Perempatan Mangli
Jilid II
Dalam sebuah acara pelatihan
jurnalistik, seorang pemateri sedang menjelaskan persoalan penulisan berita.
Untuk membuat sebuah contoh, ia mengambil objek kondisi politik kekinian,
ketika ruang publik diisi dengan baliho-baliho artis politik atau dramawan politik
dengan berbagai slogan. Baliho telah disebar disegala penjuru yang ramai
dikunjungi khalayak, salah satu tempat yang disebutkan oleh pemateri tersebut
adalah perempatan Mangli. Ia sengaja mengambil contoh salah satu perempatan yang
ada dikota Jember dengan pertimbangan bahwa memang tempat tersebut sangat
potensial untuk dilihat oleh massa dari berbagai kalangan.
Karena potensial, tanpa harus
melihat dengan mengunjungi perempatan Mangli, peserta pelatihan akan langsung
saja percaya. Bahwa di Mangli ada berbagai baliho dengan beragam warna dan
slogannya. Anehnya, tidak ada satupun baliho yang berdiri di perempatan
tersebut. Berarti si pemateri sekedar bicara saja tanpa mempertimbangkan ada
dan tidaknya. Sekalipun seperti itu, mempercayai pernyataannya merupakan
tindakan yang rasional, karena mengingat tempat yang strategis, menjadi sangat
mungkin untuk disinggahi baliho politik. Yang tidak rasional adalah tidak
adanya baliho ditempat yang strategis seperti itu. Untuk hal ini tidak akan
berkaitan dengan pemateri dan peserta seminar pastinya, melainkan para pegawai
partai itulah, kenapa tidak memasang disana, yang ada hanya baliho promosi
produk Siladex, bisa dilihat dari arah barat.
Perempatan Mangli tidak perlu
diragukan lagi potensinya sebagai tempat yang mendapat kunjungan massa yang
banyak dengan berbagai tujuan, profesi, dan hal-hal yang penting sampai tidak
penting sekalipun. Dari waktu ke waktu telah diketahui banyak orang dengan
mempertimbangkan kunjungan massa yang banyak, maka menjadi tempat untuk
mengenalkan produk yang bersifat konsumtif maupun tegur sapa saja dari petinggi
partai.
Oleh karena itu dari berbagai
kalangan perempatan Mangli akan sering disebut untuk membicarakan persoalan
politik, sebagaimana halnya pemateri seminar tersebut. Terdapat beragam
tanggapan, antara ini dan itu, setuju, menolak, sependapat, mengkritisi dan
sebagainya. Tetapi pada umumnya dalam tema politik, entah pada saat musim
kampanye atau tidak, khalayak ketika memandang tema tersebut paling banyak dari
mereka yang sadar politik akan menanggapi secara nyinyir.
Tidak perlu dinyinyiri mereka
yang nyinyir kepada bab-bab politik, karena memang beralasan. Salah satunya
adalah karena segala terobosan, solusi, temuan kebijakan yang memang memberikan
kontribusi kepada rakyat merupakan kewajiban dari pemangku-pemangku jabatan.
Karena menjadi kewajiban maka tidaklah perlu mendapat apresiasi. Sebagaimana
halnya dengan seorang siswa yang berkewajiban untuk mengerjakan PR, ketika ia
menyelesaikan maka tidak perlu disebut rajin, karena memang tugasnya begitu.
Tetapi pemahaman tentang rajin
menjadi kacau ketika si rajin dibandingkan dengan si malas yang tidak
mengerjakan PR. Anak yang malas tidak bisa disebut dalam kategori tersebut
karena memang PR masuk dalam kategori kewajiban. Bahkan anak yang rajin juga
tidak pantas disebut rajin karena PR menjadi keharusan yang tidak bisa
ditinggalkan. Sama halnya dengan kewajiban sholat lima waktu, orang yang sholat
selama lima waktu tidak pernah bolong, jangan disebut rajin karena memang itu
adalah kewajiban.
Begitu juga dengan para pemangku
kebijakan yang menduduki jabatan politis, mereka tidak perlu mendapat apresiasi
dan sanjungan ketika melakukan kebijakan yang menguntungkan hajat hidup orang
banyak. Karena memang tugasnya mengharuskan seperti itu. Tidak ada sanjungan
dan apresiasi untuk kategori kewajiban. Tetapi ketika ia melakukan kesalahan,
ambil contoh yang sering ditayangkan oleh media, yaitu korupsi, atau juga bisa
dengan tidak disiplin, melaksanakan tugas dengan tidak becus. Maka sebenarnya
ia tidak melakukan satu kesalahan, hanya korupsi semata, melainkan dua
kesalahan, pertama korupsinya itu dan kedua membuang-buang waktu tidak
melakukan tugas-tugasnya karena diganti dengan tindakan korupsinya.
Jadi nyinyir adalah hal yang
wajar, sekalipun begitu keinginan untuk berkuasa juga hal yang wajar pula
secara kodrat kemanusiaan. Seperti dalam pandangan Plato, bahwa jiwa manusia
terbagi menjadi 4 bagian, logistikon, ephitumia, thumos dan eros. Yang disebut
terakhir selalu menyertai dari bagian jiwa yang tiga sebelumnya. Untuk memberikan
kemudahan dalam memahami, dapat di analogikan dengan bagian tubuh manusia. Ephitumia
disimbolkan dengan bagian perut ke bawah, bersifat sebagai jiwa yang rendah
karena berkeinginan untuk memenuhi kebutuhan makan, minum dan nafsu. Thumos disimbolkan
dengan perut sampai leher, bersifat sebagai jiwa yang hendak memenuhi harga
diri, eksistensi dan kehormatan. Sedangkan untuk logostikon disimbolkan dengan
leher sampai kepala, jiwa manusia yang bersifat rasional. Ia yang mengerti mana
baik dan buruk dan bagaimana untuk mencapai kebijaksanaan.
Selain itu juga diumpamakan
dengan kereta kuda, dimana ephitumia adalah kuda hitam, thumos adalah kuda
putih dan logostikon adalah saisnya yang mengendalikan laju kuda tersebut. Sedangkan
eros adalah berwujud sayapnya. Dua dari bagian jiwa, yaitu ephitumia dan thumos
tidak lah kekal sedangkan yang kekal adalah logostikon. Hasrat untuk berkuasa
ada pada thumos, jadi selama manusia masih hidup maka secara alamiah ia akan
mempunyai kehendak akan berkuasa. Baliho adalah perwujudan dari hasrat
tersebut. Ini merupakan suatu yang waras dan biasa-biasa saja. Sebab nantinya
keinginan tersebut juga akan memudar dengan sendirinya manakala ajal merenggut,
maka pudar pula dua sifat jiwa yang ada pada manusia.
Perempatan Mangli dan tempat-tempat lainnya adalah panggung perkelahian wacana. Masyarakat adalah juri kemenangannya, siapa yang ada di hati rakyat maka dia pemenangnya, bukan dia yang pasang baliho di jalan-jalan. Sebenarnya sesederhana itu. Tetapi yang harus dipastikan adalah bahwa seorang yang menawarkan diri untuk mengatur kebijakan dengan mempromosikan diri sebagai yang layak memangku jabatan, rakyat harus sadar betul bahwa orang tersebut adalah mereka yang di atur oleh leher ke atas (logostikon), bukan mereka yang di atur oleh leher sampai perut (thumos), apalagi jangan sampai diatur oleh perut kebawah (ephitumia) dalam mengelola kebijakan publik yang menyangkut maslahat hidup orang banyak.
Tegalwangi, 21-08-2021
Post a Comment for "Perempatan Mangli Jilid II"