Perempatan Mangli

 

perempatan mangli

Perempatan Mangli

Sekedar flashback terhadap beberapa kenangan beberapa tahun yang lalu, ketika menjadi mahasiswa di Iain Jember, sekarang Uin Khas, tentang perempatan Mangli. Sebuah tempat yang sering disebut, karena sebagai perempatan ia menghubungkan ke empat arah mata angin, dimana setiap mata angin menuju tidak ke satu tempat melainkan meneruskan ke tempat yang lain, semisal ada orang yang bertanya, “bagaimana kalau mau ke Jenggawah?”, jawabannya pasti begini, “kalau dari arah timur, belok kanan, kalau dari arah barat belok kiri, kalau dari arah utara terus saja, ke selatan nanti kalau sampai pertigaan Ajung terus saja jangan belok”.

Baca Juga: Perempatan Mangli jilid II

Jadi, jika perempatan Mangli dijadikan titik pusat menentukan tujuan, maka seperti itu kemungkinan percakapan yang terjadi untuk menunjuk kepada maksud yang dituju. Untuk perempatan Mangli sendiri, bagi mahasiswa Iain Jember mempunyai titik-titik kenangan pada masanya, sekalipun tidak semuanya mengalami, tetapi dapat dimugkinkan semuanya mengetahui. Mulai dari pojok tenggara ada bakso pojok mangli, menjadi kegemaran para pencinta kuliner daging yang diselep dicampur dengan kanji, dengan resep tertentu dihadirkan kepada pelanggan yang kebanyakan biasanya adalah perempuan.

Dari pojok barat daya, ada gorengan yang dijual oleh kakek dan nenek, dengan harga, menurut saya, terlalu mahal yaitu 700. Dua sejoli itu sengaja menjual dengan harga yang cukup mencekik leher orang yang memakannya karena setiap selesai mengunyak dan hendak menelan tiba-tiba teringat harga. Umumnya orang membeli berusaha untuk menggenapkan saja, semisal 5000 kalau 500 an akan menjadi 10. Kalau 700 berarti dengan uang 5000 hanya mendapatkan 7 gorengan dan kembali 100 rupiah, jelas tidak ada uang kembali, mau diminta hanya 100, akhirnya diikhlaskan saja. Penjual berani memasang harga segitu karena memang ukurannya besar-besar, para mahasiswa yang merasa kemahalan ternyata besok kembali lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

Dari pojok barat laut, dulu disana terdapat nasi goreng, playstation (PS-an), dan warung kupi plus Wifi yang dicakup dalam satu bangunan dipegang oleh seorang pemilik. Karena mempunyai beberapa alternatif menu, maka yang datang juga dengan berbagai niat sesuai dengan menu yang disediakan. Maen PS, ngopi, atau beli nasi goreng. Atau ketiga-tiganya, semisal niat awal main PS gak enak kalau gak ada kopinya, maka lanjut beli kopi, karena mainnya terlalu lama perut keroncongan akhirnya beli pula nasi goreng. Penjual sangat berbahagia, dengan satu atap tiga pulau terlampaui.

Dari pojok timur laut, yang menjadi kenangan tiada lain adalah warung nasi pecel dengan jam buka malam, sepanjang malam jelasnya. Orang yang hidup di Belanda, tidak akan menemukan ada warung nasi buka diperempatan jalan antara malam hingga subuh. Karena di Indonesia, orang dengan perut keroncongan akan menemukan jawaban. Tinggal pergi ke perempatan Mangli untuk memesan nasi pecel. Oleh karena itu selama 24 jam mangli tiada matinya, selalu hidup secara terus-terusan. Mantap pokoknya.

Bagi Mahasiswa yang kuliah di Uin Khas, mempunnyai plesetan tertentu terhadap sebutan mangli, yaitu Manglioboro. Megacu kepada satu tempat di Jojakarta yang disebut sebagai Mallioboro. Selain itu, saya pernah menemukan sebuah buku di perpustakaan yang ditulis oleh beberapa dosen Uin Khas kemudian diberi judul Mazhab Mangli. Menarik sekali, kalau di Jerman ada Mazhab Frankfurt maka di Jember juga punya Mazhab sendiri.

Perempatan Mangli juga menjadi panggung politik. Bagaimana tidak? Tempatnya sangat potensial. Dari empat penjuru arah mata angin terdapat lampu merah. Pengendara akan bergantian untuk  lalu-lalang, sehinngga mengharuskan berhenti sejenak beberapa detik. Sebagai ukuran waktu, menjadi cukup lama untuk sekedar melihat-lihat sekitar. Akan terpampang beberapa tokoh politik dengan banner yang cukup besar beberapa butir slogan yang bisa dibaca oleh siapapun, bahkan oleh mereka yang tidak bisa membaca sekalipun akan menunjuk bahwa “kampanye iki” dalam logat bahasa jawanya, “kampannye reh” logat bahasa madura.

Pada Pemilu tahun 2019, sebuah banner cukup besar dapat dilihat dari arah barat yang hendak menuju timur, seorang wanita muda, ketua partai, dengan warna yang terang dan mencolok. Mereka yang masih ingat pada tahun tersebut, pasti ingat siapa orangnya, ialah Grace Natalie, ketua DPP partai PSI. Seorang teman berkata “ini bukan foto sedang kampanye, tapi foto artis”, karena memang foto tersebut menjadi daya tarik perhatian bukan karena slogan ke-partai-an, melainkan lebih dominan menjadi artis. Sekalipun harapannya adalah artis politik, tetapi masyarakat lebih menganggapnya sebagai artis dalam makna aslinya.

Itu hanya salah satu saja masih banyak foto-foto artis politik yang lain, seperti Gus Romy, ketua DPP  PPP, selebihnya sepertinya kurang teringat. Dimana hampir seluruhnya dan pada umumnya membutuhkan potensi edit lewat photoshop yang banyak agar terlihat berbeda dengan aslinya dan menarik perhatian. Mungkin hanya satu artis politik yang dikira artis beneran yang tidak membutuhkan edit photoshop keterlaluan, yaitu Grace Natalie, karena memang parasnya sudah tidak bergantung pada jasa aplikasi edit foto itu.

Mungkin itulah serba dan serbi perempatan mangli, mulai dari kuliner sampai panggung politik, sebenarnya masih ada lagi dan banyak barangkali apabila dideskripsikan tidak ada habisnya sebagaimana perempatan Mangli yang tidak ada matinya.  

 

Tegalwangi, 20-08-2021

Post a Comment for "Perempatan Mangli"