Iya

 

buruh dan pekerja

Iya

Sebagai seorang buruh pabrik, maka selayaknya bagi si buruh untuk senantiasa mematuhi dan mentaati seluruh perintah majikan yang membayarnya. Ia cukup bekerja sesuai dengan tugas yang telah ditentukan kepadanya. Tidak perlu risau untuk berpikir bagaimana memajukan usaha majikannya ini, supaya lebih unggul dan terdepan. Mengalahkan para pesaing-pesaingnya yang ada.

Begitu pula dengan seorang karyawan kantoran. Ia pun cukup melakukan pekerjaan yang telah menjadi bagiannya dengan semangat dan jangan sedikit kendor. Lagi-lagi harus disiplin. Bekerja sesuai jam yang telah ditentukan, sekalipun tidak ada pekerjaan apabila belum waktunya pulang maka jangan pulang. Tetap tinggal di kantor bersama kawan senasib. Berbicara yang gak penting tidak masalah.

Dari kedua pekerjaan tersebut antara buruh pabrik dan karyawan kantor sebenarnya sama saja. Yaitu sama-sama bekerja dengan jam tertentu dan gaji tertentu pula. Kerja gak kerja apabila belum jam pulang maka gajinya tetap sama. Pekerjaan dinilai dari ketentuan jam. Mungkin buruh pabrik atau lainnya, mempunyai pekerjaan yang menyebabkan aroma keringat menusuk-nusuk hidung, rambut kumal muka berantakan. Sedangkan pekerja kantor, ia bekerja dengan aroma dan baju lebih rapi, tampak terpandang. Sepatu dan rambut sama-sama hitam konclong. Tetapi pada intinya keduanya sama-sama sebagai pesuruh.

Mereka yang bernasib sebagai pesuruh, maka seluruh pekerjaannya tercakup pada satu kata “iya”. Tidak lebih dari itu dan tidak boleh, seperti menambahi dengan “iya, tetapi.....”. kata “tetapi” hukumnya haram bagi mereka. Pokoknya si majikan atau bos harus di iyain terus. Tanggung jawab kebenaran tidak diperlukan apabila masih ingin menyandang pekerjaan. Kebenaran ada ditangan bos.

Toh, kebenaran seperti ini tidak begitu perlu digunakan, karena hanya menyangkut keuntungan dari usaha si bos saja. Seandainya suatu hari seorang karyawan atau buruh menemukan sutu kekeliruan dari pikiran si bos dalam mengambil sikap yang menentukan kepada berlangsungnya untung dan rugi. Apabila si anak buah yang hanya dan harus berkata “iya” kepada bosnya menyanggah dengan argumen ini dan itu.

Kemudian pendapatnya ditolak bahkan mengakibatkan ia dianggap menentang, sehingga ia hendak dipecat. Maka itu adalah hak bagi bos. Karena nasib sialnnya menjadi pesuruh dengan kewajibannya untuk selalu berkata “iya” saja terus menerus samapai pensiun. Kebenaran bagi seorang pesuruh tidak lah penting, yang ia butuhkan adalah kenaikan gaji dan pangkat. Itu semua hanya bisa didapatkan apabila ia terbukti di mata bos sebagai orang yang patuh dan pekerja baik.

Menjadi runyam apabila ternyata kehendak bos melampaui kebenaran dalam koridor pekerjaan. Semisal sudah melangkah kepada kepribadian dari pegawai yang adalah manusia. Jadi bos menempatkan kewajiban pekerjaan pegawai melebihi kewajiban pegawai sebagai warga negara dan warga agama. Kebijakan bos tersebut memberikan peluang kepada buruh atau karyawannya untuk melanggar aturan agama atau negara.

Posisi dilematis bagi mereka. Disatu sisi ia harus berkata “iya” disisi lain batinnya menolak. Bagi mereka yang berkata “iya” jelas nasibnya dan gajinya mujur. Bagi mereka yang lebih mengedepankan prinsip daripada menggantungkan nasib kepada si bosnya itu, maka ia lebih memilih angkat kaki pergi menjadi orang yang bebas. Dipecat atau memecatkan dirinya sendiri.

Sederhana pilihan bagi seorang karyawan atau buruh. Berkata “iya” dan lanjut bekerja atau berkata “tidak” menggeleng dan berpikir cari pekerjaan lain. Karena pendapat bos adalah segalanya, benar atau tidaknya dari berbagai sisi dan sudut, tetapi dari sisi kekuasaan ia selalu benar. Mereka yang dibawah kendali hal paling terpenting adalah digaji tepat waktu, apabila terlambat satu detik baru mereka bisa berontak dengan menuntut hak.

Pemberontakan pertama dapat dilakukan dengan menghidupkan bara dalam dada. Disambung dengan bara yang semakin memanas tiap harinya dari sesama pekerja maka bisa besar dan cukup untuk membakar kantor atau pabrik. Apabila ditengah jalan, pikiran dihantui kecemasan kehilangan dipecat, seketika bara pemberontakan akan padam tersiram api keraguan. Dengan begitu kembali kepada format awal atas statusnya sebagai pesuruh yang dikendalikan oleh tali kekang yang diikat dilehernya oleh bos agar selalu berkata “iya”. Bahkan untuk terlambatnya gaji, pertimbangannya daripada dipecat.

Teramat kasihan, kosa kata yang begitu banyak dan berserakan dalam kehidupan menjadikan pekerja-pekerja itu hanya tersimpulkan dalam satu kata “iya”. Lebih ironi lagi untuk mereka yang menguasai berbagai sudut pandang dan pengetahuan dengan seringnya menggunakan bahasa yang beraneka macam diambil dari buku yang bertumpuk-tumpuk dari perpustakaan ternyata harus bernasib sial apabila melihat usahanya dulu manakala ia sendiri nyatanya harus selalu berkata “iya” karena ia adalah pekerja yang dikendalikan si bos.

Zaman kita sekarang dapat diperhatikan, ternyata orang yang menguasai banyak bahasa sebagai cermin dari banyaknya pengetahuan dari banyaknya dan tingginya pendidikan yang telah ditempuh ternyata memilih nasibnya untuk menjadi pekerja yang terkendali untuk selalu berkata “iya” kepada bos. Tidak masalah sebenarnya, tetapi orang yang terdidik tidak mungkin menjual kepribadiannya dengan gajinya. Semakin terdidik seseorang harusnya lebih lentur, tahu kapan berkata “iya” dan “tidak” dengan segala resikonya berani untuk ia genggam sendiri sekalipun itu adalah bara yang muncul dari dada bosnya.

 

Tegalwangi, 30-07-2021

Post a Comment for "Iya"