Orang Gila

 

orang gila

Orang Gila

Ketika terdapat seseorang yang berbeda dengan khalayak pada umumnya. Ia melakukan sesuatu yang hampir tak seorang pun mampu melakukannya. Ia seorang diri, tidak satu pun yang membersamainya. Sekalipun hal tersebut adalah bentuk kemajuan, andaikata orang-orang yang awalnya tidak mengerti mencemoohnya dan suatu hari ketika pemahaman sudah didapat sanjungan tidak henti-hentinya. Maka dari awal, ketika tidak dimengerti orang tersebut akan disebut gila, ketika dimengerti dan diambil manfaatnya ia masih disebut gila tetapi dengan konotasi yang baik, sebuah pujian.

Akibat berbeda itulah seseorang bisa disebut gila. Kegilaan menghasilkan keterasingan. Mengasingkan diri dari mayoritas akan menghasilkan predikat gila. Dalam hal ini kita dapat mengambil kesimpulan sebagai pembuka bahwa orang gila mempunyai ciri, yaitu mereka yang selalu berbeda dari mayoritas. Entah dikarenakan seorang itu lebih maju atau karena memang ia adalah seorang yang sakit jiwa, sehingga tiada kemampuan untuk mengendalikan diri. Seluruhnya bebas dan los.

Fenomena orang gila dipinnggir jalan yang kita temui, dengan raut muka berantakan, tubuh belepotan, ketika orang yang melihatnya tidak mengenakan baju atau beberapa bagian tubuhnya yang seharusnya tidak menjadi pemandangan umum terlihat, orang gila sendiri tidak akan mengetahui akan dirinya yang telanjang. Tidak mengetahui disini bukan dalam arti tidak melihat dengan mata kepala. Penglihhatannya masih cerah, sebagaimana ia memilih jalan yang disusuri, tetapi tidak melihat dengan akal pikirannya.

Kalau hewan dari dulu memang tidak memakai baju, lantas ketika ada orang tidak memakai baju, menyalahi kodrat sebagai manusia, maka ia disebut gila. Atas predikat ini, ia menjadi maklum. Tetapi konsekuensinya ia dianggap tidak tergolong dalam golongan manusia pada umumnya. Tidak terbebani dengan hak dan kewajiban manusia. Sesuai dengan definisi kalau manusia adalah hewan yang berakal, sebab orang gila tidak menggunakan akalnya maka hanya tersisa sisi kehewanannya. Bagaimana dengan orang waras yang tidak berpakaian?

Dalam suatu kosa kata yang baku dan sering kita dengar untuk digunakan dalam peristilahan yang satu ini, orang gila disebut sebagai orang yang sakit jiwa. Karenan adanya ketertekanan yang menimpa dari permasalahan kehhidupan sehari-hari, lantas mentalnya tidak mampu menanggung, maka seolah akses terhadap tubuh sedang terlepas. Ia tidak bisa mempergunakan akalnya dalam menilai dan mempertimbangkan segal hal yang dicerap oleh indra. Berbeda dengan orang yang dari bayi memang IQ nya kurang dari seratus. Sehingga kemampuannya dalam menggunakan otak kurang. Bukan tidak bisa. Hanya sekedarnya saja.

Sebagai suatu pengalaman, saya pernah berjumpa dengan seseorang yang stres atau gila. Hal menariknya dalam perjumpaan itu, ia mampu berbicara layaknya orang sehat, mulai dari persoalan olahraga ditijau dari akibatnya terhadapa manusia sampai berdalil dengan menggunakan dalil-dalil agama dalam melihat suatu masalah. Menurut pendapat orang sekitar ia rajin membaca koran dan dulunya ia adalah santri di suatu pesantren, lantas ada beban kehidupan yang ia tidak mampu pikul sendiri, akhirnya ia stres dan gila.

Nyatanya dalam kasus orang ini, otaknya masih berfungsi bahkan melebihi orang waras pada umumnya terkait mengakses pengetahuan dan mengucapkannya. Bicaranya begitu sistematis dan teratur. Hanya saja selama berbicara dalam durasi sekitar setengah jam tanpa henti, ia tidak kehabisan bahan dan tidak mempertimbangkan lawan bicaranya. Dari sini lah terlihat ia tidak waras, karena sekalipun pikirannya sehat tetapi seolah ia sendiri tidak menyadari hadirnya orang lain diluar dirinya.

Ia menempatkan diri sebagai yang bebas tidak dikuasai oleh siapapun dan merasa tidak menguasai siapapun. Tidak ada hukum, aturan dan tata kesopanan yang diikuti manakala bersama dengan orang lain. Melihat fenomena tersebut kita mengerti bahwa jiwa sangatlah berarti bahkan melebihi otak paling cerdas sekalipun. Tanpa ada jiwa yang terkonsolidasi dengan tubuh maka hidup sebagai manusia tidaklah berarti.

Hidup itu sendiri dapat diartikan sebagai hubungan mesra antara tubuh dan jiwa. Ketika sudah tidak ada jalinan yang baik, sesehat apapun dan secerdas apapun tubuh itu, maka tidaklah berarti, bisa saja disebut tubuhnya hidup tetapi fungsi kehidupan itu sendiri sudah tidak ada atau mati. hewan yang berpikir sebagai manusia hanya dimungkinkan atas hadirnya jiwa.

Oleh karena itu, orang gila dipinggir jalan adalah mereka yang tercerabut jiwanya dari realitas sekitar. Sedangkan orang yang berbeda karena kejeniusannya sehingga orang lain tidak mampu menjangkaunya dan berbeda sehingga disebut “gila ini orang”, sebab ia mendahului realitas yang diakses manusia pada umumnya. Kedua jenis gila ini mempunyai persamaan. Yaitu sama-sama diasingkan dan disepikan dalam peradaban, sedangkan untuk perbedaannya, jelas tahu sendirilah.  

 

Tegalwangi, 03-08-2021

Post a Comment for "Orang Gila"