apabila tubuh yang dominan maka seseorang termasuk bukan orang yang merdeka, karena tuntutan luar akan senantiasa bertubu-tubi tiada habisnya, bahkan akan merenggut kebebasan dan kebutuhan bahkan kewajiban seseorang untuk menjadi dirinya sendiri yang selayaknya harus ia mengerti, contoh orang semacam ini terjadi pada diri Iqbal. Akhirnya, karena ketidakmampuan untuk mengelola kesadarannya ia abai dengan teriakan dari jiwa Acha. Dengan demikian seseorang dapat mencintai orang lain apabila ia lebih dulu memperoleh kebebasan yang ada pada dirinya atau dengan kata lain ia harus mencintai dirinya sendiri. Keterlambatan akan hal tersebut akan berujung pada penyesalan, karena mau tidak mau ia sendiri yang harus menerima konsekuensinya atas sesuatu yang ia kehendaki atau pun dalam kehendak orang lain.

            Sampai disini tidak ada cerita cinta yang sederhana, karena seluruh rasa yang ada dalam hati senantiasa tereduksi oleh ketidakmampuan membahasakan makna yang terwujud dalam hati. Sesuatu yang tampak diluar hanyalah sekedarnya saja, mungkin hanya beberapa persennya saja seperti gunung es.

            Cerita Mariposa menggunakan filosofi kupu-kupu, yang dimaksudkan oleh penulis novel adalah “kalau semakin dikejar ia semakin menjauh tetapi kalau dibiarkan ia tampak memikat”. Memang kupu-kupu seperti hal itu, terkadang kupu-kupu itu sendiri akan tampak indah apabila ia tetap terbang mengelilingi petromaks, sekali ia memaksakan kegagahannya untuk menguasai cahaya yang ada dari dalam maka ia akan hancur dengan sayap yang terbakar. Untuk menterjemahkan cinta dua filosofi tentang kupu-kupu tersebut bisa digunakan, karena kebanyakan cinta juga akan mengalami kekosongan dan kehancuran, tetapi akan tetap indah apabila tidak tergapai, selesai hanya dalam dimensi rindu.

            Dalam film tersebut kita sama-sama lihat cintanya tergapai. Untuk kelanjutannya kita tidak tahu bagaimana hubungan antara keduanya. Sebenarnya menjadi seru dan menarik manakala melihat Iqbal sebagai posisi yang tak tergapai dan Acha sebagai pejuangnya. Karena cinta dalam film berakhir dengan hasil bukan dengan nihil, maka bukan berarti perjuangan Acha dan Iqbal telah berakhir pula, keduanya harus senantiasa mengupayakan terdapat rasa rindu yang terus menerus. Sebab dengan begitu cinta akan menjadi kata kerja bukan kata benda. 

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 19-06-2021 

 

Post a Comment for "Bedah Film Mariposa: Memperjuangkan Kesadaran Mencintai"