Cahaya Petromak
Hari itu benar
sibuk. Bagaimana tidak? Seharian bekerja. Itu pu belum kelar. Ada saja yang ini
dan itu. Sebagai pegawai negeri dengan kecukupan gaji yang sudah membendung
angan-angan. Kecuali angan-angan itu beternak dan beranak pinak menjadi
berbagai cabang yang tiada henti dan batasnya. Oh manusia, begitu juga dengan
aku. Telah ditawan oleh pikiran yang seharusnya membebaskan justru mengekang
dengan begitu kuat. Gaji pegawai negeri seolah tidak mampu mencukupi
angan-angan hanya untuk mencukupi kehidupan. Duh, nestapa dalam pikiranku.
Baca juga: Cerpen Kota dan Desa
Satu
kali dalam dua puluh empat jam, beberapa menit dagu ku akan ditopang oleh
tangan kanan. Apabila lelah maka akan beralih ke tangan kiri. Petunjuk beban
pikiran telah memuncak. Entah berapa ton seandainya berwujud konkrit.
Untuk
mengusir kepenatan, hari itu akhirnya aku pilih untuk rehat sejenak. Sekedar pergi
ke pinggir jalan melihhat lalu lalang kendaraan, menghirup bau trotoar,
memandang asap dan debu yang tengah berseliweran dan apapun yang dilakukan. Sebelum
beranjak pergi aku tinggalkan seorang kawan, yang tengah sibuk menggeser-geser
telepon pintarnya ke atas ke bawah ke kiri dan ke kanan. Aku berdiri dan
memandanginya sepertinya pada raut wajahnya dan sorot matanya tampakk sekelumit
cahaya. Biji matanya yang hitam seolah lampu petromak memancarkan sebuah
harapan. Ah, entahlah apa itu?
Akhirnya
aku pergi ke pinnggir jalan mencari warung kopi yang paling sepi pelanggan. Agar
hanya kesepian yang menemani bukan orang. Aku sudah muak dengan orang-orang,
kebanyakan mereka hanya berbicara masa depan pada masa sekarang. Dulunya juga
begitu masa sekarangnya yang dulu menjadi masa depan ia bicarakan di masa
lampau. Hanya bicara terus. Tidak pernah terjadi. Karena hanya bicara saja.
Tetapi
ternyata harapan-harapan dan angan-angan itu yang mereka bicarakan merupakan
seteguk oksigen. Orang tidak bisa hidup dengannya. Apabila ahli medis berkata
orang harus bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkannya. Maka seperti
itulah gambaran dari harapan dan angan-angan, orang harus mempunyai. Jika tidak
maka ia akan sakit dan terus mati secara perlahan. Sedangkan aku adalah bagian
yang telah dipecundangi oleh harapan-harapan yang tidak bisa aku wujudkan.
Sekitar satu
jam aku sendiri kecuali ditemani oleh pikiran dan kesendirian itu sendiri. Oh ya,
tambah lagi segelas kopi panas yang telah mendingin dalam jangka satu jam
tersebut. Tanpa kesimpulan atas apa yang telah aku pikirkan, akhirnya kembali
ke tempat dimana aku merawat angan-angan dan harapan agar tetap ada. Yaitu pekerjaan.
Tatkala aku
telah kembali, tenyata teman yang barusan matanya seperti petromak masih tetap
saja menyala dengan sinar yang sama dan kelakuan yang sama pula, yaitu geser
dan gaser teleponnya. Aku hampir curiga. Tetapi aku hentikan cepat-cepat
kecurigaan ku. Dan mengambil telepon milik ku sendiri dan ganti mengikuti
kelakuannya.
Masuk ke
beranda Facebook, aku mulai sadar ternyata perangkat ini yang memfasilitasi aku
dan orang-orang untuk terus berangan-angan. Karena dengannya dunia dalam
genggaman. Sesuatu yang seharusnya tidak aku ketahui dan lebih selamat lagi
memang harus tidak tahu, tetapi akibat benda ini aku tahu. Dalam pikiran
melayang sejenak, bagaimana seandainya aku hidup seperti kakek dan nenek dulu,
dengan prinsip hari ini adalah untuk hari ini. Tanpa sengaja mata ku melihat
cahaya petromak itu lagi dari sorot teman yang sama. Ah astaga, apa yang dia
lakukan? Sampai begitu bersinarnya.
Aku kembali
merenungi kebebasanku yang telah ditawan oleh angan-angan sendiri. Sampai beberapa
menit setelah melihat sinar petromak. Akhirnya pun memutuskan bahwa petromak
dari biji mata teman ku itu telah mengganggu perenunganku. Oleh karena itu
darimana sinar tersebut dapat memancar dengan begitu kuatnya? Aku pun bertekad
mencari tahu.
Satu hari
lewat. Dua hari. Tiga hari. Sampai kemudian aku berpikir hal bodoh yang telah
aku lakukan. Bukankah sebaiknya aku merawat diri sendiri dan mencari obat pembebasan
dari angan-angan ini.
Sebagaimana biasa
setelah membolak-balikan kertas yang berisi huruf-huruf dan angka-angka. Agak sedikit
penat, aku merilekskan dengan membuka-buka telepon pintar. Mulai dari Whatsapp,
Instagram dan Facebook yang terakhir. Semuanya tidak memberikan informasi yang
penting dan unik kecuali sebuah foto dihalaman Faceboook. Tertanda yang mengupload
namanya Kasno. Ia adalah orang si mata petromak dengan sinar yang sangat
mengganggu satu minggu ini di kantor.
Aku perhatikan
baik-baik, ternyata ia hanya mengupload sebuah foto dengan fokus terhadap tiang
tenda pada acara Agustusan. Kira-kira foto tersebut sudah dua tahun yang lalu. Aku
perhatikan lagi dengan cara seksama dan dengan kewaspadaan burung elang seolah
sedang mengintai mangsa. Aku dapati pada foto aneh tersebut terdapat foto dua
orang laki-laki yang sedang duduk wajah tidak kelihatan hanya punggungnya
tetapi aku kenal dua orang itu ia adalah Jabrik dan Jaya. Kemudian dari jauh
tampak seorang wanita yang bebicara dengan ketua panitia Agustusan. Wanita itu
adalah sebagai MC dan ketua panitianya adalah Agung temanku juga. Lantas apa
gunanya foto ini di upload? Dasar Kasno tidak ada kerjaan.
Besoknya
dengan wajah penatku karena telah dibuai oleh angan-angan dan belum terobati
seperti hari-hari sebelumnya. Maka tidak ada sinar yang singgah diwajah. Uh, angan-anganku
sendiri telah merusak. Menimbulkan berbagai macam penyakit mulai dari keraguan,
kekhawatiran, kecemasan, ketakutan yang tidak ada obatnya di apotik manapun.
Wajah ku
mendapatkan berkas-berkas sinar dari Kasno untuk yang kesekian kalinya. Sinar petromak.
Hari itu aku membuka Facebook lagi, dan anehnya di uploadan foto milik akun
Kasno lagi-lagi terdapat foto tiang. Jelas foto tersebut adalah foto dari jenis
yang sama seperti sebelumnya. Untuk kali ini terpampang foto petugas tenda,
beberapa buah sepedah, mimbar, beberapa orang panitia laki-laki semua dan aku
juga kenal kesemuanya itu, beberapa orang perempuan dua diantaranya telah
lanjut usia, dan satu orang perempuan yang masih muda.
Eh, tunggu
dulu. Ternyata wanita muda itu sepertinya wanita muda yang kemarin. Dari raut
wajahnya, tebal alisnya, pipi lesungnya, serta senyumannya masih tetap sama
dengan yang kemarin.
Sejak saat itu
dan hari-hari sesudahnya Kasno si wajah petromak yang sinarnya memancarkan
diseluruh ruangan sering meng-upload foto aneh-aneh dan tidak jelas. Dari seluruh
foto yang ia upload entah di Whatsapp, Instagram dan facebook seluruhnya pasti
ada foto gadis pipi lesung itu. Jelas sudah dapat disimpulkan bahwa Kasno
menyukainnya. Tetapi bukannya foto tersebut adalah foto dua tahun yang lalu dan
aku sebagai temannya tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita manapun begitu
juga wanita tersebut.
Dasar Kasno
telah melepaskan aku dari siksaan angan-angan kehidupanku setiap hari berkat
sinar petromak dari wajahnya yang mana sumber bahan bakarnya adalah si pipi
lesung. Selama dua tahun ini berarti dapat dimungkinkan Kasno tidak berani
untuk melakukan pendekatan apalagi mengungkapkan. Dasar pecundang, pikirku. Ia hanya
berani mengamati dari jauh. Dua tahun barangkali waktu yang cukup buat Kasno
untuk mengukur lesung pipi itu.
Sehingga pada
suatu pagi dihari yang cerah dan tidak kalah cerahnya dengan sinar petromak
Kasno. Aku bertanya kepadanya berapa ketebalan alis si pipi lesung itu? Akhirnya
sinar petromak yang telah menyala di seluruh penjuru ruangan, akhirnya padam
seketika. Berubah menjadi kebingungan dan kegelapan dari dalam samudra. Ah Kasno
kau itu.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 04-07-2021

Post a Comment for "Cerpen: Cahaya Petromak"