Budaya Bangun Pagi

budaya bangun pagi

Budaya Bangun Pagi

Immanuel Kant seorang filosof besar asal Konigsberg yang sangat berpengaruh pemikirannya, ia yang dikenal orang pada umumnya telah mendamaikan perseteruan antara rasionalisme dan empirisme. Ternyata mempunyai tata aturan dalam kehidupannya yang unik. Ia seorang yang sangat disiplin. Bangun pagi jam 05.00 entah dalam musim dingin atau musim panas. Ia mempunyai seorang pembantu, Martin Lampe, pensiunan tentara prussia. Kant memberi wewenang kepada pembantunya itu untuk membangunkannya, bahkan untuk menyeretnya dari tempat tidur, ketika Kant tampak malas untuk bangun atau berteriak dengan nada militer.

Sedangkan untuk mereka yang memang pengagum sekaligus penikmat pagi. Bisa menikmati pagi dengan bangun lebih awal. Tetapi juga bisa menikmatinya dengan tidur. Kedua kegiatan tersebut memang sama-sama nikmat. Cuma bedanya terdapat ketika memilih untuk bangun dan tidak tidur, seolah hari itu pikiran cerah, sekalipun langit dalam bentuknya yang nyata sedang mendung.

Sedangkan untuk yang melanjutkan tidur atau kebablas tidurnya, bangun-bangun terik matahari sudah menyentuh pucuk pohon kelapa, maka yang dirasakan adalah seolah sepanjang hari itu terasa suram sebagian lagi marasa harinya berkabut, sekalipun langit pada kenyataannya cerah. Perumpamaan tersebut merupakan hasil pengalaman dari suasana yang pernah menjalaninya.

Terkhusus bagi para pedagang seolah menjadi kewajiban untuk bangun pagi. Jelas motivasinya adalah ekonomi, bukan sebab sholah jama’ah subuh atau tahajud. Untuk mengejar pasar dan bangun pagi selalu dikaitkan dengan rezeki. Jadi orang yang bangunnya kesiangan, katanya dalam suatu peristilahan rezekinya di cucok pitek. Artinya habis, karena ayam bangun lebih awal.

Untuk para pedagang dimanapun berada, secara mayoritas tidak diragukan lagi mereka selalu mendominasi dalam hal bangun pagi. Mungkin ada sekedarnya saja, yang bangun agak siang-siang dikit. Tetapi siangnya pedagang bangun tidur ketika pagi adalah paginya bagi selain pedagang. Untuk warung kopi, jenis perdagangan juga, yang buka 24 jam tidak bisa dikaitkan dalam kategori ini. Karena yang dapat shift malam hingga pagi, ketika waktunya orang tidur ia bangun, ketika orang-orang bangun tidur ia tetap bangun, belum tidur.

Tidak kalah rajin dengan pedagang adalah petani. Tetapi sepertinya masih kalah bangun paginya. Para petani tergolong orang yang rajin, oleh karena itu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke sawah kalau tidak matahari tepat diatas ubun-ubun tidak pulang. Profesi ini dalam menyikapi bangun paginya, mayoritas bangun beberapa menit sebelum adzan subuh atau beberapa menit setelah iqomah subuh. Setidaknya tidak menunggu cahaya naik baru bangun.

Sesuai jadwal tiap harinya, para petani tergolong pekerja yang keras dan berat. Mencangkul, menanam, angkat-angkat pupuk, tangki dan seluruhnya dibawah terik matahari. Karena pekerjaan siang harinya berat, memungkinkan mereka malamnya untuk tidak tidur terlalu malam, sebab sudah capek. Sehingga pagi harinya pun ia dapat bangun pagi.

Lain lagi dengan karyawan kantoran, golongan ini termasuk orang-orang yang paginya agak terlambat. Sedikit saja jumlahnya yang bangun paginnya tepat waktu. Artinya memang pagi, tidak menunjukkan siang dengan munculnya berkas-berkas sinar. Pada prinsipnya karyawan kantoran tidak terlalu butuh untuk bangun pagi sekali atau pagi standard, bangun sepagi apapun atau sesiang apapun, toh gajinya tetap. Pokoknya tidak terlamabat masuk kantor. Itu saja.

Dengan penggunaan prinsip seperti itu bagi mereka memang pagi adalah pertanda rajin. Tetapi kategori rajin adalah tidak terlambat masuk kantor. Jadi apabila masuknya jam tujuh. Seandainya bangunnya jam setengah tujuh dan samapai kantor jam tujuh kurang satu menit saja maka ia dikatakan rajin. Sebaliknya apabila bangunnya sangat pagi, sebelum subuh bahkan, tetapi nyatanya datang kekantor terlambat setengah jam, maka ia tergolong tidak rajin.

Golongan selanjutnya yang memang kiranya, sebenarnya sangat butuh untuk bangun pagi adalah pelajar atau siswa. Karena bangun paginya adalah kelanjutan dari kecerahan pikirannya pada hari itu. Kondisi ini sangat dibutuhkan, sebab pikirannya yang sedang mengakses pengetahuan diharuskan cerah agar ide-ide rumit dapat masuk.

Sayangnya dalam budaya pelajar tingkat mahasiswa, kebanyakan paginya dibuat tidur, sebab malamnya begadang diwarung kopi atau sekedar jagongan dikontrakan. Sama dengan warung kopi yang buka 24 jam, ketika orang-orang berangkat tidur para mahasiswa belum tidur, ketika orang-orang bangun mahasiswa belum tidur, ketika penjaga warung kopi mulai ganti shift ia baru pulang untuk tidur. Jika ada kuliah ia bahkan menunda tidurnya, sehingga ketika orang tidur siang ia baru melunasi tidurnya yang tadi malam.

Semacam itulah serba-serbi kebudayaan bangun pagi ditengah-tengah masyarakat kita. Pada intinya bangun pagi sangat penting untuk membangun kebudayaan dan peradaban kedepannya, sekalipun setelah bangun tidak tahu yang dilakukan yang penting bangun dulu.

 

Tegalwangi, 01-08-2021

Post a Comment for "Budaya Bangun Pagi"