Dari Masyarakat Ilmiah Menuju Masyarakat Beriman

 

PERKEMBANGAN MASYARAKAT

Dari Masyarakat Ilmiah Menuju Masyarakat Beriman

Menarik sekali setelah membaca undangan via Whatsapp dari pemerintah kabupaten Jember, yang berisi tentang ajakan untuk berdo’a bersama. Dimana pada acara tersebut, yang bertemakan Jember berdo’a, Jember Sehat, Jember Bangkit #WesWayaheJemberNdungoBareng mengundang dalam dua bagian. Secara luring berjumlah 11 undangan, meliputi beberapa asisten, kepala dinas dan kepala bagian. Secara daring berjumlah 5 undangan, meliputi Ka. OPD, Camat, Lurah, Kepala Desa, para kyai dan pengurus pondok pesantren se-Kabupaten Jember.

Kegiatan tersebut bisa dikatakan sebagai acara sesudah beragam ikhtiyar telah dilakukan untuk menghindarkan tanah air kita tercinta dari wabah virus Covid-19. Menjadi penting kiranya untuk mengadakan acara berdo’a karena tidak bisa dipungkiri, do’a adalah suatu yang integral dalam kehidupan manusia. Tidak sekedar hanya usaha yang dilakukan secara terus-menerus.

Masih segar dalam ingatan kita, sekalipun pandemi telah berlangsung selama satu tahun lebih. Beberapa kebijakan pun telah diterapkan untuk meminimalisir. Masyarakat paling awam pun saat ini mengenal istilah paling rumit dalam dunia ilmiah, seolah menjadi lauk-pauk sehari-hari. Bahkan dalam suatu pembicaraan tidak akan terlepas satu terminologi ataupun kosa kata yang merujuk pada Covid 19.

Artinya masyarakat telah berbaur sedemikian akrab dengan segala atribut yang berkenaan dengan Covid 19. Ini semua termasuk bagian dari sosialisasi pemerintah, secara tidak langsung, untuk menangani wabah  dengan cara ilmiah. Sehingga menciptakan pola pikir yang berubah, yaitu ilmiah.

Meskipun begitu, beberapa minggu yang lalu, kita dicemaskan dengan kondisi meningkatnya angka kematian yang terus menerus dari tiap harinya. Dari pemerintah yang menerapkan metode ilmiah dalam penanganan maka dikenal lah istilah PPKM darurat yang berevolusi menjadi PPKM berlevel. Dari pihak masyarakat yang mengalami kebingungan dan ketakutan akan kematian, mereka menerapkan cara tersendiri untuk mengatasi pandemi atau pageblug, yaitu dengan memasang boneka didepan rumah.

Ternyata dapat kita lihat, bahwa kecenderungan masyarakat kita dikala terdapat ancaman yang tidak dapat dibendung masih berbelok ke arah mitos. Memang ketika intensitas kebingungan meningkat, sesuatu akan terlihat bentuk aslinya dan inilah masyarakat kita. Ironi, bagi dunia pendidikan, karena sejak Indonesia merdeka, masyarakat mampu mengenyam pendidikan dengan layak serta sosialisasi dan pendekatan pemerintah cenderung berbasis ilmiah yang artinya upaya untuk menggunakan akal, tetapi masyarakat lebih memilih jalan yang berseberangan dari apa yang telah dibudayakan, yang disebut dalam terminologi Tan Malaka sebagai logika mistika.

Untuk memberantas pola pikir semacam itu, Tan Malaka tidak tanggung-tanggung perhatiannya. Ia mengarang sebuah buku yang berjudul Madilog, akronim dari materialisme, dialektika dan logika. Suatu warisan berpikir yang ia dapat dari Barat. Masyarakat maju menurutnya adalah masyarakat dengan pola pikir berbasis materi, riil, nyata. Bukan berdasarkan sesuatu yang gaib atau takhayul.

Sekilas, pendangan tersebut dapat kita acungi jempol. Karena ia mengajak untuk menjadi manusia yang sebenarnya, yang menggunakan anugrah Tuhan paling berharga yaitu akal. Basis materi menunjukkan wilayah yang dapat dipikirkan, tetapi terdapat wilayah yang memang ada tetapi akal sehat tidak mampu untuk menjangkaunya. Karena sesuatu bisa kita perkirakan bahkan karena terlalu sering terjadi maka dibuatlah suatu teori, yang seolah-olah selamanya pasti. Ternyata sekali atau dua kali meleset, maka dunia ilmiah tidak berdaya pada satu konteks semacam ini. Sebagaimana pengalaman yang kita temukan sehari-hari.

Karena wilayah tersebut merupakan bagian kekuasaan Tuhan yang mana pendekatan ilmiah tidak berhasil untuk menjangkaunya. Selama ini kita masih berasumsi untuk memperlawankkan makna dari ilmiah dengan mitos. Orang yang telah melangkah maju berarti orang yang telah meninggalkkan mitos dan berada pada dunia ilmiah. Mitos meliputi arti hal-hal yang gaib, tidak bisa dinalar dan dicerap panca indra, termasuk Tuhan dan fenomena boneka hari-hari ini.

Padahal cara berpikir yang benar menyikapi hal tersebut bukan dengan saling memperlawankan. Melainkan bahwa hal tersebut adalah kondisi yang sifatnya hirarkis ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Tingkatan pertama, orang yang bergumul dengan hal-hal gaib tanpa mempertimbangkan keberadaan akal pikirannya, seperti contoh boneka ialah hirarki mitos. Tingkatan kedua, orang yang sibuk dengan mempertimbangkan segalanya lewat akal pikirannya. Ia telah lebih maju, karena kesadaran dirinya sebagai hewan yang bernalar telah didapatinya, seperti contoh semua kebijakan dan aktivitas kesehatan dalam menghalau dan menghentikan virus corona, berupa vaksinasi, jaga jarak, memakkai masker test swab dan sebagainya, ialah hirarki ilmiah.

Tingkatan ketiga atau puncak adalah masyarakat yang telah menggunakan akal pikirannya sampai batas yang ia miliki, lantas menemukan ketidakberdayaannya dihadapan semesta, sehingga ia mengembalikan dan berpasrah diri seluruhnya kepada Tuhan, hirarki iman. Pada tingkatan terakhir inilah sebenarnya masyarakat bisa dinilai maju, yaitu masyarakat beriman. Iman tidak bisa disamakan dengan mitos karena iman membutuhkan kesadaran dan akal sehat, sedangkan mitos tidak perlu akan hal itu.

Ajakan pemerintah kabupaten Jember, menurut saya menarik karena sebenarnya yang ia ajak adalah menuju masyarakat dalam tingkatan paling tinggi, yaitu masyarakkat beriman yang berakal sehat. Dengan memasrahkan kondisi yang kalut ini diterjang pandemi yang tidak ketahuan berakhirnya kepada Sang Maha Kuasa. Acara ini bukan sekedar ceremonial keagamaan saja, tetapi juga tanjakan hirarkis menuju masyarakat berketuhanan yang maha esa.

Untuk itu acara yang dilaksanakan di Pendopo Wahya Wibawa Graha Lantai 2 secara luring dan daring harusnya bukanlah yang pertama dan terakhir. Melainkan promotor dari acara-acara sejenis dalam tingkatannya yang mikro di desa-desa. Untuk itu hendaknya selaku Bupati, H.Hendy yang telah memberi contoh juga menghimbau untuk melakukan acara sejenis kepada kepala desa se-kabupaten Jember.   

Tegalwangi, 17-08-2021  

Post a Comment for "Dari Masyarakat Ilmiah Menuju Masyarakat Beriman"