Cerpen: Lelaki Dibawah Pohon

 

bincang-bincang

Lelaki Dibawah Pohon

Tidak seorangpun warga mengenal nasabnya, ia anak siapa, rumahnya dimana, kerabatnya siapa. Sekarang sepertinya telah berusia diatas enam puluh tahun.  Yang dikenal oleh mereka hanyalah kalau ia biasa duduk bersandar pada batang pohon. Bergantian dari satu batang ke batang lain dari tiap-tiap pohon yang ada dikampung. Oleh karenanya ia dikenal dengan sikapnya duduk sendirian dibawah pohon.

Memang bersandar dibawah pohon terlampau menyenangkan, suasana sejuk, damai, tenang. Apalagi ketika siang. Oksigen diproduksi secara masal. Mungkin bukan itu alasan dari Ponidi duduk dibawah pohon. Iya namanya Ponidi, hanya nama itu yang diketahui orang, selebihnya tidak ada yang diketahui. Karena dirinya tidak punya rumah, maka dibawah pohon menjadi rumahnya. Sekedar hanya untuk hak guna, bukan memiliki pohon. Ia menggunakan seluruh pohon di seluruh penjuru desa yang cukup digunakan untuk menyandarkan punggung ringkihnya.

Jangankan hendak memiliki pohon, buah-buahan yang telah masak dipinggir jalan milik pemerintah, dimana orang-orang berebut untuk memiliki, ia sendiri justru menjauh. Toh, seandainya Ponidi hendak mengambil untuk mengganjal perutnya, maka tak seorangpun yang akan keberatan. Mengingat dirinya hanya sebatang kara, nasibnya tak jelas dari mana dan ke arah mana akan berlabuh. Bahkan KTP pun tidak menemaninya. Kebahagiaan orang modern tidak satu keping pun ia miliki. Yang ia butuhkan hanya pokok bisa menyambung hidup, maka tidak akan ada warga kampung yang iri padanya. Apa nggak kebangetan kalau sampai iri kepada Ponidi yang sebatang kara itu.

Salah satu kelebihannya adalah manakala ia berbicara. Seolah seluruh perkataan dan tema pembahasan yang ia bicarakan selalu waras masuk ke alam pikiran, orang-orang yang mendengarnya akan terhibur minimal, khusus untuk warga kampung yang tahu keseharian Ponidi, sekalipun tidak menyalahkan tetapi tidak ada yang mengamalkan atau mempercayainya penuh. Ia bicara dibiarkannya bicara saja tanpa pedulii apa yang sedang ia garap dalam pembicaraannya itu.

Baru kalau ada warga dari luar kampung atau kota yang bepergian kesana untuk bersilaturrahmi. Seperti familinya Pak Jumadi. Menginap semalam dan pada waktu malam hari, tepatnya ba'da isya' keluar dan ikut gabung dengan warga lain di pos ronda. Kebetulan waktu itu ada Ponidi yang ikut hadir. Mereka berbicara ngalor-ngidul sampai pada bab pembahasan mengenai obat-obatan dengan tangkas Ponidi ikut nimbrung dalam pembicaraan, sekalipun berpenampilan nyeleneh dengan sering berada dibawah pohon, sebab tidak punya rumah, warga tidak ada yang menyela, mengkritik dan meremehkan pendapatnya.

Ia berbicara layaknya dokter yang telah berpengalaman mengutarakan nyaris persis dengan apa yang ada di televisi dan temuan-temuan mutakhir. Gaya penyampaian yang khas, semisal ia membagi bentuk obat dari yang cair, padat dan serbuk dengan seksama dan penuh ketelitian. Mengenalkan nama-nama tumbuhan yang berpengaruh dalam menjaga kesehatan. Pantangan-pantangan yang harus dijauhi. Sampai akhirnya membuat saudara Pak Jumadi terpesona dengan penyampaiannya. Karena penampilan yang nyentrik, akhirnya ia berpikiran aneh-aneh. Barangkali, menurutnya, Ponidi adalah seorang wali yang sedang menyamar agar tidak ada yang tahu. Karena seorang wali adalah mereka yang dekat dengan sang pencipta, ia ingin tahu rahasia kehidupan dengan bertanya kepadanya.

Pak Ahmad namanya, ia bertanya soal penyakit yang menimpa kakaknya dirumah. Setelah seluruh gejala disampaikan sampai habis tak tersisa, Ponidi pun akhirnya menjawab. Masih dengan gaya tuturnya yang sangat meyakinkan, sayangnya Pak Ahmad terlihat menggebu-gebu ingin mendapat jawaban yang pasti-pasti, seolah Ponidi lah yang nantinya akan menyembuhkan. Biasa gelagat orang bingung, telah lupa segalanya, sekalipun dan seandainya Ponidi memang benar wali mastur yang doanya diijabah, maka tidak selayaknya harapan diletakkan pada Ponidi, tetapi keadaan sudah berlalu kalut, sedangkan Ponidi tetap begitu-begitu saja tidak ada suasana dari wajah dan sikapnya dalam bertutur dan akhirnya membuat Pak Ahmad yang terlampau menaruh harapan tampak kecewa.

Ponidi sendiri tidak menginginkan dirinya untuk dipercayai, yang penting pokok bicara apapun dengan segala kemampuan. Keesokan harinya, ia bersandar dibawah pohon lagi untuk yang kesekian kalinya. Apa yang direnungkan ketika orang-orang menganggapnya tidak merenung. Karena memang apa yang jadi bahan renungan, istri, anak, harta tidak dimiliki. Maka beban dengan apapun jenisnya, menurut orang-orang, juga tiada ia miliki. Ponidi adalah contoh manusia terbebas dari seluruh warga desanya. Ia tidak diatur oleh siapapun dan tidak mengatur siapapun. Itulah Ponidi, kejadian semalam pun juga tidak membuatnya jumawa karena mampu menjawab dengan lugasnya juga tidak membuatnya kecil hati karena tergambar diraut wajah Pak Ahmadi ada guratan kekecewaan. Ia tidak menaruh harapan kepada siapapun dan apapun.

Karena sikapnya yang merdeka sampai ia dianggap wali, entahlah. Soalnya kadang-kadang dan secara tiba-tiba ia menghilang beberapa hari. Ada guyonan dari warga manakala tidak melihatnya, bahwa Ponidi sedang pergi ke Mekkah. Tetapi itu sekedar guyonan yang diucapkan saat seluruh pohon di desa tidak ada yang disandari. Ketika musim haji tiba nyatanya tidak seorangpun warga yang sedang berangkat haji bertemu Ponidi disana.

Apakah memang ia benar wali atau bukan, tidak seorangpun yang tahu kecuali ia adalah wali juga. Ponidi sendiri tidak akan pernah menyatakan jati dirinya, apabila esok atau lusa ada yang membongkar identitasnya warga tidak akan seluruhnya percaya, Pak Jumadi saja percayanya karena bingung bukan sebab ada bukti kuat kemudian percaya. Biarkan saja, siapapun Ponidi ia akan dikenal sebagai lelaki yang bersandar dibawah pohon dan yang paling merdeka sepanjang hari.

Tegalwangi, 25 September 2021

APH

Post a Comment for "Cerpen: Lelaki Dibawah Pohon"