Bedah Film Trinity, The Nekad Traveler

film


Judul film: Trinity, The Nekad Traveler

Tahun rilis: 17 Maret 2017

Sutradara: Rizal Mantovani

Produser: Tujuh Bintang Sinema

Pemain: Maudy Ayunda, Hamish Daud, Babe Cabita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini Theo, Farhan

Film ini diadaptasi oleh sebuah buku karya trinity yang berjudul the naked traveler. menceritakan perjalanan seorang perempuan bernama trinity, diperankan oleh Maudy Ayunda, yang bekerja di sebuah perusahaan dengan kesibukannya traveling. Sebagai suatu hobi yang dipertahankan disamping pula himpitan pekerjaan, maka hari libur adalah hari-hari yang sangat ditunggu-tunggu untuk mengisi wakktu bepergian.

Sesuai judulnya the nekad, karena maemang perjalanan yanng dilakukan oleh Maudy memang benar-benar nekad. Tidak sekedar sempitnya waktu, tetapi juga minimnya kantong, sedangkan biaya perjalanan jelas tidak sedikit. Maka modal utama agar hobinya tercapai adalah dengan cara nekad.

Maudy disamping sebagai seorang traveler juga sebagai seorang travel writer, penulis catatan perjalanan. Dari seluruh perjalanan ia tuliskan lanjut diunggah ke blog pribadi miliknya dengan title the naked traveler. Seluruh konten yang ia miliki berasal dari perjalanannya. Sehingga ketika tidak melakukan perjalanan maka tidak ada konten yang bisa dituliskannya.

Dalam cerita, ia telah diminta oleh ayahnya yang diperankan oleh Farhan, untuk segera menikah, agar Farhan sesegera mungkin dapat menimang cucu. Tetapi oleh Maudy keinginan ayahnya masih ditangguhkan sampai ia menyelesaikan bucket list. Semacam catatan yang harus dikunjungi dan dilakukan dalam perjalanannya.

Beberapa tempat yang dikunjungi dalam film diantaranya adalah Lampung. Disana ia telah menjadwal untuk menonton sebuah festival layang-layang, kemudian berpindah untuk menyaksikan anak gunung Krakatau, melihat gajah. Di tempat itu ia bertemu dengan Hamish Daud, yang berperan sebagai Paul, juga sebagai traveler. Ada peristiwa menarik disana, yaitu ketika Paul menolak untuk diajak bertukar nomor telepon, ia mengisyaratkan bahwa apabila memang jodoh pastinya akan bertemu. Dengan sangat yakin ia mengucapkan kata itu kepada Maudy.

Sepulangnya dari lampung, sebagaimana seperti biasa. Maudy Ayunda bekerja seperti tiap harinya. Pada waktu itu kantor kedatangan tamu, seorang artis, Tompi. Dengan seketika Maudy alias Trinity mengajak selfi. Foto tersebut menjadikan Maudy lagi-lagi harus pergi ke Makasar, Sulawesi. Lagi-lagi traveling dalam tugas kantor untuk mengirimkan Melon kotak kepada Tompi, sebagaimana permintaannya kalau melon tersebut harus diantarkan oleh seseorang yang perrtama kali mengajaknya selfi dikantor itu.

Kesempatan traveling yang lain ditampilkan dalam film tersebut adalah ketika ada jatah cuti kerja, ia dan kedua teman perempuannya, Rachel Amanda dan Anggika Bosterli ditambah satu lagi sepupu laki-lakinya Babe Cabita hendak bepergian ke Philipina. Akhirnya mereka pun berangkat.

Traveling terakhir dalam film adalah dengan tujuan ke Maldives dengan dibelikan oleh seseorang tidak dikenal, Mr.X. keberangkatannya dari philipina dengan meninggalkan ketiga kawannya tersebut. Disana ia bertemu dengan Paul, karena pertemuan itu, seperti ucapannya dulu, kalau bertemu lagi berarti jodoh. Akhirnya bertemu juga. Tetapi Trinity menolaknya, yang diduga sebagai seseorang yang telah membelikan tiket. Ternyata bukan.

Akhir cerita ditutup dengan dengan suatu konflik batin yang dialami Trinity. Ia mulai berpikir tentang sikapnya sendiri yang menurutnya egois. Ia mengambil sikap untuk menyebarkan kisah petualangnya itu kepada siapapun, dengan cara menuliskan cerita-ceritanya sebagai buku. Tidak lagi dalam artikel di blog.

Menonton Perjalanan Orang

Film tersebut, sebagaimana telah disebutkan, adalah adaptasi dari buku The Naked traveler. Sedangkan buku tersebut adalah kumpulan cerita perjalanan dari Trinity (nama asli orangnya). Sebagaimana bukunya adalah kisah nyata, maka filmnya dalam garis besar adalah cerita nyata pula.

Menonton cerita orang lain memang sangat menarik. Lebih-lebih ketika cerita tersebut adalah nyata. Untuk cerita yang satu ini, bukanlah tontonan yang harus mempersiapkan mental lebih. Dikarenakan beberapa adegannya menantang emosi. Ini yang disayangkan, karena film yang memacu emosi lah yang berkesan, film ini kurang memberikan pada aspek tersebut. Tidak ada air mata, bawa-bawa perasaan, tidak sedikit atau banyak merubah tatanan emosi.  

Ada dua hal, kiranya, yang menarik, pertama pemandangan lokasi traveling. Sebagai suatu tontonan yang santai, sebelum menonton seseorang akan menginginkan pemandangan lokasi yang dikunjungi untuk traveling. Setelah menonton ia akan mengingat-ingat lokasi tersebut. Kedua, anggapan salah ketika Paul mengatakan kalau jodoh akan ketemu tanpa harus ada nomor telepon. Memang benar-benar ketemu tetapi Trinity menolak. Sehingga penonton yang mengira kalau jodoh ternyata tidak dibuat keliru. Kekeliruan itulah yang menarik, sebab apa yang dipikirkan tidak lalu terjadi.

Film ini juga mempunyai potensi untuk memberikan motivasi, yaitu pada adegan Trinity untuk mengambil langkah mencetak tulisannya sebagai buku. Bagi para penulis jelas menjadi motivasi, sekalipun bagi mereka dengan profesi yang lain belum tentu.

 

Tegalwangi, 31-07-2021        

 

Post a Comment for "Bedah Film Trinity, The Nekad Traveler"