Manusia Fiksi

 

manusia fiksi

Manusia Fiksi

Kata tersebut bukan sesuatu yang baru. Ia telah berusia lanjut. Banyak kali disebut oleh hampir semua orang. Kata tersebut dibina oleh para sastrawan. Menghasilkan makna-makna yang tersusun dan tersajikan kepada khalayak ramai. Dinikmati dalam bentuknya seperti puisi, cerpen dan novel.

Tetapi kata tersebut tidak mengalami kehebohan dan mengundang gerakan masa, sampai kemudian Rocky Gerung mengucapkannya dalam susunan argumen dengan kaidah sylogisme yang sekitar seperti ini, “kalau saya pakai definisi fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi”. Pernyataan tersebut diucapkannya dalam sautu acara di TV One, ILC yang bertemakan “Jokowi Prabowo berbalas pantun”.

Suasananya sangat politis, posisi Rocky juga beraroma politik. Sekalipun ia bukan orang partai, tetapi pendapatnya selalu memojokkan beberapa kepentingan partai. Pernyataan itu menghasilkan kecaman bahwa ia telah menistakan agama.

Seluruhnya sebenarnya berasal dari kesimpulan sylogisme itu. Dalam ilmu logika sistematika sejenis itu dapat diambil kesimpulan setelah terselesaikannya dua pola. Pertama, antaseden diafirmasi oleh consequent, atau kedua, consequent diingkari. Benarnya dimana dalam menggunakan kaidah. Terlebih dahulu apa sebenarnya fiksi itu? Agar tidak terjerumus dalam alur pikiran yang sesat.

Fiksi berbeda dengan fiktif. Ketika kita membaca cerpen tentang demonstrasi yang sebenarnya demonstrasi itu tidak ada dalam realita, maka cerita pendek itu sebenarnya adalah rekaan belaka atau fiktif. Apabila demonstrasi itu ternyata adalah benar-benar ada maka bukanlah menjadi fiktif lagi karena memang nyata.

Antara yang rekaan belaka dengan yang realita. Keduanya mempunyai kesamaan dari segi bekasnya dalam pikiran seseorang, yaitu imajinasi. Rocky memberikan definisi yang benar mengenai fiksi, sesuai dengan definisi yang ada di kamus. Dengan begitu sesuatu kejadian yang telah ditulis akan mempunyai potensi untuk membangkitkan imajinasi, itulah fiksi.

Cerpen sendiri digolongkan dalam karya sastra fiksi. Ketika penulis hendak menceritakan tentang kisah yang benar-benar terjadi atau nyata. Tidak bisa dipungkiri penulis akan tetap terpleset kedalam caranya untuk bercerita. Maka cerpen itu sekalipun diangkat dari kisah nyata maka disebut pula fiksi.

Fiksi dalam kaitannya dengan imajinasi, selamanya dan segala kenyataan ketika telah menjadi tulisan bahkan berita sekalipun dengan tanggal, waktu kejadian dan tempat memang benar ada. Tetap saja pembaca akan terpancing imajinasinya untuk bangkit. Hanya saja tiap orang akan mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, ada yang liar dan ada yang jinak.

Begitu pula dengan kitab suci, pembacanya akan mempunyai imajinasi dari yang ia baca. Jika begitu Rocky Gerung tidak menistakan agama. Sebab antaseden terafirmasi, kaidah ini dalam sylogisme disebut sebagai phonen.

Imajinasi itu dapat dimungkinkan kehadirannya manakala pembaca mampu memahami. Apabila nol sama sekali, tidak ada pemahaman pun yang masuk, maka tidak ada imajinasi, maka tidak bisa disebut sebagai fiksi. Jika begitu, consequent diingkari, dengan demikian antaseden tidak diafirmasi, tidak mengakktifkan imajinasi, maka kitab suci itu bukan fiksi bagi mereka yang tidak bisa memahami isi kandungannya.

Oleh karena itu fiksi sebenarnya bukan ada pada objek yang diakses, melainkan pada subjek, yaitu manusianya. Sah-sah saja apabila dengan begitu manusia disebut sebagai manusia fiksi ditinjau dari kemampuannya untuk mempunyai imajinasi. Sayangnya tidak seluruh objek dari pengetahuan yang mana manusia bisa menciptakan imajinasi.

Seorang petani akan berimajinasi ketika melihat hamparan tanah. Seorang tukang akan berimajinasi ketika melihat alat pertukangan. Seorang negarawan akan berimajinasi ketika melihat bangsanya. Seorang politisi akan berimajinasi ketika melihat peluang keuntungan. Masing-masing orang akan berimajinasi sesuai keahliannya sendiri-sendiri.

Fiksi sangat penting karena ia menghadirkan imajinasi. Tetapi akan dianggap berbahaya apabila dimiliki oleh kaum jelata. Semakin lincah dan liar kemampuan fiksi yang dimiliki akan membahayakan penguasa. Bagaimana tidak? Fiksi mencirikan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan sendiri akan menayangkan perlawanan. berbeda dengan orang yang bodoh, tidak mempunyai fiksi yang baik, ia akan menjadi penurut dalam segal hal dan bidang.

Secara tidak langsung mereka yang menginginkan keabadian akan kekuasaannya, mengharapkan rakyat tidak tahu apa-apa. Sedikit pengetahuannya akan memantik pertanyaan, sebagai awal mula dari pemberontakan.

Dengan begitu ciri dari orang yang maju adalah ia yang hadir sebagai manusia fiksi bukan sebagai fisik saja.    

 

Tegalwangi, 04-08-2021  

Post a Comment for "Manusia Fiksi"