Judul
buku : Daulah
Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh Wa Asbab As-Suqut
Penulis :
DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi
Penerjemah :
Imam Fauzi
Judul
Terjemahan : Sejarah
Daulah Utsmaniyah: Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya
Penerbit :
Ummul Quro
Tahun terbit pertama :
2017
Tebal halaman :
960 halaman
Isbn :
978-602-6579-28-7
Genre : Sejarah Islam
Buku yang ditulis oleh Ali Muhammad Ash-Shalabi ini
merupakan sebuah penelitian mulai dari kebangkitan hingga keruntuhan dari
Daulah Utsmaniyah. Apabila dilihat dari keseluruhan halaman maka bisa dikatakan
bahwa buku ini sangat tebal. Tetapi, jika melihat kepada isi dari sejarah yang
dituliskan, dimana hendak menjelaskan periodeisasi sebuah kesultanan Islam yang
mempunyai rentang waktu di permukaan bumi selama berabad-abad sampai era modern
kemarin ini. Nama Utsmaniyah diambil dari leluhur pendiri dinasti tersebut,
yaitu Utsman bin Ertugrul bin Sulaimansyah.
Ash-Shalabi
menyusun bukunya dengan mengatur bab-babnya dengan beberapa bagian. Pertama,
dimulai dengan penjelasan asal-usul bangsa Turki, kedua, sejarah
berdirinya daulah Utsmaniyah, ketiga, tentang Sultan Muhammad Al-Fatih
dan penaklukan Kostantinopel, keempat, beberapa sultan kuat setelah
Muhammad Al-Fatih, kelima, melemahnya daulah Utsmaniyah, keenam, masa
pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Sebagai bab terakhir.
Dari
setiap bab yang dibuat, mencakup beberapa sub-bab yang juga mengandung beberapa
sub-sub-bab lagi, dipilih untuk memberikan gambaran cerita berkaitan dengan
capaian-capaian yang diraih oleh para sultan begitu pula kemerosotannya.
Disamping para menjelaskan identitas sultan-sultan yang memimpin. Ash-Shalabi
juga menyebutkan beberapa orang penting yang juga mengambil bagian dalam
pengabdiannya kepada agama dan negara dibawah kibaran bendera Turki Utsmani,
diantara nama-nama tersebut adalah: Barbarossa bersaudara, Uruj dan Khairuddin,
Hasan Agha Ath-Thusyi, Saleh Rayis, Hasan bin Khairuddin.
Selain itu, Ash-Shalabi juga memberikan penjelasan terhadapa beberapa peristiwa penting dalam putaran sejarah Utsmani. Dimana peristiwa tersebut bisa dianggap sebagai suatu parameter dari kejayaan semisal beberapa penaklukan seperti Kostantinopel, Edirne dsb. Begitu pula dengan faktor-faktor keruntuhannya mulai dari invasi pasukan salib Prancis, Pan-Islamisme, kaum Yahudi dsb.
Mempelajari Sejarah Turki
Utsmani dari Sudut Pandang Islam
Sebagaimana
yang telah disebutkan diatas, buku ini merupakan suatu karya yang begitu tebal,
bagi pembaca yang melihatnya akan lebih dahulu down, karena siapapun akan
menganggap berapa waktu lamanya dalam menyelesaikan dan apakah mampu? Mungkin
begitu dalam benak pikir pembaca. Apa lagi bagi mereka yang bukan ahli baca.
Buku
yang sangat tebal ini dituis oleh seorang ahli sejarah dan analis politik
kelahiran Bengazi, Libya pada tahun
1963. Jejak rekam pendidikannya ia tempuh mulai dari sarjana Universitas Islam
Madinah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, melanjutkan ke Pasca Sarjana di
Universitas Islam Omdurman, Sudan dengan tesis berjudul Al-Wasathiyah fi
Al-Qur’an Al-Karim, gelar doktor ia raih di Universitas yang sama dengan
Disertasi berjudul Fiqh At-Tamkin fi Al-Qur’an Al-Karim. Buku yang kita baca
sekarang adalah salah satu seri sejarah islam yang ia tulis, karena masih ada
lagi sejarah dari dinasti islam yang juga memiliki halaman cukup tebal.
Diantaranya Bani Saljuk, Bani Abbasiyah, Bani Umayyah, Dinasti Ayyubiyah,
Mongol dll.
Memang
apabila melihat halaman buku ini tebal, tetapi apabila melihat muatan isi maka
buku ini tipis. Bagaimana mungkin sejarah yang berabad-abad ditulis dalam 960
halaman, tetapi buku ini sudah mampu mewakili dahaga sejarah Turki Utsmani.
Saya sebagai pembaca merasa cukup untuk mengetahui sejarah Turki Utsmani dengan
membaca karya Ash-Shalabi dari segi pemetaan periode kesultanan. Karena buku
ini mampu untuk memberikan sajian hal-hal penting sekalipun sebatas sebagai
selayang pandang saja.
Sebagai
suatu pendalaman sejarah jelas buku ini kurang memadai, dikarenakan dalam
beberapa sesi penulis tidak banyak memberikan data-data sejarah melainkan
analisis pemikiran yang tidak berkaitan dengan kesejarahan, bahkan
dikesampingkan. Seperti pembahasan tentang Sultan Utsman sebagai pendiri, tidak
dijelaskan secara gamblang identitasnya dan perjalanan hidupnya, hanya
disebutkan karakter dan dustur Utsmani.
Pada bab
penjelasan tentang sultan-sulltan yang lemah, Ash-Shalabi hanya menyebut
identitasnya saja tanpa memberikan penjelasan tentang kontribusinya terhadapa
kesultanan. Begitu juga dengan alasan disebutnya sebagai sultan yang lemah,
hanya sekilas saja tidak jauh merambah kepada asal usul kehidupan dan
akibat-akibatnya yang mengarah bagi kesultanan. Dapat dibandingkan dengan bab
mengenai sultan Muhammad Al-Fatih dan penaklukan Kostantinopel, ia menulis
dengan begitu detail peristiwa demi peristiwa dalam pelaksanaan penaklukan ibu
kota Romawi tersebut. Seandainya Ash-Sholabi melakukan analisis seperti itu
seluruhnya, jelas buku karangannya tentang Turki Utsmani akan menjadi
berjilid-jilid banyaknya.
Suatu karya
tidak lain adalah sudut pandang dan bentuk keberpihakan dari penulis sendiri. Kekhalifahan
Utsmani merupakan salah satu pemerintahan besar yang paling dekat dengan zaman
kita sekarang. Untuk itu jelas beberapa peristiwa hari ini akan mengambil asumsi
pada jejak-jejak peninggalannya. Dengan demikian, dapat dilihat pada buku
tersebut posisi Ash-Shalabi dalam memandang permasalahan era hari ini.
Pada bab yang
menjelaskan tentang gerakan Wahabi, ia condong lebih sebagai pembelanya. Sehingga
asumsi-asumsi yang tersusun dan dianalisis memberikan suatu kesimpulan bahwa
gubernur Mesir, Muhammad Ali yang menumpas gerakan Syeh Muhammad bin Abdul
Wahab dengan koalisinya bersama Ibn Su’ud disebutnya sebagai orang dengan
kepribadian buruk. Untuk menguatkan pendapatnya tentang permasalahan ini, ia
mengutip pendapatnya Al-Jabarrati yang mendeskripsikan sebagai orang yang
dzalim, pembuat tipu daya, orang yang memendam niat busuk. Sebagaimana ia
kutip, para ulama menyifati Muhammad Ali sebagai seorang Machievalis.
Hal ini menunjukkan bahwa Ash-Shalabi melakukan keberpihakannya pada gerakan Wahabi. Sebab bagi mereka yang tidak menyukai atau sekedar tidak memihak maka cerita tentang kepribadian Gubernur Mesir Muhammad Ali Pasha tidak akan disebutkan sisi negatifnya secara berlebihan seperti itu.
Sudut pandang yang ia pilih merupakan hal yang wajar bagi seorang penulis sejarah, begitu pula dengan penulis sejarah yang lain akan mempunyai seribu kemungkinan perbedaan akibat dari keberpihakannya. Untuk itu saya teringat sebuah quote yang terdapat dalam novel 1984 karya George Orwell, “barang siapa yang ingin menguasai masa depan maka ia harus menguasai masa lampau, barang siapa yang ingin menguasai masa lampau maka ia harus menguasai masa sekarang”.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 09-07-2021

Post a Comment for "Resensi Buku: Sejarah Daulah Utsmaniyah Karya DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi"