Refleksi 17 Agustus ke 76
Seperti yang
telah kita ketahui cerita dalam film Sang Kiai, tokoh yang bernama Harun santri
KH Hasyim Asy'ari yang berhasil membunuh Jendral Mallaby berakhir dengan
memperoleh derajat yg tinggi sebagai salah satu diantara syuhada' negara ini.
Ia meninggalkan istrinya sebagai janda dan anaknya kelak yg dalam kandungan
sebagai yatim.
Sebagai
tontonan film tersebut telah berlalu lama mengingat tahun rilis, yaitu tahun
2013 tetapi sebagai tuntunan akan senantiasa update begitu juga halnya
sebagai titian untuk mencapai pemahaman nilai perjuangan, pengorbanan,
kesetiaan, keberanian dan kegigihan. Maka akan terus menjadi stimulus perjuangan
menuju Indonesia yang merdeka dalam bentuknya yang sejati.
Tidak sejengkal
pun dari tanah air kita ini yang tidak dibasuh oleh darah syuhada', berapa
jumlah istri yang menjanda dan anak yg tidak lagi ditegur sapa oleh bapaknya,
karena telah menjadi pahlawan. Mereka yang menjadi martir tidak akan berakhir
sia-sia, sekalipun makamnya tidak pernah ditemukan, namanya banyak yang tidak
diketahui, tetapi perjuangannya tidak akan pernah pupus dalm ingatan. Oleh
karena itu namanya pun akan terukir dalam batu nisan yang tertancap di hati
setiap warga Indonesia.
Sebagai
generasi pewaris yg telah mendapatkan hadiah berupa kemerdekaan hanya bisa
merapalkan 7 ayat dari surat Al-fatihah dari sisi dunia fana ini sebagai kado
bagi mereka yg telah pulang. Mereka pulang bukan pergi. Mereka tidak pernah
meninggalkan indonesianya, tetapi mereka telah menyatu dengan tanah dan air
yang telah diperjuangkan. Jadi sebenarnya mereka tidak kemana-mana, mereka
masih berada disini tetapi dalam suatu dimensi yang lain dari perjalannan
seorang makhluk.
Tidak
selayaknya tanah dan air yg telah dibasuh oleh darah syuhada' hari ini kita
basuh dengan air mata. Sangat tidak layak apabila hari ini, kita lebih banyak
berkeluh-kesah diatas bumi yang telah mereka suburkan dengan darah
perjuangannya. Dengan segala keberanian dan kerelaan untuk menuju Indonesia
merdeka, mereka telah merenggut kemerdekaannya sendiri untuk diganti dengan
kemerdekaan anak-cucu.
Berakhirnya
perang dan agresi militer, bukan berarti kemerdekaan telah dicapai secara utuh.
Melainkan pintu gerbang kemerdekaan telah dibuka dan segala isinya adalah milik
kita bersama. Menjadi suatu pilihan atau opsi apakah setelah melintas di pintu
kemerdekaan tersebut, kita akan menjadikan masa-masa merdeka ini menjadi
penjajahan baru atau benar-benar merdeka. 17 agustus yang dirayakan setiap
tahun apakah hanya sekedar ceremonial belaka?. Itulah kiranya tugas-tugas
kemerdekaan masih, sedang dan akan senantiasa berlangsung. Tidak ada kata
merdeka final, karena setiap kali kata merdeka diucapkan maka akan ada potensi
untuk menjajah kembali dari mereka yang menganggap dirinya merdeka.
Mendapatkan
pengecualian, manakala kemerdekaan hadir dalam bentuk rasa kemerdekaan bersama.
Siapapun tidak akan mengganggu kemerdekaan yang lain karena diatas tanah yang
merdeka segala jenis belenggu telah dibebaskan. Semua dapat menikmati
kebebasannya sesuai dengan kapasitas dirinya, tidak dengan kapasitas orang
lain. Begitu juga, tidak ada pemaksaan seseorang untuk menggunakan kapasitas
khalayak pada umumnya. Orang-orang harus merdeka bersama dirinya sendiri. Oleh
karena itu, sebagaimana ucap Albert Camus bahwa,”kebebasan itu bukan hadiah
dari negara, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari oleh setiap
orang”. Dengan demikian kemerdekaan bukan lagi kata benda melainkan kata kerja
yang sedang dan akan dan terus diperjuangkan sampai kapanpun. Karena penjajahan
hanyalah sekedar simbolisme yang paling konkrit saja dari bentuk suatu
belenggu.
Tegalwangi, 22-08-2021
merdeka
ReplyDelete