Kasih Sayang
Penguasa
Machiavelli mengajarkan kepada
pembaca bukunya, Il principle, untuk mampu bersikap layaknya rubah dengan segala
kelicikannya, dalam satu sisi. Juga harus mampu untuk bersikap layaknya singa
dengan segala keganasan dan kekuatannya. Memadukan keduanya akan menyebabkan
seorang penguasa menjadi tangguh tidak sekedar anggun yang biasa-biasa saja,
tetapi teristimewa.
Musuh yang datang menghampiri
akan gentar duluan dan lari bukan kepalang tak terkendali. Kawan lama yang
telah setia dalam berbagai suasana akan menjadi serius dalam berkawannya. Berat
baginya untuk kemudian meninggalkan kawannya yang sedang berkuasa. Entah ilham
apa yang singgah dalam pikiran Machiavelli, sehingga ia bisa menemukan suatu
ide untuk mengabadikan singgasana.
Perpaduan antara ganas, kuat dan
licik anti tertipu ternyata tidak menyisakan sedikitpun rasa kasih sayang
selayaknya induk ayam kepada anak-anaknya yang baru menetas. Yang tersayang
adalah kuasa itu sendiri. Segala kemampuan yang digunakan berasal dari pikiran,
tidak lagi diproduksi oleh perasaan. Mana ada singa dan rubah yang punya
perasaan?
Kerap kali, hari-hari ini, bisa
jadi sampai hari-hari selanjutnya yang akan datang kita membaca dan memahami
dalam pemberitaan media beberapa kebijakan dari penguasa yang menunjukkan
perhatian kepada rakyat yang ia pimpin dalam balutan kasih sayang yang hangat
dan mesra. Adanya bantuan sembako, beras, minyak dsb, pembangunan aspal, penanaman
tiang listrik dan lampu, perawatan kota, kesejahteraan warga desa yang paling
pinggir dan apa sajalah yang bisa disebutkan.
Ketika kita baru selesai membaca
Machiavelli dengan pemahaman yang baik, tidak mungkin kita menyadari segala
bentuk kebijakan dari sang penguasa itu adalah kasih sayang. Untuk menyatakan
bahwa hal tersebut adalah suatu bentuk tanggung jawab pun kita juga akan dibuat
ragu. Paling ujung kita akan menganggapnya sebagai suatu cara untuk
melanggengkan kekuasaannya dalam bertahta.
Jadi kita dibuat tidak gampangan
dan polos sekali, pasti ada curiga-curiganya, dalam benak pikiran kita yang
sekalipun tidak diberkati dengan data yang cukup untuk dinalisis sehingga akan
ketahuan kesimpulannya, pasti terbesit, “ah jangan-jangan ada kepentinga, ada
maunya...dsb”.
Bagi mereka yang tidak percaya
dengan kasih sayang penguasa, akan menganggap bahwa kasi sayang tersebut
dibatasi hanya untuk keluarganya saja. Istri, anak, saudara dan famili dekat
lainnya, bisa juga kepada chanel-chanel dan partisipannya yang mendukung. Sedangkan
yang bukan dari bagian tersebut, maka ia juga tidak akan diutamakan dan mendapatkan
apa-apa.
Lumrahnya dalam kebudayaan Jawa,
seorang penguasa akan ditempatkan sebagai seorang ‘bapak’. Istilah ini
digunakan untuk menunjukkan bahwa hanya seorang bapak sajalah yang akan memutuskan
keberlangsungan hidup dari anak-anaknya, dengan kata lain mereka yang dipimpin.
Bapak akan senantiasa dinanti-nantikan kasih sayangnya oleh mereka yang
menyebutnya demikian.
Kemudian yang menjadi pertanyaaan
dalam pikiran kita sebagai anak, apakah bapak yang memperoleh kemenangan dalam
politik akan bersikap sama dengan bapak kandung dalam mencurahkan kasih
sayangnya kepada anak-anak yang memenangkannya?
Dalam pertanyaan sejenis itu kita
akan menemukan jawabannya berserakan setiap harinya, dipinggir jalan, dalam
terang lampu jalan, tebal tipisnya aspal dan juga dalam segala sesuatu yang
kita tidak tahu jawabannya, karena memang jawaban tersebut dilipat dan ditaruh
didalam saku sang bapak.
Sebagai anak, agar terlihat
berbudi luhur, maka ia harus mempunyai prasangkan baik kepada bapaknya. Sekalipun
telah menemukan kebobrokannya. Untuk mereka yang berani, dimana keberanian
adalah juga termasuk sikap terpuji, akan berhenti untuk memanggil penguasa
sebagai “bapak”, tatkala ia tidak mampu mendistribusikan kasih sayangnya secara
merata. Apalagi hanya dibatasi untuk keluarganya yang seatap.
Seorang bapak atau penguasa yang
berusaha mengabadikan kekuasaannya tidak lagi menggunakan kasih sayangnya
kepada rakyatnya dengan bentuknya yang sejati. Melainkan ia menggunakannya
sebagai umpan, seperti memancing ikan. Umpan kecil untuk ikan yang besar. Sulit
dan samar untuk mengendus apakah kasih sayang dari penguasa tersebut adalah
memang kasih sayang yang benar atau hanya sekedar bahasa saja dengan makna yang
tidak disepakati.
Jadi rakyat mengira itu adalah
kasih sayang penguasa yang benar, tetapi penguasa sendiri menggunakannya dalam
rangka kekuasaanya sendiri. Tidak ada tendensi kepada mereka yang dipimpin. Pengalaman
kita sejauh ini lebih banyak melihat para penguasa dengan tabiat singa dan
rubah jarang kita menemukan tabiat induk ayam. Artinya masih tetap ada, tetapi
sulit. Kalau begitu kapan dan dimana anak-anak bisa menjemput kedatangan
bapaknya yang sejati dengan kasih sayangnya yang sejati tanpa ada tendensi-tendensi
pribadi?
Tegalwangi, 25-07-2021
Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Kasih Sayang Penguasa"