Nasib Kayu Bakar Pada Tahun 2021

 

kayu bakar

Nasib Kayu Bakar Pada Tahun 2021

Tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya jelas tidak sama, begitu pula dengan benda apapun yang terikat untuk masuk ke dalam dimensi waktu. Kayu bakar salah satunya, mempunyai nasib yang begitu mencolok di dapur rumah. Bagaimana tidak? Hari ini jenis bahan bakar tersebut yang dulunya adalah tanda bagi kehidupan sekarang tergeser posisinya dengan LPG, bukan kemudian ia lantas menghilang melainkan menjadi yang kedua.

Sejak zaman jawa Majapahit, Demak, Pajang, Kesultanan Jogjakarta hingga menjadi republik Indonesia. Ibu-ibu di desa maupun di kota memasak dengan bantuan bahan bakar dari kayu. Di pungut dari area ladang dan kebun yang terdapat pohonnya, di ambil rantingnya dan di potong dahannya sesuai ukuran luweng dan praktis ketika dibawa. Sekarang telah jarang, mereka beralih ke LPG yang lebih mudah lagi. Tidak perlu angkat sana angkat sini, potong dari sana dan sini. Cukup membeli ke toko sembako dekat rumah pasti ada. Tinggal menyambungkan ke regulator, hidupkan kompornya bunyi ceklek api pun telah menyala.

Kondisi seperti ini nyatanya memberikan keuntungan bagi tamu. Setelah mengucapkan salam, diterima oleh tuan rumah, bicara sedikit saja, tiba-tiba datang kopi atau teh panas. Ini semua berkat LPG yang teramat mudah untuk memberikan layanan dalam menghidupkan api. Bayangkan saja apabila menggunakan kayu bakar, masih menyiapkan tungku, kayu, api dari korek, mengupayakan kehidupannya, itu pun jika langsung hiidup, jika tidak maka waktu semakin lama, apalagi kalau kayunya basah lebih kacau lagi. Bisa-bisa tamu gagal minum kopi panas.

Anak angkatan 90-an pasti masih mengingat adanya kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Kompor jenis ini sebenarnya telah menjadi pertanda kepada kayu bakar bahwa ia sedang hendak digeser. Karena layanan kompor minyak tanah memberikan kemudahan dari pada tungku dengan kayu bakarnya. Tetapi nyatanya kompor minyak tanah hari ini yang tergeser dengan keberadaan LPG sedangkan kayu bakar masih digunakan.

Dari sekian banyak orang khususnya yang berada di desa, mereka masih tetap setia menggunakan bahan kayu bakar sekalipun berada disampingnya tabung gas LPG 3 kg. Tidak dengan masyarakat kota, mutlak menggunakan LPG, apalagi anak kos, tidak perlu dibicarakan lagi. Hal tersebut terjadi karena memang melihat kondisi, kalau di kota mau dimana akan mencari kayu,  tetapi kalau LPG jelas sangat banyak.

Dualisme model memasak hanya didapati di desa, kayu bakar iya LPG pun iya. Tetapi sekalipun masih menggunakan kayu bakar, masyarakat desa biasanya mengambil keputusan tersebut bukan karena ingin menggunakan kayu bakar semata-mata, tetapi karena ada kayu eman-eman, menurut mereka. Penggunaannya jelas sedikit. Dengan begitu kayu akan ditemukan berserakan tidak berguna. Mungkin hanya produsen tahu, genteng dan barang-barang lainnya yang tidak bisa menggunakan LPG, maka menggunakan kayu bakar. Sisanya ya pakailah sesukanya dan sebutuhnya, lagi-lagi eman-eman.

Sekalipun begitu, dengan tergesernya kayu di mata emak-emak tetapi ia telah menyertai kehidupan sejarah Indonesia, orang-orang hebat yang kini dan dulu telah memimpin Indonesia mendapatkan makanan yang matang jelas sebab berkat kayu bakar. Mungkin masa depan lah baru giliran LPG yang mempunyai kontribusi kepada para pemimpin dan orang hebat untuk memasakkan makanan yang mereka konsumsi.

Meskipun tergeser, kita tetaplah mengakui bahwa kayu lebih senior daripada LPG. Kita menghargai kayu bukan karena senioritasnya melainkan jasa-jasanya mengepulkan asap di corong-corong dapur rumah dan kesetiaannya untuk tetap ada hingga hari ini menemani para emak-emak.

 

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 17-07-2021   

Post a Comment for "Nasib Kayu Bakar Pada Tahun 2021"