Sebagai
seorang yang berpandangan luas dan kemampuan mengkader dapat dilihat dari cara
Pak Santoso memberi nasihat dan wejangan kepada masyarakat sekitar. Ia sendiri
bukanlah aparat pemerintahan, tidak masuk dalam struktur desa mulai dari perangkat
sampai RT pun, bukan juga seorang tokoh Nasional, tidak pula tokoh agama,
setiap kali ada acara tahlilan Pak Toso tidak pernah memegang microphone untuk
membaca do’a. Ia berkumpul bersama masyarakat yang lain mulai dari golongan
kiri sampai kanan bisa berbaur. Hal itu semua dikarenakan kecerdasan yang
dimiliki dan mentalitas yang baik, digunakan dengan sepenuhnya.
Para
warga yang tanpa sengaja atau memnag menyengaja bertemu dengan Pak Toso, pasti
akan membahas persoalan yang cukup rumit, semisal arah pembangunan didesa mana
yang lebih didahulukan, peningkatan sumber daya manusia, rembuk-rembuk
acara di masjid dan sebagainya banyak kali setiap peristiwa dimana Pak Toso
berkecimpung didalamnya.
Beliau
mempunyai seorang anak laki-laki bernama Agus Santoso, sebagai seorang bapak
Pak Toso, panggilan dari Santoso, menggembleng anaknya habis-habisan. Karena
seorang anak adalah bayangan dari bapaknya, hanya saja ia mendapatkan
kesempatan merdeka. Salah satu cara dari Pak Toso adalah dengan sering-sering memberi
pengarahan layaknya panitia dalam suatu acara memberikan petunjuk kepada
peserta. Tetapi memang itu yang dilakukan olehnya.
Menurutnya
Agus harus banyak-banyak belajar dari percobaan sesuatu tujuannya bukan untuk
berhasil, melainkan untuk mencoba. Seandainya gagal maka sebenarnya ia telah
berhasil dalam mencoba. Ia mengharapkan Agus supaya berguru kepada realitas,
karena darinya lah akan ditemukan penampakan diri yang sesungguhnya. Di
ibaratkan realitas adalah cermin dari seorang manusia, kadangkali manusia gagal
melihat bentuk sejati dari dirinya lewat cemin realitas. Oleh karena itu harus
banyak-banyak mencoba lagi dan lagi.
Bisa
dibayangkan ternyata Pak Toso mengajarkan ilmu semacam itu sejak Agus duduk
dibangku SMP. Entahlah, paham atau tidak. Tetapi jelasnya tidak akan paham apa
yang dimaksud, sekalipun penyampaiannya menggunakan bahasa yang paling
sederhana sekalipun. Sesuatu yang pernah ditanam nyatanya tumbuh pula, karena
semua hanya masalah kapan dan kualitas dari buah dan indah bunganya saja
mungkin berbeda.
Sampai Agus
duduk dibangku kuliah hasil dari Pak Toso sejak dulu mulai membuahkan hasil.
Sekalipun seujung kuku saja. Jadi Agus adalah model orang yang selalu ingin
tahu dan terhadap segala sesuatu. Tingkatan pengetahuan yang ingin dicapai
bukan suatu yang biasa-biasa saja melainkan cukup tinggi dan rumit. Bisa
dikatakan pada taraf jarang diminati orang. Itu adalah bentukan dari didikan
Pak Toso.
Salah satu
kebiasaannya adalah dengan mengikuti seminar-seminar yang diadakan di Fakultas
lain. Beragam pula keilmuan dan wacana yang telah ia ketahui.
Kemarin-kemarinnya ia menghadiri seminar di Fakultas Ilmu dan Budaya pokok
pembahasannya mengenai pikiran-pikiran dari Clifordz Gertz sebelumnya pernah
membahas tentang tetralogi pulau buru, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa,
Jejak Langkah dan Rumah Kaca Novel dari Pramoedya Ananta Toer.
Kalau sekedar
seminar atau simposium yang pernah diadakan oleh Fakultasnya kiranya sudah
sangat sering diikuti, diantaranya dengan tema yang cukup spektakuler yaitu
perbandingan antara Das Kapital dan The Wealth of Nation. Dari seluruh fakultas
yang ada Pendidikan, Hukum, Ilmu Sosial dan Politik sepertinya Agus jarang
sekali absen. Bahkan ia rela untuk tidak hadir dikelas apabila melihat tema
diskusi memikat pikirannya.
Entah, berguna
apa tidak seluruh diskusi yang pernah dihadiri. Tersimpan dengan rapi dalam
ingatannya atau hanya sekedar sensasi dalam pikiran belaka, karena termasuk
kegembiraan adalah manakala mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.
Jelas Agus gembira. Sekali lagi, apakah ada manfaatnya atau tidak? Sekalipun
sekarang ini tidak bisa dipaksakan adanya manfaat dalam kesehariannya, tetapi
pengetahuan bersifat mengendap dalam pikiran, sampai suatu momen akan muncul
dengan mengartikulasikan dirinya pada sebuah peristiwa.
Kehadiran Agus pada sebuah pengalaman yang disediakan oleh realitas, pastinnya telah menunjukkan wajahnya pada kondisi tersebut. Tinggal ia akan mengamati dan mengenali dirinya sendiri atau tidak adalah kebebasan baginya. Sedangkan pengetahuan yang dibahas adalah cahaya yang menjadikan gambar benda bisa masuk kedalam penglihatannya. Sekali lagi tinggal Agus yang bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang ada pada dirinya sendiri.
Pak Toso pada hakikatnya hanya sekedar menunjukkan apa yang seharusnya dilihat oleh Agus didalam kedalaman dirinya dengan bantuan realitas. Dunia yang ia hadapi, yaitu perkuliahan, adalah sedikit dari puing-puing dunia. Masih banyak yang harus ia jadikan cermin untuk melihat dirinya sendiri. Bahkan seminar dan kuliah adalah salah satu saja dari realitas perkuliahan. Selainnya masih banyak. Apalagi jagat dunia ini.
ARIF
PRASTYO HUZAERI
Tegalwangi,
04-01-2021

Post a Comment for "Cerpen: Melihat-lihat "