Pram, Karya dan Keberanian


Pram, Karya dan Keberanian

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” begitu ungkap Pramoedya Ananta Toer. Sudah sekian  negara yang telah menerjemahkan tulisannya ke berbagai bahasa. Ia menggambarkan ide-ide tentang keluhuran moral, keberanian, kesetaraan dan keadilan lewat tokoh-tokoh yang ia karang. Namanya menjadi icon bagi mahasiswa yang ingin dianggap keren. Soalnya apabila ada mahasiswa yang tidak tahu-menahu bahkan di semester tuanya tidak kenal nama besar beliau, maka bisa dikatakan ia termasuk golongan dari para mahasiswa culun tidak begitu berinteraksi dengan dunia sosial kampus karena pekerjaannya bisa dianggap hanya mengurusi hidupnya sendiri.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu dari sekian banyak penulis terkenal. Dimana tulisan-tulisannya diambil sepotong-sepotong digunakan sebagai nasihat-nasihat dalam bentuk kata bijak, quote. Sekalipun raganya telah meninggalkan dunia, tetapi keabadiannya tetap terpatri dalam jiwa-jiwa para pembaca karyanya. Lebih dari itu pembacanya menunjukkan adanya golongan tertentu, karena tidak semua orang, lebih-lebih dikalangan mahasiswa akan meminati karyanya.

Sebegitu berpengaruh sosok Prmaoedya Ananta Toer lewat tulisan-tulisannya. Seandainya dulu ia memutuskan untuk tidak terjun kedunia kepenulisan barangkali hari ini namnya sudah  menjadi abu sejarah, ludes diporak-porandakan angin. Tulisan-tulisan Pram merupakan bentuk lain dari keberanian, bukan sekedar tokoh-tokoh yang ia karang mempunyai pengaruh kepada pembaca untuk merasa kuat dalam berbuat setelah membaca, seolah terdapat sihir kedigdayaan yang merubah dari lesu menjadi kuat. Tidak hanya itu, tulisan Pram adalah bentuk dari keberanian itu sendiri.

Menulis adalah, sebagaimana Pram dan penulis-penulis lainnya, keberanian untuk mengungkapkan sisi lain dari diri sendiri, sekalipun seorang penulis mencoba untuk menyembunyikan suatu sisi dan menggantinya dengan sisi yang lain. Hal tersebut adalah wujud dari dirinya sendiri. Ketika seorang menulis tentang sebuah keramaian kota, itu artinya ia sedang menulis ramainya kota-kota yang ada dalam dirinya. Bisa jadi ia gambarkan dengan cara kesepian sekalipun dalam keramaian, itu tergantung dari akumulasi beberapa dimensi dan asumsi dalam dirinya sendiri yang kemudian dikeluarkan lewat bahasa.

Oleh karena itu menulis bukan berasal dari kecemerlangan pikiran, kelincahan menggunakan bahasa, kekayaan akan data yang berasal dari beragam pengalaman, tetapi seorang penulis adalah seorang pemberani. Belajar menulis artinya belajar menjadi berani baru kemudian modal yang harus dimiliki adalah kecemerlangan. Pramoedya adalah contoh dari pemberani.

Keberanian itu terkadang diwujudkan dalam menggunakan imajinasi. Bagaimana seorang mengolah himpunan-himpunan persepsi untuk kemudian mencoba menerka suatu kejadian yang akan terjadi dimasa depan atau hal-hal apa saja yang akan terjadi. Jelasnya ia akan dipenuhi rasa curiga terhadap pengetahuan yang dimiliki apakah benar atau salah. Apabila benar apakah dari persepsinya dapat dibenarkan jika dipergunakan sedemikian rupa. Menyoal masa depan kiranya masa sekarang tidak dapat dijadikan sebenar-benarnya hakim yang memutuskan apa yang akan terjadi, oleh karena itu siapapun mempunyai kesempatan yang sama setelah mempunyai modal untuk berimajinasi.

Keberanian diwujudkan pula dalam bentuk keyakinan dirinya terhadap suatu data. Sebab tidak jarang seseorang akan merasa data yang dimilikinya salah untuk melihat suatu permasalahan. Hal tersebut terjadi dikarenakan caranya mengambil data dengan suatu sudut pandang. Sebenarnya data yang didapat akurasinya dapat dipertanggung jawabkan dengan sudut pandang apapun dalam menilai. Karena sewaktu menggunakan suatu sudut pandang adalah bentuk lain dari suatu cara dalam  melihat. Kebenaran akan tampak meskipun dengan cara apapun melihat, hanya saja penampakannya dengan ukuran dan wajah yang berbeda.

Oleh karena itu para penulis adalah mereka yang hidupnya lebih banyak mempunyai keberanian daripada dibayang-bayangi oleh ketakutan dan keraguan. Nama Pramoedya Ananta Toer, sampai hari ini dikenal dan sampai hari-hari berikutnya akan tetap dikenal karena karya-karyanya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arus Balik, Arok Dedes, Gadis Pantai, Mangir dan sebagainya adalah perwujudan sifat keberanian yang ada pada dirinya sebagai sebuah bentuk tulisan. Sebagaimana rasa manis dan asin mewujud kedalam gula dan garam. Kita mengenal asin dan manis karena ada wujud gula dan garam, jika tidak ada maka selamanya kita tidak akan dikenal.

Begitu juga dengan Pram, ia tidak akan luntur dalam goresan pena sejarah, namanya akan tetap berdiri di rak-rak buku dan ingatan anak semua bangsa yang telah mmenerjemahkan dan membaca karyanya terkhusus semua anak bangsa Indonesia yang hidup dibumi manusia ini.    

Tegalwangi, 03-12-2020

Post a Comment for "Pram, Karya dan Keberanian"