Penjajah

 

penjajah

Penjajah

Di era penjajahan ketika bangsa kita masih dalam cengkeraman bangsa lain, dapat kita lihat kesengsaraan yang paling paripurna. Untuk cari makan susah yang teramat. Umbi-umbian sebagai makanan pokok dan asli dari bangsa kita ini, bukan padi, dalam kondisi susahnya ketika digali ditanah yang didapatkan bukanlah apa yang hendak dimaksud, melainkan tulang-belulang kekerasan bangsa penjajah kepada penduduk asli.

Hari-hari di masa itu sungguh sangatlah sulit. Kita tidak pernah tahu sengsaranya hidup kala itu, yang kita ketahui hanya cerita dari mulut ke mulut atau dari buku yang kita baca. Barangkali seluruh kata-kata dalam kamus bahasa Indonesia sekarang ini apabila dicari padanan kata untuk menggambarkannya belum tentu berhasil, oleh karena itu saya tidak akan menggambarkannya, karena juga percuma. Yang penting dan perlu di ingat bahwa zaman tersebut sangat susah.

Bukan hanya makan yang susah, menjadi manusia dalam bentuknya yang sejati pun tidak karuan sulitnya. Bagaimana manusia itu? Yang pasti harus berbeda dengan hewan seperti, kadal, biawak, kucing, komodo kambing, buaya dsb. Harus berbeda pula dengan tumbuh-tumbuhan, anggrek, pinus, sengon, mawar, rumput, jati dsb.

Hewan adalah makhluk bergerak dengan kemampuan menyensor mana bahaya dan mana makanan untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan tumbuhan lebih sederhana lagi, yaitu makhluk dengan kemampuan tumbuh dan berkembang saja. Manusia bisa melakukan apa yang dilakukan dua makhluk itu, tetapi dua makhluk tidak bisa melakukan apa yang mampu dilaksanakan oleh manusia. Dan inilah yang menjadikannya berbeda.

Penjajah menempatkan yang terjajah layaknya sebagai tumbuhan, yang dengan seenaknya dapat ditebang tanpa pikir panjang dengan berbagai pertimbangan. Sebagai hewan, dengan memberi imbalan makanan saja untuk melaksankan seluruh keinginannya. Tidak peduli dengan keberlangsungan hidupnya, yang penting masih memberikan keuntungan, maka layaklah untuk diternak.

Bagi mereka yang terjajah, ketika menyetujui seluruh kehendak penjajah, maka sebenarnya yang terjajah telah melestarikan penjajahan dan mewariskannya kepada anak cucu. Ditambah lagi mereka sebagai manusia telah menurunkan martabatnya sendiri. Kekurang sadaran bahwa ia sebenarnya terlempar di dunia yang fana ini adalah sebagai manusia bukan hewan dan tumbuhan. Inilah problem krusial manusia. Kurang sadar.

Masalahnya dari mana kesadaran ini harus dimulai dan siapakah yang mengawalinya? Jelasnya beberapa gelintir orang yang bebas. Yaitu mereka yang tidak dikendalikan oleh tubuhnya, melainkan oleh suara jiwa terdalamnya yang memanggil-manggil “hey kau adalah manusia dan jadilah manusia, jangan jadi hewan atau tumbuhan”.

Ketika penjajah dari bangsa asing telah resmi pergi untuk selamanya. Berpikir bahwa penjajahan telah dihapuskan, berarti membuka kemungkinan untuk menerima dijajah lagi dalam bentuk lain. Karena pelaksana penjajahannya saja yang dapat pergi, tetapi tabiat dari penjajah itu sendiri tidak bisa kemana-mana, selalu berada didekat kita.

Ia menjelma dalam aturan publik, dalam bahasa percakapan sehari-hari dan seluruh bentuk apapun yang terlihat atau tidak dengan tujuan untuk mengurangi kualitas manusia dan menggesernya ke jenis lain, berupa hewan dan tumbuhan. Tanpa sadar terkadang kita dihewankan, dianjingkan, didombakan, dimawarkan, didurenkan oleh kehidupan yang tidak kita cermati dan saring dengan baik. Hanya sekedar menerima tanpa berpikir panjang antara sebab dan akibat. Hewan dan tumbuhan tidak memiliki daya sebab-akibat. Yang penting hidup, bahkan mereka tidak bisa berpikir pentingnya hidup, tetapi melaksanakannya saja.

Mengurangi menjadi makhluk bukan manusia berarti mengurangi keterjajahan. Bersikap sebaliknya adalah melestarikannya. Logika sederhana, tetapi tidak sesederhana logika itu dalam menjalankannya.

Salah satu cara untuk bersikap sebagai manusia bebas yang pantas menjadi manusia adalah dengan menggunakan akal pikiran dengan sebaik mungkin dalam menimbang segala problematika kehidupan. Apapun yang telah disimpulkan maka sedapat mungkin harus diuji dalam realita nyata kebenarannya. Berani berpikir sendiri adalah jalan pembuka yang mulus dan lurus untuk menjadi manusia anti terjajah. Selanjutnya keberanian diwujudkan dalam mengekspresikan pikiran itu.  

 

Tegalwangi, 30-07-2021  

 

Post a Comment for "Penjajah"