Mempercayai Kebohongan
Seorang anak kecil terlihat
tengkurap ditangga musholla sambil menunggu imam untuk sholat jama’ah ia
melihat-lihat ke langit. Dimana ketika siang ia berlari-lari ke arah utara dan
selatan membawa layang-layangnya agar dapat terbang. Tiba-tiba muncul seseorang
dari pintu rumah seraya mengatakan, “le, ada layangan putus”, dengan
menunjuk ke langit yang gelap. “mana?”, “itu tadi, sekarang berada dibalik
pepohonan tidak tampak, tunggu sebentar lagi, karena layang-layang tersebut ada
lampunya ”.
Reaksi si anak sangatlah
antusias, bagaimana tidak? Beberapa hari ini ia sangat menggemari bermain
layang-layang. Seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia bermain dengan
perasaan senang yang muncul dari dirinya, bukan sebab ikut-ikutan (usum-usuman)
musim, melainkan memang berasal dari keinginannya untuk bermain.
Harus dimengerti bahwa informasi
tentang adanya layangan putus adalah berita bohong yang dibuat oleh orang dari
dalam rumah tersebut, sekedar untuk menghibur dan menyapa si anak kecil
tersebut. Tidak lain karena orang tersebut pastinya melihat dari pagi hingga
sore, antara ada dan tidaknya angin berhembus, ia selalu melihat si anak kecil
berlari-lari dengan kendali benang ditangannya.
Antusiasme dari si anak dengan
menunjuk pada kata-kata “mana?”, ini merupakan pertanda bahwa anak tersebut
sebenarnya terpengaruh oleh berita dari tentang layangan putus. Ia sendiri
tidak pernah melihat bahwa apakah memang benar ada layangan yang putus? Akan menjadi
pertanyaan tersendiri sampai jawabannya itu tiba dengan melihat ada benda
bergerak dillangit, yaitu layangan. Sebagai anak kecil, ia cukup mudah untuk menerima
kebohongan, tetapi tidak bisa dengan gampangan kita simpulkan bahwa anak kecil
mudah dibohongi.
Kenapa bisa begitu? Beberapa hari
yang lalu ketika PPKM Darurat diberlakukan, seluruh wacana merucut pada sebuah
titik tentang pembatasan sosial. Intinya mengurangi berada diluar lebih-lebih
dalam kerumunan. Beberapa langkah telah dijalankan untuk mendukung hal itu,
semisal pedagang hanya dibatasi sampai jam 8 malam saja, tidak boleh terdapat
himpunan massa dalam jumlah yang banyak dengan kapasitas maksimal 25 dalam
acara apapun, PJU setiap jam 8 malam akan dimatikan. Sehingga tidak dapat dibedakan
mana penerangan yang rusak dan yang dimatikan, sebab kedua-duanya sama-sama
mati.
Muncul sebuah berita di halaman
Facebook, yang menyatakan bahwa POM bensin akan ditutup. Info tersebut beredar
dari dua akun. Masyarakat yang membacanya sedikit banyak mempercayai. Sebab dengan
ditutupnya POM Bensin, maka akan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk
beraktivitas keluar rumah. Sebagai pendukung adanya kebijakan PPKM darurat ini.
Seluruh orang, mungkin hanyak sedikit saja, akses kehidupannya entah untuk
memenuhi ekonomi, hobi, ibadah dan sekedar main-main menggunakan transport
dengan bahan bakar bensin. Ketika tidak dapat mengisi bensin maka mereka yang
terbiasa menggunakan sepedah motor akan berada dirumah saja (stay at home).
Tidak lama dari berita yang
menjalar dari satu pengunjung FB ke pengunjung lainnya, dari satu mulut ke
mulut lainnya, menjadi perbincangan disela-sela kehidupan. Ternyata berita tentang
ditutupnya POM bensin adalah berita hoax, sampai terkonfirmasi oleh mereka yang
berwenag untuk menyatakan ditutup atau tidaknya POM bensin.
Orang-orang yang mempercayai atau
yang mencari informasi tentang kebenaran berita tersebut, sebelum kemudian
mendapatkan informasi yang membantah dua akun di FB sebenarnya tidak dapat
disalahkan manakala ia percaya. Hal tersebut dikarenakan berita yang diucapkan
di beranda dengan realita menemukan suatu sambungan yang masuk akal. Antara pembatasan
sosial dan POM bensin ditutup. Berbeda dengan mereka yang tidak butuh kepada
bensin atau yang kehidupannya sehari-hari tidak menggantungkan kepada motor. Semisal
anak-anak.
Sebagaimana contoh anak kecil
yang percaya adanya layangan putus, ia menjadi percaya dikarenakan terdapat
keterkaitan antara dia dengan layangan. Dapat dipastikan anak tersebut tidak
akan percaya dengan adanya POM bensin ditutup, sebab ia tidak mengalami
ketergantungan. Sekalipun setiap harinya ketika berangkat sekolah ia diantar
dengan sepedah motor yang berbahan bakar bensin. Justru orang tua nya yang akan
sedikit cemas dan bertanya-tanya apakah memang benar-benar ditutup, sebab ia
membutuhkan.
Jika kemudian anak kecil itu esok
harinya diberi tahu bahwa bumi yang ia pijak untuk lari-lari setiap hari tidak
lagi memproduksi angin. Barangkali ia bisa percaya tetapi juga bisa tidak? Karena
apabila si anak telah mampu berpikir tentang hakikat angin, apakah termasuk
barang yang bisa habis seperti pohon yang ditebangi setiap hari atau tidak
bisa? Mengingat ia menggunakan angin setiap hari untuk bermain layang-layang,
karena terlalu banyak digunakan maka apakah bisa habis? Cara berpikir yang
salah juga akan menjadikannya terjerumus untuk mempercayai sebuah kebohongan,
juga bisa menyelamatkannya?
Untuk seseorang termasuk untuk
anak kecil itu juga, tidak akan menggunakan daya pikirnya setelah berita atau
informasi yang ia terima merupakan bagian dari kesenangan atau kebenciannya. Sebab
dengan dua hal tersebut, seseorang akan bertindak tanpa berpikir, dari sinilah
kebohongan dapat merasuk. Mereka yang dapat dibohongi dikarenakan menggunakan
perasaannya dalam menilai. Selain itu berita bohong akan dapat dipercaya
apabila berkaitan dengan sisi kehidupan dimana ia mengalami ketergantungan,
angin untuk layang-layang.
Sedangkan untuk berita yang
dianggap masuk akal, seseorang akan mudah saja dibohongi, kecuali ia
mempertanyakan dan menunggu fakta yang berbicara. Masalahnya sampai kapan
kegiatan menunggu kebenaran itu berlangsung? Tidak akan ada satu pun orang yang
bisa menjawabnya. Setidaknya agar tidak dapat dibohongi maka janganlah terlalu
cepat-cepat untuk mengambil kesimpulan.
Tegalwangi, 16-07-2021
Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Mempercayai Kebohongan"