Rasionalisasi Kutukan Dalam Cerita Mahabharata

 


Rasionalisasi Kutukan Dalam Cerita Mahabharata 

            Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak jarang ditemukan perkataan selalu berdiri sendiri tanpa didampingi dengan perbuatan. Seolah perkataan saja tidak dapat diartikan sebagai suatu yang berarti hanya seperti angin lalu, tidak dapat dijadikan patokan hukum, legal formal, sehingga apabila seseorang berucap adalah sekedar cuap-cuap tanpa ikatan apapun terhadap dirinya. Padahal seseorang pertama kali dilihat adalah dari bicaranya, tidak hanya melihat pada kualitas dari isinya melainkan juga pada menyatunya dengan perbuatan. Dalam Islam orang yang berkata dusta, mengingkari janji, bila dipercaya lantas berkhianat maka disebut sebagai seorang munafik. Dalam budaya Jawa dewasa ini, apabila seorang telah berucap kemudian tidak melaksanakan apa yang telah dilontarkan lantaran pahitnya kenyataan yang dihadapi, tidak berprinsip, maka ia tidak bisa disebut sebagai ksatria. Secara kpribadian tipikal orang semacam itu adalah rapuh. Di masyarakat tidaklah mendapatkan penghargaan sebagai manusia melainkan kutu loncat. Parasit yang berpindah-pindah ke tempat yang hanya dapat memuaskan nafsunya belaka.

            Ksatria sebenarnya adalah kasta dalam kebudayaan hindu yang menempati tingkat kedua dibawah brahmana. Mempunyai tempat spesial untuk mendapatkan akses, mulai dari kehormatan, pengetahuan, kekayaan. Tetapi disamping itu juga mempunyai tanggung jawab untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang ada dimayarakat. Seorang ksatria demi mengemban kewajibannya maka haruslah memiliki sifat keutamaan. Salah satunya adalah kesetiaan, tidak hanya kepada masyarakat dan tahtanya saja tetapi juga kepada dirinya sendiri. Manakala berbicara dalam kondisi sesulit apapun realitas yang dihadapi, maka seorang ksatria haruslah melaksanakan apa yang telah dikatakan.

            Salah satu cerita populer dimasyarakat, dimana ucapan selalu dijunjung tinggi, adalah cerita tentang Mahabharata. Para tokoh-tokohnya adalah mereka yang senantiasa suka mengucapkan sumpah dan kutukan. Pada era itu sebuah perkataan tidak kalah saktinya dengan ilmu kanuragan. Seperti sumpah Drupadi untuk bermandikan darah Dursasana yang telah mempermalukannya, sebagai taruhan bermain dadu, dengan melucuti pakaiannya, begitu pula Bisma Dewabrata yang bersumpah untuk selamanya akan membujang. Mengenai kutukan, ada beberapa peristiwa, dimana tulisan ini akan lebih memberikan tekanannya pada persoalan perkataan dalam bentuk kutukan.                

Pertama, kutukan kepada Raja Angga Karna, ia sebenarnya adalah kakak tertua dari ketiga anggota Pandawa, Yudistira, Bima dan Arjuna. Putra dewi Kunti ini adalah anugrah dari dewa Surya, setelah ibunya membaca mantra yang diberikan oleh Resi Durwasi. Karna merupakan pendukung utama Kurawa dalam perang Mahabharata. Ia dibuang oleh ibunya disungai kemudian ditemukan oleh seorang kusir yang bernama adirata. Karna mendapatkan kutukan pertama dari gurunya Parasurama, setelah ia merasa ditipu bahwa Karna sebenarnya bukan dari golongan Brahmana melainkan Ksatria, sedangkan Parasurama hanya menerima murid dari kasta Brahmana saja. Bahwa kelak ketika terjadi pertempuran antara hidup dan mati Karna akan lupa dengan segala ilmu yang telah ia pelajari. Kutukan kedua berasal dari seorang Brahmana, dimana Karna menabarak sapinya dengan kereta yang ia kendarai. Kutukannya berbunyi bahwa kelak rodanya akan tenggelam didalam pasir pada saat terjadi perang besar. Nasib Karna berakhir ditangan Arjuna dalam perang Kurusetra, kedua kutukan tersebut memudahkan Arjuna untuk mengalahkan sang Raja Angga Karna.  

Kedua, kutukan Drupadi, selain dengan bersumpah Drupadi juga mengutuk seluruh orang yang bungkam melihat kebejatan dibiarkan terjadi, yang dimaksudnya adalah peristiwa ketika Drupadi dijadikan taruhan dalam permainan dadu, sebab kalah. Maka dari pihak Kurawa dengan menggunakan tangan Dursasana melucuti pakaian yang dikenakan oleh Drupadi. Tetapi hal tersebut tidaklah sampai berhasil dikarenakan basudewa Krisna memberikan pertolongannya. Salah satu perkataan Drupadi sebagai bentuk kejengkelan luar biasa atas para pembungkam,”bahwa bungkamnya orang yang benar dianggap kejahatan terbesar dari ucapan Iblis, ingatlah ini bagi yang merasa pintar Duryudana akan menerima hukumannya atas segala kejahatannya itu, sebelum itu terjadi semua orang yang hadir di istana ini akan dihukum atas kebungkaman kalian, inilah kutukan Drupadi yang lahir dari api”.

 Ketiga, kutukan Raja Panchala kepada Bisma, kejadian ini terjadi dikarenakan sang putra mahkota Astinapura, pangeran Wicitrawirya, didera hukuman oleh Raja Panchala karena suatu kesalahan yang telah dilakukan. Tidak lama berselang kakak tirinya, yaitu Bisma yang Agung datang dengan beberapa serdadu, lantas memporakporandakan lokasi penghukuman itu berlangsung. Merasa malu sang Raja mengucapkan kutukannya, bahwa pada nantinya ada keturunan dari Panchala yang akan menjadi penyebab terbunuhnya Bisma, yang dimaksud adalah Srikandi.         

Keempat, kutukan Gandari kepada Basudewa Krisna, berakhirnya perang di Kurusetra dengan kemenangan dipihak Pandawa, ternyata juga menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi Raja Destrarastra dan Ratu Gandari, seluruh anaknya tewas tidak menyisakan satupun keturunan. Kemarahan Ratu Gandari tidak tertahankan lagi dan kalimat kutukan pun ia lontarkan kepada Basudewa Krisna, alasannya didasarkan kepada Basudewa Krisna membiarkan terjadinya perang, penipuan, kejahatan. Sebagai seorang yang mempunyai anugrah kesaktian mandraguna membiarkan terjadinya tarian kematian di padang Kurusetra. Kutukan itu berbunyi, kelak bangsa Yadawa akan dimusnahkan dan Krisna sendiri akan terbunuh dengan cara dipanah oleh seorang pemburu.

Dari beberapa kutukan yang disebutkan, sebenarnya masih banyak kutukan-kutukan yang lain, dapat dikatakan bahwa kutukan sendiri berarti doa supaya dijauhkannya dari rahmat, sehingga kemalangan akan menimpa. Untuk itu seorang pengutuk adalah seakan-akan orang istimewa, padahal tidak mesti. Tetapi juga suatu harapan jelek kepada orang lain, dan ternyata menemukan kesesuaian dengan takdir, seperti kutukan Raja Panchala kepada Bisma, karena memang ia mati dibunuh oleh Srikandi. Bisma yang Agung sendiri mempunyai keyakinan disana, sehingga dalam medan perang ketika ia berjumpa dengan Srikandi senjatanya ia lepas dan menyerah. Toh, seandainya Bisma melawan, jelas Srikandi bukan apa-apanya. Kesalahan Bisma terlalu percaya.

Mengenai kutukan yang terjadi pada Karna, pertama ia tidak mengingat mantra yang di ajarkan Parasurama, secara psikologi hal tersebut dapat terjadi, sebab dalam diri Karna bergejolak antara melawan atau tidak, sebab dia mengetahui mana pihak yang benar dan salah, sedangkan dirinya ia sendiripun tahu berada dipihak yang salah, kiranya jiwa Karna dipenuhi dengan keragu-raguan maka kemantapan dalam perang berkurang pikiran pun ikut kacau begitu pula ingatannya. Kedua keretanya terjerembab kedalam pasir akibat kutukan seorang Brahmana, kusir dari kereta yang dikendarai Karna adalah Raja Madra, ia mendapat hukuman menjadi kusir oleh Duryudana setelah memperolok Karna, sangat memungkinkan dalam kondisi direndahkan ia begitu marah sehingga kurang berhati-hati sehingga mengakibatkan rodanya masuk kedalam pasir dan sulit untuk diangkat. Sehingga menjadi alasan dari kematian Karna dengan panah yang dilemparkan oleh Arjuna.

Berkaitan dengan kutukan Gandari, Krisna memberikan sebuah definisi yang menarik. Kata-kata dalam kutukan adalah sarana untuk melaksanakan kejadian yang telah ditakdirkan. Jadi kemusnahan bangsa Yadawa, kematian Karna, Bisma, hukuman kepada Aswatama adalah sesuatu yang benar akan terjadi. Seandainya kutukan itu tidak diucapkan oleh seseorang maka akan diucapkan oleh orang yang lain atau seandainya tidak satupun yang mengatakan maka kejadian pasti juga akan terjadi. Semesta hanya tinggal menyiapkan logikanya sehingga masuk akal. Bahkan kutukan Drupadi tidak terjadi secara total, padahal kutukan tersebut diucapkan secara menyeluruh dengan kata “orang yang hadir diistana ini akan dihukum atas kebungkaman kalian”, ternyata Destrarastra, Gandari, Kunti, Widura dan Pandawa tidak terkena imbasnya atas kutukan Drupadi. Bahkan untuk menyatakan dosa berada dipihak Kurawa jelas tidak benar, karena pelucutan baju Drupadi dan berakhir dengan pecahnya perang di Kurusetra juga akibat dari permainan dadu yang dilakukan oleh Yudistira dalam kondisi sadar dan tahu akan akibatnya. Mereka tidak mendapat kutukan.

Dengan begitu untuk menyatakan bahwa kutukan adalah sesuatu yang berdiri sendiri adalah mustahil. Begitu mudah untuk diucapkan tetapi begitu berat untuk diterima. Bisa jadi apabila seseorang mengucapkan kutukannya memang benar takdir sudah disiapkan sesuai bunyi kutukan tetapi terkadang pula tidak begitu sebagaimana kutukan Drupadi.  

Tegalwangi, 05-01-2021

APH

Post a Comment for "Rasionalisasi Kutukan Dalam Cerita Mahabharata"