Bermain Kata-Kata

 

bermain kata kata

Bermain Kata-Kata

Beberapa bulan yang lalu atau mungkin bisa terhitung tahun kemarin, saya membaca sebuah story Whatsapp dari seorang kawan mulanya. Lantas tidak lama kemudian, ternyata beberapa kawan yang lain juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Kalimat sejenis ini mempunyai daya tarik dengan memberi energi kocak, bagaimana tidak? Coba perhatikan berikut ini.

“kalau kamu cari yang sholeh aku mundur,

Kalau kamu cari yang kaya aku mundur,

Kalau kamu cari es degan aku titip satu”.

Memang benar itu hanya kata-kata, ya sekedar kata-kata, tetapi apabila ditelusuri lebih jauh kita akan mendapatkan akar makna lewat suatu ungkapan dari beberapa sudut pandang, khususnya dengan memahami kondisi pengucap. Zaman sekarang anak SD saja sudah mempunyai akun WA, tetapi dapat dipastikan tidak seorang pun yang dapat memikirkan, mengarang atau sekedar membacanya dengan penuh ketertarikan. Sebabnya makna yang terkandung bukan willayah mereka. 

Sebenarnya sudah diketahui profil kalangan orang yang menggunakan kalimat tersebut sebagai bagian percakapan online nya. Ada uniknya apabila kemudian seolah-olah kita tidak tahu siapa orangnya, untuk mengidentifikasi apa sebenarnya makna dibalik kata-kata tersebut.

Pertama, orang-orang yang terlibat dalam penggunaan kalimat-kalimat itu pasti seorang yang telah berusia dewasa dengan kondisi telah mengenal lawan jenis dalam kadar tatapan masa depan yang cukup jauh. Kedua, kemampuan yang dimiliki dalam mengatur dan mengaihkan perhatian lewat bahasa menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang humoris. Suatu lelucon hanya bisa di ujarkan oleh mereka yang mempunyai kecerdasan, untuk kecerdasan satu ini bukanlah sesuatu yang dibawa dari daam kandungan, melainkan sesuatu yang telah dilatih dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi teringat kepada salah satu buku dari karangan alm Sapardi Djoko Damono yang berjudul “bilang begini, maksudnya begitu”. Suatu buku yang memuat beberapa tulisan tentang apresiasi puisi. Sebenarnya judul buku itu adalah salah satu nama bab yang ada didalamnya kemudian dijadikan judul.

Dapat kita tilik dari judulnya saja, memberikan kesimpulan bahwa apa yang dikatakan terkadang berbeda dalam maksud. Hal ini disebabkan kata-kata tidak mempunyai makna yang berdiri sendiri, melainkan ia harus disokong oleh suatu latar. Sehingga kata-kata adalah akibat dari kondisi. Apabila keadaan telah berubah maka orang yang memahami suatu makna yang bersembunyi dibalik kata-kata akan memproduksi makna yang berbeda dari asal mulanya.

Dalam kasus story WA kata-kata itu terucap karena ada latar peristiwa yang membersamainya, mungkin sehari-harinya. Apabila dilihat dari struktur kata-kata yang digunakan, sebenarnya pengucap sedang bermain-main dengan kata-kata. Menggunakan judul bukunya pak Sapardi dengan sedikit memplesetkan, bilang begini, ya maksudnya begini ini, tetapi ia bilangkan begitu.

Sebagai suatu kaidah, sepertinya lebih rumit dalam pemahamannya dan lebih mudah memahami judul bukunya pak Sapardi. Dalam operasional kaidah ini untuk mengungkapkan makna dibaliknya ternyata memberikan beberapa kemungkinan yanng tidak dapat diselesaikan. Sehingga membiarkan beberapa tumbuh, meskipun begitu dapat kita temukan mana yang tampak dominan, dengan mengacu pada profil pengucapnya, sebagaimana telah tersebut.

Kaidah “bilang begini, ya maksudnya begini”, menengok pada kata “kalau kamu cari yang sholeh aku mundur, kalau kamu cari yang kaya aku mundur”, kosa kata “sholeh” dan “kaya” menunjukkan wajah dari suatu kesiapan. Dari segi logika kata “kalau” mensyaratkan adanya jawaban, tetapi oleh pengucap ia jawab sendiri tanpa ada tanggapan. Memang kata tersebut tidak menyediakan jawaban, melainkan langsung dijawab sendiri dengan kata “mundur”. Ini menunjukkan bahwa pengucap tidak kaya dan tidak sholeh.

Kemudian, pada kata “Kalau kamu cari es degan aku titip satu” adalah bentuk kalimat yang “ia bilangkan begitu”. Dari segi makna kalimat terakhir tidak mempunnyai sambungan, karena awalnya membicarakan tentang syarat seorang laki-laki yang di idamkan oleh wanita, yaitu “sholeh” dan “kaya”, justru malah berbelok ke “es degan aku titip”.

Dari ketiga kalimat tersebut masih tidak mendapatkan makna yang sempurna karena, dalam kajian logika, kesimpulan akan diketahui setelah consequent mengafirmasi atau tidak kepada antaseden. Semisal, seorang wanita belum tentu mencari laki-laki yang sholeh dan kaya, bisa iya bisa tidak? Berbelok menjadi “es degan” secara makna tersirat seolah antaseden dalam dua kalimat sebelumnya (sholeh dan kaya) tidak di afirmasi, sehingga ia memilih es degan saja.

Dari sini muncul beberapa kemungkinan, termasuk es degan itu sendiri, belum tentu si “dia” sedang cari “es degan”, justru kata yang ikut berlanjut bernilai positif, yaitu “aku titip”, kenapa tidak “aku mundur”. Bandingkan dengan kata yang bernilai negatif untuk dua kalimat sebellumnya.

Memahami tiga kalimat tersebut akan menjadi nikmat tatkala tidak terlalu membuatnya serius dengan membawa kepada kondisi hidup. Cukup dengan menikmati alur kata-kata dan logika yang digunakan dalam struktur kalimat dimana tiap kata mewakili sebuah makna yang disambungkan dengan kata yang lain dan sekilas mengingat kepada reaita yang sebenarnya, dari sinilah pembaca story WA akan tertawa terpingkal-pingkal. Mereka yang tidak faham konteks tidak mungkin bisa tertawa.    

 

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 13-07-2021

 

 

Post a Comment for "Bermain Kata-Kata"