Cerpen: Melihat-lihat

 

melihat

Melihat-lihat        

            Sebagai seorang yang berpandangan luas dan kemampuan mengkader dapat dilihat dari cara Pak Santoso memberi nasihat dan wejangan kepada masyarakat sekitar. Ia sendiri bukanlah aparat pemerintahan, tidak masuk dalam struktur desa mulai dari perangkat sampai RT pun, bukan juga seorang tokoh Nasional, tidak pula tokoh agama, setiap kali ada acara tahlilan Pak Toso tidak pernah memegang microphone untuk membaca do’a. Ia berkumpul bersama masyarakat yang lain mulai dari golongan kiri sampai kanan bisa berbaur. Hal itu semua dikarenakan kecerdasan yang dimiliki dan mentalitas yang baik, digunakan dengan sepenuhnya.

            Para warga yang tanpa sengaja atau memnag menyengaja bertemu dengan Pak Toso, pasti akan membahas persoalan yang cukup rumit, semisal arah pembangunan didesa mana yang lebih didahulukan, peningkatan sumber daya manusia, rembuk-rembuk acara di masjid dan sebagainya banyak kali setiap peristiwa dimana Pak Toso berkecimpung didalamnya.

            Beliau mempunyai seorang anak laki-laki bernama Agus Santoso, sebagai seorang bapak Pak Toso, panggilan dari Santoso, menggembleng anaknya habis-habisan. Karena seorang anak adalah bayangan dari bapaknya, hanya saja ia mendapatkan kesempatan merdeka. Salah satu cara dari Pak Toso adalah dengan sering-sering memberi pengarahan layaknya panitia dalam suatu acara memberikan petunjuk kepada peserta. Tetapi memang itu yang dilakukan olehnya.

Menurutnya Agus harus banyak-banyak belajar dari percobaan sesuatu tujuannya bukan untuk berhasil, melainkan untuk mencoba. Seandainya gagal maka sebenarnya ia telah berhasil dalam mencoba. Ia mengharapkan Agus supaya berguru kepada realitas, karena darinya lah akan ditemukan penampakan diri yang sesungguhnya. Di ibaratkan realitas adalah cermin dari seorang manusia, kadangkali manusia gagal melihat bentuk sejati dari dirinya lewat cemin realitas. Oleh karena itu harus banyak-banyak mencoba lagi dan lagi.

Bisa dibayangkan ternyata Pak Toso mengajarkan ilmu semacam itu sejak Agus duduk dibangku SMP. Entahlah, paham atau tidak. Tetapi jelasnya tidak akan paham apa yang dimaksud, sekalipun penyampaiannya menggunakan bahasa yang paling sederhana sekalipun. Sesuatu yang pernah ditanam nyatanya tumbuh pula, karena semua hanya masalah kapan dan kualitas dari buah dan indah bunganya saja mungkin berbeda.

Sampai Agus duduk dibangku kuliah hasil dari Pak Toso sejak dulu mulai membuahkan hasil. Sekalipun seujung kuku saja. Jadi Agus adalah model orang yang selalu ingin tahu dan terhadap segala sesuatu. Tingkatan pengetahuan yang ingin dicapai bukan suatu yang biasa-biasa saja melainkan cukup tinggi dan rumit. Bisa dikatakan pada taraf jarang diminati orang. Itu adalah bentukan dari didikan Pak Toso.

Salah satu kebiasaannya adalah dengan mengikuti seminar-seminar yang diadakan di Fakultas lain. Beragam pula keilmuan dan wacana yang telah ia ketahui. Kemarin-kemarinnya ia menghadiri seminar di Fakultas Ilmu dan Budaya pokok pembahasannya mengenai pikiran-pikiran dari Clifordz Gertz sebelumnya pernah membahas tentang tetralogi pulau buru, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca Novel dari Pramoedya Ananta Toer.

Kalau sekedar seminar atau simposium yang pernah diadakan oleh Fakultasnya kiranya sudah sangat sering diikuti, diantaranya dengan tema yang cukup spektakuler yaitu perbandingan antara Das Kapital dan The Wealth of Nation. Dari seluruh fakultas yang ada Pendidikan, Hukum, Ilmu Sosial dan Politik sepertinya Agus jarang sekali absen. Bahkan ia rela untuk tidak hadir dikelas apabila melihat tema diskusi memikat pikirannya.

Entah, berguna apa tidak seluruh diskusi yang pernah dihadiri. Tersimpan dengan rapi dalam ingatannya atau hanya sekedar sensasi dalam pikiran belaka, karena termasuk kegembiraan adalah manakala mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. Jelas Agus gembira. Sekali lagi, apakah ada manfaatnya atau tidak? Sekalipun sekarang ini tidak bisa dipaksakan adanya manfaat dalam kesehariannya, tetapi pengetahuan bersifat mengendap dalam pikiran, sampai suatu momen akan muncul dengan mengartikulasikan dirinya pada sebuah peristiwa.

Kehadiran Agus pada sebuah pengalaman yang disediakan oleh realitas, pastinnya telah menunjukkan wajahnya pada kondisi tersebut. Tinggal ia akan mengamati dan mengenali dirinya sendiri atau tidak adalah kebebasan baginya. Sedangkan pengetahuan yang dibahas adalah cahaya yang menjadikan gambar benda bisa masuk kedalam penglihatannya. Sekali lagi tinggal Agus yang bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang ada pada dirinya sendiri. 

Pak Toso pada hakikatnya hanya sekedar menunjukkan apa yang seharusnya dilihat oleh Agus didalam kedalaman dirinya dengan bantuan realitas. Dunia yang ia hadapi, yaitu perkuliahan, adalah sedikit dari puing-puing dunia. Masih banyak yang harus ia jadikan cermin untuk melihat dirinya sendiri. Bahkan seminar dan kuliah adalah salah satu saja dari realitas perkuliahan. Selainnya masih banyak. Apalagi jagat dunia ini.

ARIF PRASTYO HUZAERI

Tegalwangi, 04-01-2021


Post a Comment for "Cerpen: Melihat-lihat "