Nenek Moyang Kita Pandai Bercerita

nenek moyang kita pandai bercerita

Nenek Moyang Kita Pandai Bercerita 

Di daerah Jember, tepatnya Gumukmas terdapat sebuah gunung yang diberi nama gunung Tembok. Sebenarnya tidak pantas mendapat julukan gunung karena memang ukurannya yang kecil. Tetapi telah menjadi sebutan secara turun temurun oleh warga sekitar, sehingga oleh anak turunannya disebut pula dengan nama yang mereka dapatkan dari orang-orang tua. Posisinya adalah perbatasan dengan kecamatan Umbulsari, oleh karenanya gunung tembok juga sangat akrab dengan masyarakat Umbulsari.

Lewat cerita tutur orang tua, konon katanya gunung tersebut adalah puncak dari Semeru. Pada zaman dahulu, karena kondisi daerah setempat tergenang air yang tidak henti-hentinya untuk surut, maka Anoman dengan kesaktiannya, ia curahkan untuk menendang dari puncak Semeru ke daerah Gumukmas, untuk menghalau datangnya banjir. Karena fungsinya menemboki, maka disebut gunung Tembok.

Entah cerita tersebut hanya sekedar milik perseorangan atau kah telah menjadi warisan keseluruhan orang yang diceritakan dari orang-orang tua ke para anak-anak. Tidak pernah terjadi pembahasan serius, karena memang tidak begitu penting benar atau tidaknya, fakta atau hanya sekedar rekaan belaka.

Iya benar Anoman, sebagaimana cerita orang-orang tua kepada anaknya. Monyet putih dengan kesaktian luar biasa dalam epos Ramayana yang mana cerita aslinya berasal dari India. Ia membantu Sri Rama untuk mendapatkan kembali kekasihnya Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Dimana peperangan tersebut sesungguhnya tidak menandai adanya perebutan hati, melainkan pertarungan antara benar dan jahat. Kemenangan Rama dan bala tentaranya menjadi simbol bahwa sekali lagi dan berkali-kali selanjutnya, kebenaran masih layak hidup di bumi ini.

Tidak aneh apabila cerita tersebut beredar di kalangan orang Jawa, karena memang antara Jawa dan India mempunyai kedekatan secara kultural yang bisa dilacak secara historis. Bahkan ada cerita, kalau dulu ketika peristiwa perang Bharatayuda, antara anak-anak Pandu dan Destrarastra, yaitu Pandawa dan Kurawa telah menggunakan uranium yang diikatkan di panah, tombak dan segala jenis senjata, dimana pada masa sekarang unsur tersebut digunakan dalam industri nuklir, sehingga perang terjadi begitu dahsyat.

Ledakan demi ledakan langsung saja membumihanguskan medan peperangan. Mengingat di Indonesia terdapat uranium yang sangat melimpah, maka lokasi perang tersebut mempunyai kemungkinan di Nusantara. Lagi-lagi dalam hal ini jangan bertanya benar salahnya. Bisa iya juga bisa tidak. Karena dahsyatnya perang dapat dimungkinkan dengan kecanggihan yang dikontekskan zaman sekarang adalah dengan menggunakan nuklir, maka kesaktian para prajurit dan komandan-komandannya adalah tafsir dari nuklir itu sendiri, yang mana bahannya didapatkan dari Indonesia, maka perang juga terjadi disini. Untuk sebuah spekulasi ini memang keterlaluan.

Sama halnya pula dengan cerita yang mengatakan bahwa material pembuatan kapal Nabi Nuh adalah kayu jati. Asumsi ini diutarakan untuk menyatakan bahwa dulu kapal itu dibuat di Indonesia. Karena tidak ada bukti yang bisa membenarkan, maka kita tidak bisa membenarkan. Begitu juga dengan sebaliknya, karena tidak ada bukti yang bisa menyalahkan maka kita tidak bisa juga menyalahkan. Hanya bisa untuk mendengarkan saja dan mengambil manfaatnya.

Cerita-cerita tersebut dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu, seolah ada kedekatan antara kebudayaan hari ini dengan kemegahan masa lalu. Ini semua jelas menunjukkan kreativitas dan bakat luar biasa dari nenek moyang atau pendahulu kita dalam bertutur mengisahkan sesuatu yang terjadi di masa lalu dengan begitu rapi, hingga sampai seakan-akan adalah kenyataan. 

Seperti pula cerita Ramayana dan Mahabharata yang menjadi kegemaran dan tidak ada bosan-bosannya dalam pertunjukan wayang kulit. Dengan skenario tambahan yang dirubah dari aslinya oleh beberapa da’i penyebar islam, semisal Sunan Kalijaga, maka mempunyai cerita tersendiri dengan memasukkan aktor baru, yang disebut sebagai punakawan, Semar, Petruk, Bagong dan Gareng. Dengan beberapa lakon yang turut menghibur dan diambil hikmahnya, seperti Dewaruci atau cerita Wisanggeni yang mengamuk habis-habisan di kahyangan.

Orang tua kita juga pernah cerita pastinya, bahwa kalau siang anak-anak dilarang keluar rumah, karena ada bethoro kolo. Sesuatu yang menimbulkan penyakit, kesusahan bisa berupa hewan atau kondisi apes, sehingga agar tidur saja dan menunda bermain diluar.

Seluruh cerita yang sering kita dengar dari orang-orang tua, manakala kita telah tumbuh besar maka barulah sadar bahwa sebenarnya cerita tersebut lebih didominasi untuk dapat dipetik pelajarannya daripada dicari kebenarannya akan suatu fakta. Untuk itu kebenaran faktual dalam sebuah kisah ternyata tidak lebih penting daripada fiktif yang menjadikan kita mempunyai kebenaran dalam menjalankan kehidupan. Serta memperdebatkan sebuah kebenaran untuk mencari kebenaran yang memang sejati sebagai fakta nyata ternyata tidak begitu berguna pula, karena yang penting adalah bagaimana sesuatu dapat mengantarkan kepada kondisi yang lebih benar sekalipun dengan mengorbankan kebenaran lain yang lebih rendah.

Tegalwangi, 23-08-2021  

Post a Comment for "Nenek Moyang Kita Pandai Bercerita "