Cara Kita Melihat

 

cara kita melihat

Cara Kita Melihat

Setiap kali kita membuka beranda Facebook, maka sebuah pertanyaan akan disodorkan. “Apa yang anda fikirkan?” ketika cuaca cerah pada waktu sore hari, dapat diperkirakan beberapa menit lagi malam akan menjelang, dari ufuk barat bola api api raksasa hampir tenggelam, hanya menyisakan pancaran cahayanya yang menjalar ke hamparan ladang, pepohonan, genteng, maka saat itu kata yang ingin saya tulis dalam beranda FB adalah “kehilangan”

Tetapi, akan menjadi berbeda apabila pancaran mentari muncul pada waktu pagi. Sekaipun terdapat kesamaan yang dimiiki, semisal cahaya yang perlahan meratai penjuru bumi, bergerak dari arah timur ke sela-sela dedaunan, menyelinap dari ventilasi rumah. Padahal cahaya dari sumber yang sama kemudian yang ingin saya tuliskan dalam beranda FB di ala pagi adalah “harapan”.

Dua kata yang mewakili makna berbeda, meskipun didasarkan pada suatu hal yang dilihat sama, yaitu mentari. Mengalami perbedaan yang mencolok, dikarenakan waktu dalam melihatnya. Anatara pagi dan sore. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa waktu memberi kontribusi kepada seseorang dalam melihat segalanya menjadi terus berubah.

Tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, bahwa waktu berpengaruh dalam makna. sebenarnya ia tidak mempunyai apa-apa tanpa adanya subjektifitas dari seorang yang melihat. Bisa saja seseorang akan mengambil sebuah kesimpulan berkebalikan didalam suatu hal, semisal pagi adalah kehilangan, karena menurutnya hari telah keburu pagi sedangkan pekerjaan yang ia lakukan dari malam belum selesai atau dari kemarin yang harus dikumpulkan hari ini nyatanya belum kelar.

Sedangkan sore adalah harapan, hal tersebut bisa terjadi karena menurut seseorang yang mengalami suatu pengalaman hidup antusias akan hari-harinya yang esok akan tiba, sebagai manusia ia tidak bisa lantas memaksakan seluruh tenaganya untuk dihabiskan pada hari ini. Maka ketika sore sebagai ujung hari dan penutup hari menjelang ia justru tidak merasakan kehilangan, melainkan ia seolah akan bersiap diri untuk hari yang esok.

Mentari dengan pancaran sinarnya yang telah setia kepada bumi selama berjuta-juta tahun, sebagai pedoman waktu sebelum dan sesudah adanya mesin penghitung jam dalam seharinya, nyatanya tidak selamanya dapat dijadikan patokan untuk mengambi sebuah kesimpulan yang abadi. Pagi adalah harapan dan sore adalah kehilangan. Karena bisa diputar sebaliknya, tergantung bagaimana seseorang menggunakan perasaan dan pikirannya dalam melihat.

Ketika seseorang telah terpengaruh oleh kaidah yang umum dalam melihat sesuatu, maka jelas ia akan terjerumus dalam kesimpulan mayoritas. Tetapi sialnya, ia sebagai pribadi yang mempunyai caranya sendiri dalam melihat, dengan pertama kali mendengarkan suasana diri sendiri kemudian membuka mata dan mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi, maka jawaban yang keluar akan berbeda.

Seandainya seluruh manusia begitu, maka dapat dipastikan perbedaan akan lebih banyak daripada persamaan. Akan tampak dengan sangat jelas, pada sosial media hari ini, ketika seseorang dapat mengunggah semaunya dan orang lain dapat mengakses semaunya pula. Maka akan didapati hal-hal yang berbeda berkali-kali saat menggeser layar smartphone dari atas ke bawah, bukannya justru menemukan kesamaan secara terus menerus.

Pagi tidak lah menjadi harapan secara abadi, begitu juga dengan sore tidaklah menjadi kondisi kehilangan selamanya ditandai dengan bagaimana mentari bergerak, antara terbit dan tenggelam. Padahal kita juga sama-sama tahu bahwa mentari pagi ini adalah mentari sore yang kemarin dan bumi ini yang kita gunakan untuk melihat terbenam dan terbitnya adalah bumi yang sama-sama dilihat oleh nenek moyang kita dulu. Tetapi anehnya dari dulu hingga sekarang kesimpulan yang diambil tetap sama.

Apabila FB sudah ditemukan ratusan tahun yang lalu dan umat manusia menggunakan mata mereka untuk melihat mentari, maka dapat kita temukan bahwa dinding-dinding FB yang telah berusia ratusan itu akan dicoret-coreti, pagi sama dengan harapan, sore sama dengan kehilangan sampai hari ini. Hanya sekedar beberapa orang saja yang berpikir secara berbeda, bahkan sampai kapan pun orang yang mengambil jalan perbedaan dari mayoritas selamanya akan tampak sedikit, tidak hanya dalam melihat mentari.

 

Tegalwangi, 14-07-2021

Arif Prastyo Huzaeri   

Post a Comment for "Cara Kita Melihat"