Sebab-Akibat Dalam Kacamata David Hume
Sudah menjadi kewajaran kiranya apabila sesuatu yang terjadi selalu mendapat perhatian untuk dicarikan alasan atau dasar kenapa hal tersebut dapat terjadi. Ketika kita mendekatkan api pada daging dalam waktu yang berlebihan maka akan hangus, tetapi apabila dalam waktu yang pas, maka daging tersebut akan matang. Hangus dan matang adalah akibat dari adanya api.
Karena seandainya tanpa adanya api maka pada daging tersebut tidak akan terjadi apa-apa. Hasil yang dicapai mengalami perbedaan disebabkan penggunaan intensitas waktu yang berbeda pula. Indikator ini semakin menguatkan kalau api memberikan pengaruh terhadap daging atau dengan kata lain api menjadi sebab atas kondisi daging yang ia sentuh. Telah menjadi kesepakatan umum berkaitan dengan contoh tersebut. Akhirnya membentuk skema dalam pikiran manusia tentang adanya hukum akal pikiran yang tidak terjadi pada hewan. Tidak dapat dipungkiri berpikir dalam koridor sebab-akibat merupakan identitas dari kewarasan.
Apabila terdapat seseorang yang menolak potensi api yang bisa membakar, air yang bisa membasahi, benturan yang akan menjadikan kerusakan dan sebagainya pasti dalam lingkungan orang-orang waras ia dianggap gila. Sesuai konsep ke-gila-an, apabila ada seseorang yang membedai pendapat umum dalam konteks yang semestinya adalah kesepakatan tanpa adanya ganggu gugat, maka ia adalah gila. Apabila seseorang mempunyai akal pikiran yang dengannya ia tidak mampu atau kurang untuk mengidentifikasi sebab-akibat suatu persoalan, maka oleh sekelilingnya ia bisa di anggap ber-IQ rendah.
Maha filsuf Aristoteles mengidentifikasi macam-macam sebab menjadi empat item: sebab material, sebab efisien, sebab formal dan sebab terakhir yang mana sama-sama akan berakhir pada sebuah akibat. Dengan pandangannya tersebut dapat dimaksudkan kalau sebenarnya ia mempercayai adanya hukum sebab-akibat dan hal tersebut adalah sehat bagi akal karena dengan begitu ia telah menyadari suatu tabiat dari pikiran. Tetapi, lantas akan menjadi problematis apabila terdapat orang dari kalangan cerdik cendekia dimana pemikirannya mempunyai otoritas akan suatu kebenaran dan ternyata menolak adanya hukum sebab-akibat. Bahkan penolakannya itu mendapatkan sokongan dari argumentasi yang kuat pula. Salah satu pemikir yang menolak adanya kausalitas adalah David Hume. Untuk itu mari kita telaah pemikirannya
Ia
adalah seorang filosof kelahiran Skotlandia, pemikiran filosofisnya dikenal
dengan empirisisme sedangkan teori pengetahuannya adalah skeptisisme. Untuk itu
ia mengambil jalan yang berlainan dengan bapak modern Rene Descartes. Sekalipun
Hume adalah seorang yang sangat berpengaruh lewat pemikiran-pemikiran
filosofisnya, ternyata apa yang dianggap kehebatannya bukan lah kegemarannya
yang utama, ia lebih menikmati bermain biliard. Diceritakan bahwa setelah ia
bermain maka Hume menemukan kembali semangat berfilsafatnya.
Empirisisme adalah mode dari cara berfikir Hume, kemudian dari caranya berfikir ini mewarnai suatu bentuk pemikiran yang lain tentang sebab-akibat yang mana ia mengambil sikap menolak. Untuk memahami pikiran Hume tentang kasus ini, kita mesti melakukannya dengan pelan-pelan, dimulai dari asumsi bahwa manusia mempunyai kepercayaan kepada suatu fakta berdasarkan acuannya pada sebab.
Untuk sesuatu yang belum terjadi akan mendapatkan pembenaran jawaban tidak lain dari pengalaman, dengan operasionalisasi pikiran yang menjurus kepada adanya sebab-akibat. Sepenuhnya didapatkan dari pengalaman empiris bukan dari penalaran rasional. Tetapi menurut Hume, apa yang kita dapat dari pengalaman bukanlah berasal dari hubungan sebab-akibat melainkan adanya relasi serialitas, yaitu suatu rangkaian “setelah ini , maka ini”. Daging hangus bukan sebab api, melainkan daging hangus setelah terkena api. Secara empiris kita tidak pernah melihat keniscayaan kausalitas. Karena yang kita lihat hanyalah sebuah kebiasaan, daging hangus, kemudian dari sana kita lantas mengambil kesimpulan.
Jika seluruh penalaran akan sebuah pengetahuan berdasarkan pengalaman, maka berarti pembenaran tersebut diperoleh dari sesuatu yang ada pada masa lalu. Menjadi lebih problematis apabila hendak dicarikan pembenaran jawaban tentang sesuatu di masa depan dengan jawaban masa lalu. Ketika daging dapat hangus dengan adanya api, maka apakah dapat dipastikan untuk masa depan kejadian tersebut bisa terulang. Dasarnya apa? Sedangkan masa depan adalah sesuatu yang tidak dapat kita akses secara rasional maupun pengalaman. Oleh karena itu jawaban-jawaban kita berkaitan dengan sebab-akibat adalah kebiasaan yang terjadi di masa lalu dan senantiasa terus berulang. Sehingga kita memastikan di masa depan pun akan terulang juga.
Menurut
Hume, kausalitas selalu didasarkan pada imajinasi yang diperoleh dari kebiasaan.
Jika memang kausalitas itu berlaku, maka harus adanya kemutlakan pada sebab
untuk menghasilkan suatu akibat secara konsisten. Hume memberi ilustrasi dengan
menggunakan bola billiard.
Ketika
bola billiard pertama disodok ke bola kedua lantas masuk, itu hanya salah satu
alternatif dari beberapa kemungkinan. Karena bisa saja bola tersebut tidak
masuk, melenceng, bahkan keluar dari permainan. Hal ini dikarenakan bola
pertama tidak mempunyai sifat mutlak untuk memasukkan bola kedua. Begitu juga
dengan api yang membakar, hangus merupakan peristiwa dari salah satu
kemungkinan. Kita tergesa-gesa apabila mengambil kesimpulan kalau api telah
menghanguskan dan senantiasa akan terus menghanguskan. Kesimpulan hari ini
digunakan untuk masa depan tidaklah bisa diterima.
Oleh
karena itu segala yang terjadi, bagi David Hume, bukan peristiwa kausalitas
melainkan sesuatu yang bersifat serialitas. Dikarenakan segala peristiwa
mempunyai kesempatan untuk menjadi kemungkinan bukan kepastian. Sedangkan kausalitas
selalu meniscayakan adanya kepastian dengan dasar kebiasaan di masa lalu,
padahal, sebagai seorang empiris, pengetahuan bisa di dapat dari pengalaman
yang telah terjadi. Untuk masa depan merupakan suatu misteri yang belum
terjadi. Oleh karena itu tidak dapat dipastikan.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 30-06-2021

Post a Comment for "Sebab-Akibat Dalam Kacamata David Hume"