Slamet Sang
Pegawai Negeri
Namanya Slamet. Sesuai dengan
nama, orang tuanya ingin anaknya selamat dalam peruntungan dari perjalanan
hidup yang ia lalui. Entah slamet siapa nama panjangnya. Ia orang biasa-biasa
saja. Orang tuanya bukan dari kalangan bangsawan, nasabnya tidak jelas, nenek
moyangnya tidak diketahui dari kesultanan mana, bukan pula dari elit politik,
juga tidak akrab dengan mereka yang bergumul dalam pusaran politik, tidak dekat
dengan kekuasaan, bukan orang terpandang yang sekali bicara langsung diiyakan,
bukan jutawan yang segalanya dapat dibeli termasuk harapan dimasa mendatang.
Keluarga Slamet adalah
kesederhanaan. Pergi pagi menjemput rezeki, pulang siang atau sore membawa
sebungkus harapan untuk beberapa hari lagi, terus saja begitu kehidupannya
seluruh kebahagiaan yang telah diraih selalu dalam proporsi sederhana, tidak
kurang juga tidak berlebihan, yang sekiranya apabila dibagi tidak mampu. Kebahagiaannya
cukup dinikmati sendiri. Seandainya tetap memaksa untuk membagi-bagikan
kebahagiaan yang telah diperoleh, maka keluarga Slamet akan kekurangan.
Ia bujang di kampungnya. Tetapi bukan
satu-satunya. Ia hidup seatap dengan kedua orang tua dan ketiga adiknya. Ia harapan
dan impian yang disegerakan dan didoakan dalam rapalan kedua orang tuanya. Bagaimana
tidak? Adik-adiknya menunggu nasib yang sebagian adalah dari usaha Slamet. Untungnya
sebagai anak pertama, pendidikannya berjalan mulus dan lurus, selurus jalanan
yang menuju sawahnya.
Dalam suatu kesempatan mengadu
peruntungan nasib. Slamet mendaftar untuk menjadi PNS. Pekerjaan yang
diimpi-impikan oleh seluruh orang dipenjuru Nusantara. Pekerjaan yang digaji
sebab waktu yang telah ditentukan dan jabatan yang disandang. Bukan pekerjaan
yang digaji karena bekerjanya. Bukan pula pekerjaan yang dipandang karena
kesungguhannya, melainkan karena seragamnya. Ini menarik sekali, pikir Slamet,
akhirnya ia pun mendaftar.
Dari Desa tempat hidupnya
menunggu kabar berita. Selang beberapa
hari dan minggu, akhirnya ia pun mendengar kabar baik. Hari itu seolah langit
terpenuhi burung yang bergerak dari timur ke barat dengan cara bergerombolan mengepakkan
sayap-sayapnya, dalam suasana batin Slamet yang sangat gembira karena kabar
dari nasib yang ia tunggu-tunggu ternyata telah tiba dengan baik. Ia diterima. Maka
burung yang mengepakkan sayapnya dilangit-langit seolah sedang memberi tepuk
tangan dengan begitu mempesona dan haru.
Ia meloncat kegirangan. Kabar diterimanya
Slamet menjadi pegawai negeri sipil langsung memenuhi seluruh pelosok desa
tidak ada satu makhluk pun yang tidak mengetahui kabar baik tersebut. Seluruh orang
mulai memperbicangkannya. Seluruh orang mulai mengucapkan selamat kepada Slamet.
“selamat met”. Berulang kali kata tersebut diucapkan, entah berapa ribu kali,
juta kali atau lebih dari hitungan yang dikuasai orang. Satu orang tidak
mengucapkan satu kata. Tetapi selalu lebih banyak dari jumlah kesempatan yang
dimiliki.
Untung tidak dapat diraih, rugi
pun juga tidak dapat ditolak. Semuanya adalah yang terberi tanpa terkonfirmasi.
Betapa bahagianya Slamet hari itu. Satu minggu ia lupa dengan wujud kesedihan
yang pernah ada di dunia ini. Karena sangat bahagianya telah menutupi dengan
rapat keluarnya kesedihan. Seperti siang yang terjadi tidak mungkin berbagi
dengan malam, begitu juga dengan malam yang selalu tidak akan mau berbagi
dengan siang.
Orang-orang mengira sekalipun
pendidikan telah berjalan mulus dan berprestasi. Menguasai hamir seluruh mata
pelajaran, tetapi ketika dihadapkan dengan nasib yang akan mengantarkannya
kepada kebahagiaan atau penderitaan, pendidikan tidaklah menjadi jaminan. Tetapi
apa yang terjadi kepada Slamet membantah pendapat ini. Nasibnya lurus selurus
pendidikannya. Hamparan kebahagiaan telah terpampang, seperti karpet merah yang
mempersilahkannya untuk menuju kebahagiaan, Slamet tinggal lewat.
Pegawai negeri bagi warga desa Slamet
adalah suatu yang mulya, karena pekerjaan tersebut menjadikan pelakunya bersih
dan harum. Dibayar oleh negara. bukankah itu sesuatu yang terhormat, daripada
jadi kuli atau buruh yang bau keringat, kusam dan kumal seperti nasibnya. Seluuruhnya
ditentukan oleh bagaimana seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya, itulah prinsip
yang dipegang oleh warga desa Slamet, barangkali desa-desa lain juga begitu.
Hari menjadi minggu, minggu
menjadi bulan, bulan menjadi tahun seluruhnya bermula detik. Yaitu detik
pertama Slamet menerima berita yang akan mengubah nasibnya, orang tua dan
adik-adiknya. Beberapa tahun setelah Slamet di angkat jadi pegawai negeri, ia
tetap membujang. Meskipun begitu orang-orang dikampungnya melihat bahwa Slamet
tampak lebih tampan dari asal kajadiannya. Entah kenapa bisa begitu, mungkin
dikarenakan nasibnya yang tampan sehingga memancar ke wajahnya. Bisa juga
karena ia banyak perawatan dan tidak banyak terkena debu dan sorot sinar
matahari yang terlalu banyak atau bisa juga karena hanya angan-angan orang di desanya
saja.
Dari beberapa tahun yang mana
menurut warga di desanya ia tampak lebih tampan. Suatu hari ia berjalan dengan
telanjang kaki menyusuri jalan di pematang sawah menuju ke arah barat. Waktu itu
kondisi sedang pagi-paginya, berkas-berkas mentari mulai tidak malu-malu
menyemburat dari timur. Karena Slamet berjalan ke arah barat, orang yang
melihatnya dari barat mengira seolah cahaya mentari itu sedang mengawal Slamet
dengan nasib-nasib baiknya.
Ia membawa cangkul yang
digantungkan dipundak kirinya. Bajunya bukan sedang dinas. Berpakaian mirip
layaknya petani, apabila diamati dengan lebih cermat, sepertinya lebih mirip
orang-orangan sawah. Hari itu ia tidak menunjukkan kemewahannya. Yang perlu di
ingat hari itu adalah hari senin. Bukannya Slamet harus pergi kerja dan bukan
di sawah. Tetapi pikiran seperti itu tidak mungkin hadir didalam pikiran para
petani, karena mereka bekerja bukan dengan hari dan tidak perlu mengingat-ingat
nama hari. Yang penting berangkat kerja.
Dua hari sebelumnya, setelah
Slamet pulang kerja dengan memakai baju dinas, sepatu kinclong, menggendong tas
yang berisi dokumen-dokumen penting sepertinya tetapi sayang raut wajahnya
putus asa, susah, tanpa harapan dan rumit. Entah apa yang dipikirkan. Seolah ia
sedang memikul beban. Ternyata memang benar beban. Ia mulai bosan dengan
pekerjaannya ini. Bukan bosan bekerja, melainkan bosan disuruh-suruh oleh si
bos, sekalipun ia adalah pegawai negeri dengan gaji yang mulus, tetapi ia masih
baru dan ia adalah bawahan. Yang jelas bawahan harus mengikuti petunjuk dari
atasan. Apalagi baru ia harus mengikuti orang yang lebih berpengalaman.
Karena perintah-perintah bosnya
itu ia anggap bertentangan dengan sopan santu yang disepakati oleh kemanusiaan.
Disatu sisi ia tidak bisa menolak meskipun hal itu yang ingin dilakukannya. Sehingga
menekan sebagai beban dalam pikiran. Ternnyata Slamet lupa, kalau ia digaji
tidak sekedar sebab jabatan dan waktu yang ditentukan, tetapi juga
ketertekanannya yang terikat dalam waktu dan jabatan. Keluapaan akan hal ini,
menjadikan Slamet berbelok ke warung kopi pinggir jalan, tidak langsung pulang
ke rumah. Tiga jam, bukan waktu yang sedikit, ia gunakan untuk mendinginkan
kopi yang telah dipesan bersamaan dengan pikiran yang telah runyam akibat ia
menggunakan prinsip sopan santun menghadapi bosnya. Jikalau ia tidak
menggunakan prinsip itu, bekerja ya berkeja, tanpa harus mengaitkan dengan
apapun, seolah ia adalah mesin yang harus dan terus bekerja selama tidak mogok
maka ia tidak akan merasa tertekan. Toh, pekerjaannya hanya cukup dilalui dan
dilakukan kemudian tinggal ambil gaji. Tetapi kesadaran itu tidak ia miliki. Mana
ada kesopanan digunakan dalam etika bekerja yang prinsipnya adalah selesai dan
kejar waktu. Selesai dan tepat waktu itu sendirilah yang menjadi tata aturan
kesopanan. Oh, Slamet ia terlalu muda untuk memahami ini.
Akhirnya, pada hari senin itu ia
memutuskan untuk membolos dan berangkat ke sawah menemani bapaknya menjadi
buruh tani. Para pemilik lahan didesanya, yang notabene adalah termasuk
tetangga, menurutnya lebih sopan dalam menyikapi pegawai atau yag diistilahkan
dengan buruh. Dalam pekerjaannya yang sambil lalu istirahat sejenak, tiba-tiba
sebuah gagasan masuk dan menyelinap dalam pikirannya, “oh iya, pegawai kan
persamaan kata dari buruh”.
Tegalwangi, 02-08-2021

Post a Comment for "Cerpen: Slamet Sang Pegawai Negeri"