Prestasi Itu "Mencintai" atau "Dicintai"
Sebagai suatu pilihan, dari dua antara mencintai dan dicintai, maka Erich Fromm memberikan semacam dorongan kepada pembaca bukunya dengan judul The Art Of Loving. Jika diartikan buku tersebut berarti “seni mencintai”. Untuk memilih sikap sebagai orang yang mencintai bukan menunggu untuk dicintai. Mengambil bagian sebagai subjek bukan objek. Dengan begitu mencintai sebagai pekerjaan yang mana tiap-tiap orang memiliki potensi yang sama untuk mengupayakannya, sama halnya dengan lawan kata dari mencintai, yaitu membenci.
Kebanyakan
orang ketika melakukan sesuatu perbuatan, mereka akan menaruh harapan dan berfokus akan tercapainya tujuan bukan memberikan kontribusi kepada cara atau ikhtiyar yang ditempuh. Sehingga manakala
tujuan telah kandas dan atau tidak tergapai maka ia menganggap bahwa seluruh
upayanya serta waktu yang digunakan menjadi tidak bermakna. Padahal tidak harus begitu,
ketika seseorang telah berusaha akan seseuatu hal, sebenarnya ia telah melatih,
setidaknya, atau berproses untuk merubah diri sendiri. Sekalipun tujuan yang diharapkan kandas,
tetapi akibat pelatihan untuk meraihnya ia mendapatkan sesuatu yang lain dan
sama berharganya buat kepribadiannya. sesuatu yang tidak ia tuju tetapi tertuju.
Begitu juga dalam hal mencintai sebagai sebuah proses bukan garis finish, dari banyak orang akan lebih bangga dan bersuka ria ketika
dalam kehidupan dan konteks sosial ia ditempatkan sebagai seseorang yang
dicintai. demikian sebaliknya, ketika ia berada dalam kondisi yang dibenci. Entah oleh seseorang yang ia cintai atau tidak, seluruh masyarakat, kelompoknya atau
teman-temannya. Ia sendiri tidak mewujudkan dan melatih potensi diri untuk
mencintai. Padahal hakikat dirinya terdapat bukan pada apa yang telah
ditempatkan oleh masyarakat, melainkan apa yang telah ia tempatkan untuk
dirinya sendiri. kualitas itu bukan apa yang sedang terberi pada diri sendiri, tetapi sesuatu yang dapat diberikan oeh diri sendiri.
Dalam
suatu percakapan yang dimuat pada epos Mahabharata, Raja Angga Karna pernah
berkata, “bahwa kebesaran seseorang bukan disebabkan dari jabatan dan
tugas-tugasnya melainkan berasal dari perbuatannya”. Dari quote tersebut, dapat
diambil hikmah bahwa jabatan dan tugas-tugas merupakan sesuatu yang diberikan
kepada seseorang oleh kehidupan sosial, lantas menjadi pertanyaan, apa yang
sudah diperbuat oleh seseorang dengan itu semua? Jawaban tersebut bukanlah
berasal dari kata-kata tetapi harus dari perbuatan dalam mengemban tugas dan
menjalankan amanah atas jabatannya. maka akan jelas ia adalah orang besar atau sekedar menduduki kurungan emas, yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Kata "mencintai atau dicintai" sebenarnya adalah kata ganti dari menjadi subjek atau
objek. Kalau dipikir lebih lanjut antara keduanya, sebenarnya prestasi itu ada
dimana? "mencintai" atau "dicintai" yang menjadi prestasi. jika kita nilai mencintai sebagai prestasi, maka sebenarnya penghargaan atas jerih payah dari segala macam cara
yang digunakan seseorang dalam melakukan pekerjaan "mencintai" akan mendapatkan
harga yang setimpal, yaitu berupa pengakuan dari sebuah prestasi dari kemampuannya. Tetapi manakala
gagal, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak berprestasi, ya sebab gagal itu. Karena
tidak ada yang telah ia raih dan seluruh kesalahan akan ditimpakan padanya. sebab ini dan itu, ada saja.
Sedangkan "dicintai" apabila disebut sebagai prestasi, apakah bisa dikatakan prestasi? Pertama
yang mesti kita ingat kondisi dicintai adalah hasil usaha seseorang dalam
melakukan pekerjaan. Tetapi ada pula yang tanpa harus melakukan
kerja-kerja cinta, ia sudah mendapatkannya. Bisa karena rupawan, harta
melimpah, nasab terpandang, darah biru maka banyak dari mereka yang
menempatkannya untuk dicintai secara cuma-cuma, gratisan. Ini kan tidak adil, bagaimana
mungkin orang yang tidak berusaha disebut berprestasi dan mendapatkan
penghargaan? kemampuan dirinya tidak pernah tampil.
Masih
dalam konteks prestasi, cara berfikir kita yang benar itu sebenarnya harus
dimulai dari mana dan dengan cara apa untuk menyebut prestasi itu disematkan. Untuk
itu, kita mulai dari takdir manusia, seseorang pada hakikatnya tidaklah berdaya
menentukan nasib untuk dirinya sendiri dengan usaha yang paling maksimal pun. Di
sisi yang lain seseorang dituntut untuk melakukan seluruh jenis upaya tanpa
kenal putus asa untuk mengarah kepada tujuannya. Termasuk dengan cara kita
untuk mencintai, karena hanya dengan itu kita adalah sebagai subjek yang berusaha
mencapai tujuan dan jangan berharap sedikitpun akan keberhasilan.
Untuk
konteks berusaha dicintai, pada intinya kegiatan itu tidak menjalani diri
sebagai subjek, bahkan menempatkan orang lain sebagai subjek yang mencintai
diri kita. Maka secara langsung kita malah tidak memberdayakan diri sendiri
justru orang lain. Dengan begitu saya pikir, prestasi itu disematkan kepada
mereka yang menjadi subjek mencintai sekalipun tanpa hasil, bukan subjek yang
dicintai sekalipun telah berhasil. Dengan pertimbangan prestasi pantas
ditempatkan kepada mereka yang berupaya untuk menjadi dirinya sendiri dengan menempuh suatu proses.
Lebih-lebih
bagi seseorang yang masih amatiran dalam menjalani kehidupan maka sebaiknya ia harus merawat
benih-benih cinta dalam sanubarinya dengan jalan untuk selalu menjadi seseorang
yang mencintai tanpa mengharap balasan dicintai. Begitu juga yang telah menjadi senior
dalam mengarungi bahtera kehidupan, jelas ia harus berusaha terus memperbarui
cinta yang ada secara terus-menerus dengan menyemai benih-benih cinta yang ada
dalam dirinya setelah mampu dipetik dan dipanen ke dunia luar. selain itu juga memberikan pendampingan
kepada si amatir, yaitu mereka yang masih awam dalam mencintai, untuk selalu
berusaha mencintai bukan dicintai.
Dalam pemilihan, maka kita harus memilih “mencintai” sebagai suatu kesadaran subjek. Kata ganti dari mencintai sendiri adalah memberi cinta, hanya subjek yang sadar akan dirinya sebagai seorang yang memang mempunyai cinta yang akan terus mencintai tanpa harus dicintai.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 05-07-2021

Post a Comment for "Prestasi Itu "Mencintai" atau "Dicintai""