Cerpen: Kota dan Desa

CERPEN

Kota dan Desa

Di kota-kota orang sibuk bicara kesehatan, jangan berfikir di desa orang tidak berfikir tentang tema satu ini. Semua orang yang mengaku dirinya orang dan sadar akan kediriannya bahwa ia mempunyai tubuh maka ia akan berfikir tentang kesehatan. “kalau makan ini sehat tidak ya?”, “kalau melakukan ini sehat tidak ya?”, “eh, jangan makan-makanan yang banyak minyak”, “jangan terlalu manis”, “bang pesen nasi gorengnya dibungkus ya, tanpa micin?”.

Baca juga: Cerpen Cahaya Petromak

            Terus semacam itu kata-kata yang keluar dari beberapa persen selama dua puluh empat jam, sehari semalam. Di desa orang-orang ketika pagi tidak akan bingung akan melakukan olahraga, seperti lari, jogging, senam, pergi ke tempat kebugaran. Berbeda sekali dengan orang kota, ada saja acara demi aksi kesehatan. Jogging putar alun-alun, bersepeda keliling se-kecamatan. Sepertinya orang kota lebih cenderung perhatian dengan kesehatan, tidak seperti orang desa.

            Pada masa pendemi covid 19 ini, orang kota pun juga mempunyai perhatian lebih besar dari orang desa. Kemana-mana bawa masker, ke toko, masjid, kerja, sekolah. Orang desa pergi ke sawah gak pake masker, ngantar anak sekolah gak pakai juga, pergi ke toko juga gak pakai. Tetapi anehnya kota-kota besar yang banyak bicara kesehatan justru yang tertimpa badai pandemi besar-besaran.

            Sambil menikmati gerimis yang tak terhitung jumlahnya sekalipun dengan intensitas cukup rendah, aku berpikir penuh tanda tanya. Kenapa bisa demikian? Apa karena orang desa yang sakit sebenarnya ketika menjadi pemberitaan nama desanya tidak disebut oleh media melainkan nama kotanya, sehingga seandainya terdapat sepuluh orang sakit dari suatu desa maka awak media akan mencatat bahwa di desa “anu” kecamatan “anu” kabupaten “anu” sepuluh orang terjangkit penyakit diabetes, semisal.

            Akhirnya terekspos keseluruh nusantara dengan bantuan media onnline yang hanya secepat gerakan jari telunjuk meng-klik mouse untuk mempublish sebuah berita seluruh Indonesia diberi kesempatan untuk mengetahuinya. Akhirnya orang-orang dari sabang sampai merauke sambil santai-santai menggeser ke atas dan ke bawah smartphone nya kemudian mendapati berita tersebut tinggal sentuh maka seluruh berita yang telah tercatat akan terbaca.

            Akhirnya, ia mengetahui semuanya tersimpan dalam pikiran dan menyesuaikan tingkat kecerdasan bagaimana data tersebut berada dengan rapi dan sejauh mana ia mampu menguarainya. Akan tetapi yang jelas orang yang cerdas maupun yang tidak akan mencatat peristiwanya apa? Tempatnya dimana? Kejadian menarik yang bisa digunakan untuk bicara-bicara dengan kawan apa? Itu semua terekam dalam ingatan.

            Untuk nama desa, kecamatan, kabupaten disebut semua, menjadi ribet apabila dalam pembicaraan yang disampaikan di pos ronda, rasan-rasan pada waktu belanja akan disebut semua. Sehingga diambil  mudahnya saja, sebut nama kabupatennya sisanya tidak perlu. Apabila kejadian heboh itu nyatanya terjadi di desa sangat pelosok sekali. Maka yang terkena imbasnya adalah pusat kabupaten sesuai pewacanaan dengan tanpa sengaja beredar mengambil mudahnya dengan menyebut nama kabupaten.

            Oleh karena itu di daerah kota warganya dalam masa pandemi seperti sekarang ini diperketat. Gerimis semakin kerap dan berubah menjadi hujan. Semakin deras maka semakin keras lah aku berpikir tentang logika semacam ini. Sampai hujan reda tidak sampai kesimpulan yang aku terima untuk mencernanya. Satu hari berlalu, terbesit dalam pikiran akan ingatan yang kemarin, ini pasti ada yang salah dan tidak benar dalam kesan yang telah terjadi menjadi pesan yang dituturkan dari muka ke muka dari share via sosial media ke sosial media yang lain. Tetapi apa ya?

            Seminggu pun berlalu, lima hari hujan dalam satu minggu ini dua harinya cuaca berawan tidak hujan juga tidak ada terik. Seluruh cuaca itu berlalu tanpa meninggalkan jawaban. Aku berpikir ulang, yang terpenting jangan sampai musim kemarau tiba kesimpulan yang benar tidak kunjung datang. Apa aku terlalu bebal, sampai tidak mampu memikirkan semacam ini. Padahal pada waktu duduk disekolah dasar nilai matematika ku menimal mendapatkan angka delapan selebihnya selalu diatas itu. Ini kan bukti kalau aku orang cerdas. Kenapa sulit sekali berpikir tentang kondisi kota dan desa.

            Pada hari yang sama kala pertama kali aku berpikir tentang orang kota rajin berolahraga sedangkan orang desa tidak. Muncul lah suatu jalan pikiran yang menghubungkan antara desa dan kota. Tidak dibiayai oleh anggaran manapun jalan pikiran tersebut terbentuk melainkan dari mungkin saja latihan otak dalam pelajaran matematika dulu. Sekalipun ternyata membutuhkan waktu seminggu.

            Jika dalam satu kabupaten orang-orangnya mengacu pada domisili mereka tinggal terbagi kedalam dua wilayah. Orang kota dan orang desa, sedangkan orang kota rajin olahraga dan orang desa tidak. Sambil pikiran berlalu lalang seperti kendaraan yang melintas dijalan provinsi tidak kenal hujan, angin, debu dan sebagainya, maka begitulah pikiranku tidak sadar bahwa rintik hujan setengah jam yang lalu telah berhasil menjadi hujan deras yang menggiring akan suatu suasana khas dengan aroma yang menggoda kondisi jiwa.

            Mengapa tidak disebut saja bahwa orang kabupaten “anu” rajin olahraga sebagaimana orang kabupaten “anu” terjangkit penyakit, sekalipun orang-orang yang bertempat didesa pelosok. Kesadaran mulai muncul ketika mengingat media pembuat berita. Memang benar yang tercantum dalam media tersebut, tetapi pembacanya yang mengambil kesimpulan seenaknya.

            Jangan sampai media yang mengambil kesimpulan seenaknya, apakah tidak tambah kacau dunia ini? Berbagi informasi sama dengan berbagi keresahan. Semakin menumpuk maka semakin dahsyat pula. Padahal kondisi yang terjadi sangat sederhana.

            Terjadinya di desa itu pun yang terjadi di pelosok sekali. Kemudian dipukul rata se kabupaten. Apalagi hari ini, media telah semakin canggih, berita hari kemarin bisa di baca oleh anak yang masih dalam kandungan. Beritanya usang tetapi tetap ada.

            “wah...wah....harus pandai-pandai melintasi jalan pikiran jika begini, ternyata persoalan yang sederhana akan menjadi rumit akibat dari kesalahan menggunakan lintasan yang salah. Apalagi kehidupan adalah sesuatu yang tidak pasti, bukan lagi 2+2=4 selamanya. Melainkan bisa berubah dan sedetik adalah perubahan. Aku pun teringat dalam suatu rumus logika yang berbunyi jika premis mayornya universal dan premis minornya partikular maka kesimpulannya adalah partikular.

            Sampai juga pada jalan yang benar. Jadi jika dalam suatu kabupaten ada desa yang terkena virus covid 19, seumpamannya, itu pun hanya satu orang maka jangan mengatakan kabupaten itu yang terkena. Maka wajib menyebut desa dalam satu kabupaten.

            Apabila hendak diperluas mengingat virus berpotensi menyebar, kesimpulan yang dibuat maka haruslah mempunyai temuan ilmiah dari kekuatan virus itu menyebar apabila ia mampu menyebar layaknya angin kesana-sini tidak jelas. Maka kesimpulannya adalah sesuai kemampuan angin terbang. Jika kemampuannya adalah beberapa cm dari mereka yang terjangkiti, maka dari beberapa cm itu kesimpulan dibentuk, tidak seluruh desa apalagi kabupaten.

            Hujan mulai reda begitu pula isi pikiranku yang selama satu minggu ini mendung gelap disertai bunyi guntur. Hidup ini sederhana yang rumit tafsirannya, ah seperti itu. Tanpa harus mengingat-ingat siapa orang yang mengatakannya tetapi benar. Apabila hidup tellah rumit maka jalan yang harus ditempuh adalah kerumitan pula. Seperti rumus matematika apabila minus kali minus sama dengan plus.

            Tiba-tiba angin berdesir dari balik-balik daun pisang sekejap saja telah membelai wajahku yang kusam dikarenakan pikiran. Lantas beberapa detik saja pikiran mulai melayang membawa suatu hasil. “kalau begitu apabila orang mau berpikir pada waktu hujan atau tidak tentang situasi pandemi covid 19 ini, setidaknya mereka akan dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan dan berpikir rasional, tetapi masalahnya mereka akan menagih kepastian dari temuan ilmiah akan kehidupan yang tidak pasti”.

            Hujan mulai deras kembali, jelas angin barusan yang telah membawanya dengan di iringi oleh pikiran rumit lagi yang meminta jalan pikiran lain. Oh tidak, resiko orang punya pikiran. Aku harus berpikir lagi entah berapa hari lagi, seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Tidak pasti.  

 

Tegalwangi, 10-07-2021

Prarifase

Post a Comment for "Cerpen: Kota dan Desa"