Bisma Harusnya Memilih Kebaikan Bukan Negara

 

bisma yang agung

Bisma Harusnya Memilih Kebaikan Bukan Negara

Tidak logis apabila mengatakan bahwa manusia membutuhkan oksigen, air dan makanan untuk hidup. Karena hewan pun juga demikian. Maka apa yang menjadi pembeda antara makhluk yang disebut hewan dengan makhluk yang dsebut manusia. Daya berfikir yang dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh hewan merupakan persyaratan administratif saja sebagai pembeda status sosial, bukan suatu yang signifikan. Sama halnya dengan mobil plat merah dengan yang tidak, masalahnya sampai ke lokasi tidak. Jika hewan karena tidak berakal otomatis tidak berbelit-belit sehingga ia bisa ilaihi roji’un. Tetapi manusia bagaimana kelanjutannya?

Memang benar jikalau mengatakan manusia lebih unggul daripada tumbuhan dan tanaman, karena akal yang mampu membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek. Tetapi terkadang terjerumus kepada suatu ketegori dalam situasi yang memaksanya untuk memilih bukan antara satu dari dua, semisal antara baik dan buruk, melainkan antara ketiga nilai tersebut. Mana sekiranya yang paling lebih didahulukan serta pergeseran nilainya dalam arti sudah saatnya nilai yang lain masuk dan lainnya mundur itu kapan.

Lagi-lagi manusia disamping menguasai daya logis, hukum atau kaidah yang mengatur tentang cara berfikir yang benar, daya etis, narasi-narasi baik-buruk yang diambil dengan menggunakan referensi dari agama, adat-budaya lokal dan nasional, daya estetis, kaidah untuk menggapai keindahan. Maka manusia mesti menguasai nalar sejarah sebagai suatu kehidupan yang tidak pasti. Sehingga penempatan dari ketiga nilai tersebut bisa berhasil dan tidak menimbulkan chaos baru. Sebaga akibat dari perebutan kebenaran untuk melegitimasi keinginan pribadi.

Lain daripada itu, sebagai manusia kita harus sadar dari ketiga nilai yang harus disemai kapanpun tanpa menunggu musim, bukan sesuatu yang permanen. Harus berganti shift dalam beberapa waktu kemudian. Apabila memaksanya untuk terus bertahan, maka nilai bisa berpotensi untuk berlaku diktator. Harus ada periodeisasi, seperti halnya kepala daerah, jika tidak ia akan berlaku sewenang-wenang. Manusia lah yang bertanggung jawab untuk itu semua, memasang sekaligus mencopot nilai mana yang seharusnya berlangsung, sekalipun harus dengan mengorbankan nilai lain.

Dalam cerita Mahabharata, dikenal seorang tokoh dengan kemampuan ilmu pemerintahan yang mumpuni, kanuragan yang disegani oleh seluruh ksatria bangsa Arya, serta ilmu tentang kearifan. Ia adalah Dewabrata putra dari Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga, kemudian namanya lebih dikenal sebagai Bisma yang agung. Gelar tersebut didapatkan setelah sumpahnya diucapkan. Bahwa ia tidak akan menikah dan untuk selamanya membujang sebagai pengabdi kebenaran di kerajaan Astinapura.

Sumpah untuk tidak menikah diucapkan lantaran ia mengetahui bahwa ayahnya mencintai seorang wanita, anak seorang nelayan, namanya Satyawati. Ia menolak Sentanu, dikarenakan seandainya ia memiliki anak, kelak tidak akan mewarisi tahta kerajaan sebab terhalang oleh adanya putra Sentanu dengan Dewi Gangga, yaitu Bisma Dewabrata dan keturunannya. Bersumpah untuk tidak menerima tahta kerajaan bahkan bagi keturunannya merupakan tindakan yang luhur. Ia rela tidak menerima sesuatu yang semestinya menjadi haknya. Memberikan jalan yang terang agar cinta sang ayah bisa terbit dihati Satyawati. Pengorbanan yang luar biasa serta menghindarkan perang saudara antara keturunan dari Dewi Gangga dan Satyawati.

Kekuasaan Astinapura silih berganti mulai dari Citragada, Wictrawirya, Pandu dan Destrarastra. Bisma hanya menjadi penasehat kerajaan dan pendidik para raja tersebut. Dari para raja tidak seluruhnya adalah orang yang kuat perihal kepemimpinannya, sedangkan kerajaan sangatlah tergantung di tangan para raja. Bisma yang terikat dengan sumpahnya lantas membiarkan semua terjadi. Toh, ia bukan seorang raja yang mempunyai keputusan tertinggi tetap kalah dengan orang yang menjadi raja.

Keterikatan dengan sumpah menjadikannya untuk membiarkan nilai yang semestinya sudah bergeser dibiarkannya begitu saja. Ia tetap memegang kesetiaan sumpahnya. Bahkan ketika perang di padang Kurusetra, sekalipun menyadari kebenaran berada di pihak Pandawa serta berharap mereka lah yang nantinya akan menang mengalahkan Kurawa. Ia tetap berpegang teguh bertahan dengan sumpahnya, untuk membela Astinapura. Dasar yang dijadikan pegangan oleh Bisma jelasnya tidak sesederhana slogan “benar atau salah adalah negaraku”. Tetapi lebih kepada jalan sebagai seorang ksatria dimana ucapannya dapat dipegang sekalipun pahit.

Nilai kebenaran dan kebaikan yang dijalankan oleh Bisma sebenarnya sudah terlarut dalam pusaran sejarah. Jika dulunya ia mengambil sikap bijak untuk tidak menerima tahta agar terhindar dari perang saudara, di kemudian hari ia membiarkan tahta di pegang oleh orang lemah. Sehingga puncaknya adalah perang saudara pula. Seandainya Bisma bersikap lain, tidak sekedar mengambil kebaikan dengan kesetiaan akan sumpahnya, sekalipun melanggar berarti ia telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri. Tetapi hal itu lah yang akan menyelamatkan kebaikan di masyarakat Astina dan setidaknya pindah haluan untuk membela Pandawa, maka korban perang tidak sebanyak yang terjadi.

Bisma sangat disayangkan kurang memprioritaskan nilai yang harus diperjuangkan dan mengesampingkan nilai yang bukan utama dalam suatu keadaan. Memang posisinya cukup sulit, meski bagaimanapun juga harus dilewati. Sadar kapan menggunakan nilai kebaikan, keindahan dan kebenaran. Tidak sekedar membandingkan oposisinya dan memilih salah satunya, baik atau buruk, benar atau salah dan buruk atau indah saja.      

Tegalwangi, 29-12-2020

Post a Comment for "Bisma Harusnya Memilih Kebaikan Bukan Negara"